Unhas – AIC Perkuat Riset Keberlanjutan, Pukul Mundur Krisis Iklim

MAKASSAR, BERITAPEDOMAN.com – Krisis iklim semakin nyata. Dampaknya tak hanya menggerus di semua sektor fondasi, tapi lebih kepada ekosistem, lingkungan dan kesehatan dan keberlangsungan manusia. 

Menyikapi tersebut, Universitas Hasanuddin (Unhas) bersama Australia – Indonesia Centre (AIC), dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), serta Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Indonesia, terus memperkuat kolaborasi riset dalam mendukung keberlanjutan demi memukul krisis iklim.

Rektor Unhas, Jamaluddin Jompa (JJ), mengatakan, riset kolaborasi melalui program Partnership for Australia-Indonesia Research (PAIR) Sulawesi tersebut, diarahkan untuk menghasilkan rekomendasi kebijakan, sekaligus menjawab berbagai tantangan pembangunan berkelanjutan di Kawasan Timur Indonesia.

“Hasil riset tidak semata-mata diukur dari nilai ekonomi saja. Tapi juga memberi dampak perubahan lewat cara berpikir, perilaku, serta memberikan solusi pada persoalan-persoalan masyarakat di masa kini dan ke depannya,” kata JJ, saat Konferensi Pers PAIR Annual Meeting 2026, di Ruang  IDEA 1, Lt 1 Unhas Hotel and Convention, Jl Perintis Kemerdekaan, Selasa (21/7/2026).

Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Indonesia, Fauzan Adziman, mengatakan, program PAIR Sulawesi yang diinisiasi AIC lewat perguruan tinggi di dua negara ini telah dibangun melalui kemitraan yang erat dengan pemerintah daerah sejak tahap penyusunan proposal penelitian.

“Kolaborasi riset ini juga memberikan rekomendasi perencanaan wilayah di Sulawesi, dan juga telah mendukung penyusunan peta jalan kemaritiman, pengembangan sektor perikanan, hingga berbagai kebijakan pembangunan daerah sejak 2019 lalu,” kata Fauzan.

Tak hanya itu, kata Fauzan, riset PAIR Sulawesi juga berfokus pada pengembangan komoditas lokal seperti rumput laut dengan pendekatan ekonomi sirkular, transisi energi menuju kawasan pertambangan hijau, serta optimalisasi pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), khususnya di wilayah kepulauan. Serta juga difokuskan pada pengembangan sistem peringatan dini bencana, riset perubahan iklim dan kesehatan, penguatan tata kelola air tanah di kawasan pesisir, hingga pengembangan pariwisata alam yang inklusif dan ramah bagi penyandang disabilitas.

“Berbekal riset kolaborasi ini, kami optimistis akan mendukung ka arah perbaikan lingkungan, sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat,” kata Fauzan.

Konsulat Jenderal (Konjen) Australia di Makassar, Todd Dias, mengatakan bahwa Pemerintah Australia sangat mendukung pengembangan riset, khususnya terkait iklim dan kesehatan.

“Melalui program tersebut, sekitar 350 mahasiswa telah mendapatkan pelatihan terkait isu perubahan iklim sebagai bagian dari penguatan kapasitas sumber daya manusia di  Indonesia Timur yang diharapkan semakin memperkuat ekosistem riset nasional yang akan memberikan dampak nyata bagi pembangunan berkelanjutan di Kawasan Timur Indonesia,” kata Todd.

Comment