KPPU Denda Dua Perusahaan di Makassar Sebesar Rp4,7 M

MAKASSAR, BERITAPEDOMAN.com – Komisi Pengawasan Persaingan Usaha (KPPU) Makassar menjatuhkan hukuman denda sebesar Rp4,7 miliar pada dua perusahaan di Makassar.

Hukuman denda tersebut, karena terbukti telah melakukan persekongkolan tender dalam proyek pembangunan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Makassar tahun anggaran 2017.

Ketua Majelis KPPU, Chandra Setiawan, mengungkapkan, hukuman ini dijatuhkan karena telah terbukti secara sah. Kedua perusahaan tersebut, yakni PT Haka Utama sebagai Terlapor 1, dan PT Seven Brother Multisarana sebagai terlapor II.

Adapun perkaranya, karena melanggar Pasal 22 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.

“Oleh karenanya, kami menghukum terlapor I untuk membayar denda sebesar Rp2,8 miliar dan terlapor II didenda sebesar Rp1,9 miliar,” katanya saat sidang putusan di Kanwil VI KPPU Makassar, Gedung Keuangan Negara (GKN) II Lantai 6, Jl Urip Sumoharjo KM 4 Makassar, Selasa (3/9/2019).

Tak hanya denda saja, katanya, KPPU juga memberi sanksi berupa melarang terlapor 1 untuk mengikuti tender dalam lingkup pengadaan Rumah Sakit yang menggunakan dana APBN dan APBD di seluruh Indonesia selama masa dua tahun.

Juga memerintahkan terlapor 1 dan terlapor II untuk melaporkan dan menyerahkan salinan bukti pembayaran dendanya pada KPPU.

Sekedar diketahui, selain terlapor I dan II yang melakukan persekongkolan tender, juga terlapor III, yakni PT Restu Agung Perkasa, dan Kelompok Kerja (Pokja) V Bagian Layanan Pengadaan Barang dan Jasa Sekretariat Daerah Kota Makassar sebagai terlapor IV.

Keempatnya diperkarakan bersama, yakni dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar Pasal 22 UU Nomor 5 Tahun 1999.

Hanya saja, hanya terlapor I dan II yang dihukum denda. Sementara, terlapor III diperintahkan untuk menghentikan praktik peminjaman perusahaan kepada pihak manapun.

“Juga melarang terlapor I, II, dan terlapor III untuk mengikuti pengadaan barang dan jasa secara bersama-sama pada pekerjaan yang sama,” katanya.

Penulis/Editor : Marwiah Syam




Comment