Gegara WiFi Dimatikan, Anak Tega Racuni Orang Tuanya

Beritapedoman.com – Seorang pecandu game, Sak Duanjan, nekat berupaya meracuni orang tuanya sendiri, gegara orang tuanya memaksanya untuk berhenti bermain permainan daring dengan cara mematikan WiFi.

Seperti laporan yang dikutip dari laman Mirror dan VIVA, kala itu Sak Duanjan pulang ke rumah dalam keadaan mabuk, dan langsung bermain game mobile dengan volume keras.

Kelakuan Sak Duanjan menyebabkan orang tuanya tidak bisa tidur.

Ayah tiri San Duanjan, Chakri Khamruang, kemudian terbangun dan mematikan WiFi agar anaknya itu tidak lagi mengganggu orang lain di rumah dengan suara game yang Ia mainkan.

Namun, Sak Duanjan malah mengamuk dan menghancurkan dinding rumah.

Ayahnya pun kemudian memukulnya, karena tidak punya pilihan lain untuk menenangkannya dari tindakan agresifnya.

Akhirnya, perkelahian ayah anak itu berakhir dan sang anak yang berusia 29 tahun itu pun memilih tidur.

Tapi ternyata kelakuan Sak Duanjan tidak berhenti di situ saja. Sang ibu, Suban Duanjan, menemukan hal yang tidak terduga, dan menemukan pestisida yang tidak larut dalam persediaan air di rumahnya, saat ingin mengambil air untuk memasak nasi.

Sang ibu pun terguncang dan terkejut, karena tak menyangka putranya itu mencoba membunuh suami dan dirinya.

“Saya melihat anak saya turun ke bawah dan meletakkan sesuatu di toples sekitar jam 02.00 pagi. Saya bertanya apa yang dia lakukan, tapi dia tidak menjawab dan langsung kembali ke kamarnya,” katanya.

Awalnya, Suban Duanjan tidak menaruh curiga dan membiarkan anaknya tersebut, karena Suban tak percaya anaknya akan melakukan hal nekat.

Menurut laporan, orang tua Sak Duanjan juga selalu melakukan berbagai cara untuk mengatasi amarah pemuda tersebut, namun untuk kali ini mereka memutuskan menghubungi pihak berwajib.

Kepada petugas, Sak Duanjan mengaku telah memasukkan racun ke dalam air yang digunakan sebagai kebutuhan keluarga.

Alasannya, Ia marah karena dihentikan bermain game.

Sang ibu pun menyuruh petugas membawanya. “Kami ingin petugas membawanya untuk dirawat di rumah sakit. Kami tidak ingin hidup dalam ketakutan, karena bisa saja dia kembali melakukan hal ini. Dia sering bermain game di ponsel, hal itu mungkin yang membuatnya stres,” ujar ibunya.

Editor : Marwiah Syam

Comment