Apa Bedanya El Nino dan Musim Kemarau? Simak Penjelasan BMKG

JAKARTA, BERITAPEDOMAN.com –  Banyak masyarakat yang masih salah kaprah perihal El Nino dan musim kemarau, karena  menganggapnya adalah hal yang sama. Padahal keduanya merupakan fenomena berbeda.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengungkapkan, El Nino dan musim kemarau adalah dua hal berbeda.

El Nino sendiri, adalah fenomena iklim global. Sedangkan musim kemarau adalah siklus tahunan yang terjadi setiap tahun di Indonesia.

Pemahaman yang keliru mengenai kedua istilah ini sering kali membuat masyarakat salah mengantisipasi dampak yang ditimbulkan.

“Perlu diketahui, El Nino merupakan fenomena iklim global yang memengaruhi distribusi curah hujan di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. El Nino juga terjadi secara periodik dan dapat memperkuat kondisi kering ketika berlangsung bersamaan dengan musim kemarau. Sedangkan musim kemarau, adalah siklus tahunan. Jadi El Nino dan musim kemarau adalah dua hal berbeda,” kata Faisal, saat Sosialisasi Kesiapsiagaan Menghadapi Dampak Fenomena El Nino pada Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah yang diselenggarakan Kementerian Dalam Negeri RI di Jakarta, Senin (29/6/2026).

Faisal, juga mengatakan bahwa El Nino adalah sebuah fenomena iklim global yang terjadi secara periodik akibat adanya anomali suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur.

“Ketika suhu permukaan laut di wilayah tersebut meningkat, maka pola sirkulasi atmosfer berubah, yang pada akhirnya memengaruhi distribusi curah hujan di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Jadi fenomena El Nino itu tidak terjadi setiap tahun, melainkan muncul dalam siklus beberapa tahun sekali (periodik),” kata Faisal.

Adapun karakteristik utama dari El Nino di wilayah Indonesia, kata Faisal, adalah berkurangnya pembentukan awan hujan, yang memicu penurunan curah hujan secara drastis di sejumlah wilayah. Sedangkan musim kemarau, merupakan bagian dari pola iklim normal di Indonesia yang dipengaruhi oleh pergerakan angin monsun.

“Alasan utama mengapa masyarakat sering menyamakan kedua fenomena ini adalah karena dampak yang dirasakan serupa, yakni kondisi yang kering dan minimnya hari hujan. Padahal keduanya berbeda,” kata Faisal.

Comment