MASAMBA, BERITAPEDOMAN.com – Banjir bandang yang terjadi pada Senin 13 Juli 2020 menyisakan luka tersendiri. Betapa tidak, ditengah situasi negara menghadapi virus corona, bencana yang berhasil merendam dua Kecamatan, yakni Masamba dan Baebunta dengan material lumpur ini juga menjadi cerita tantangan tersendiri, khususnya bagi pekerja Pertamina yang tetap harus memprioritaskan pelayanan walau ditengah bencana sekalipun.
Perannya yang sangat vital, menjadikan dedikasi Pertamina semakin teruji. Bahkan saat jalan penghubung antar Kecamatan tertimbun material lumpur setinggi 1,5 meter kala itu.
Sekedar diketahui, musibah banjir bandang yang terjadi saat itu, juga menyebabkan terputusnya jaringan telekomunikasi hingga menyebabkan penanganan banjir bandang terhambat. Tentuya hal itu juga menjadi kendala besar dalam pendistribusian BBM dan LPG yang merupakan salah satu kebutuhan dasar masyarakat untuk tetap beraktivitas, khususnya di titik-titik pengungsian.
Fuel Terminal Manager Palopo, Bushro Sihabuddin, kepada Beritapedoman.com, mengisahkan, setelah malam kejadian banjir bandang di Masamba waktu itu, paginya HO Elnusa dan korlap langsung menuju lokasi, tetapi sampai siang hari tidak ada laporan masuk dan tidak bisa dihubungi karena tidak ada jaringan.
“Akhirnya, pada siang hari saya berangkat menuju lokasi untuk mencari informasi detail kondisi jalan dan lainnya. Ternyata di jalur utama menuju Kota Masamba tidak bisa dilalui karena jembatan Radda putus, kami pun diarahkan ke jalur alternatif Salulemo, dan ternyata saat berada di jalur ini juga terjadi kemacetan panjang karena ada bis yang terjebak di lubang dan menutup sisi jalan,” katanya melalui telepon pada Beritapedoman.com, beberapa waktu lalu.
Bushro juga mengatakan, karena signal hilang, ditambah kondisi jalan yang terputus sehingga pihaknya belum bisa tembus ke Kota Masamba, akhirnya diputuskan kembali ke Fuel terminal di Palopo.
“Sore harinya, baru kita bisa berkomunikasi dengan korlap yang ada di kota Masamba. Saat itu, jalur utama terputus di dua titik, yakni Radda dan Masjid Agung. Saat itu juga, mulailah korlap berkoordinasi dengan pihak Kepolisian dan dinas terkait mencari jalur-jalur alternatif yang bisa dilalui mobil tangki yang akan mengirim BBM ke Kota masamba dan Kab Luwu timur. Sementara, Tim Elnusa dan Distribusi memantau pergerakan Mobil Tangki, baik dari GPS maupun di lapangan,” katanya.
Rintangan lainnya, kata Bushro, dari hasil koordinasi di lapangan, ternyata mobil tangki yang melalui jalur alternatif Salulemo hanya boleh dilalui dengan kapaistas 16 KL ke bawah. “Sedang untuk kapasitas MT 24 KL tidak bisa lewat karena jalan sempit,” katanya.
Akhirnya, mulai malam itu hingga hari-hari berikutnya, lanjut Bushro, perhatian pendistribusian BBM difokuskan ke wilayah Masamba Luwu Timur dengan MT 16 KL dan 8 KL.
“Beruntung saat itu, kita juga dibantu pihak Kepolisian dan Dishub serta masyarakat untuk memprioritaskan mobil tangki untuk melintas di jalur alternatif tersebut. Tim HO Elnusa juga menginap di Masamba selama 3 malam untuk melaksanakan pengiriman BBM pasca bencana tersebut, kemudian bergantian dengan anggota tim yang lain,” katanya.
Penulis/Redaktur : Marwiah Syam
Comment