Beritapedoman.com – Hampir semua masyarakat Indonesia mengenal Vicky Prasetyo. Sayangnya, Vicky lebih dikenal masyarakat dengan sensasi kehidupan asmara, ketimbang karya sebagai pelaku seni.
Sebut saja sederet nama selebriti yang pernah dikaitkan dengan kisah asmaranya, diantaranya Zaskia Gotik, Angel Lelga, Anggia Chan, bahkan Dina Sabun Colek menjadi wanita yang pernah hadir dalam hubungan asmaranya.
Sayang, beberapa di antaranya merupakan hubungan rekayasa yang dibuat untuk eksis di televisi.
Seperti dilansir dari berbagai sumber, pengakuan Anggia Chan, yang menyebut dirinya mengakhiri kontrak kerja dengan Vicky.
“Kami akhiri kontrak kesepakatan kerja untuk menaikkan nama kami ada di talkshow-talkshow,” ujar Anggia Chan, beberapa waktu lalu.
Melihat fenomena settingan pacaran yang digunakan oleh Vicky Prasetyo bersama pasangannya, Psikolog Tika Bisono menganggap jika mereka mengalami kecenderungan gangguan psikologis.
“Di sosiologi disebut perilaku eksibionistik, yakni kecenderungan untuk memamerkan diri dalam konteks yang pastinya enggak proposional dan ada kepentingan,” jelas Tika saat di temui di kawasan Cilandak, seperti dilansir dari Okezone.com
Tika mencontohkan, pribadi seperti itu selalu ingin diperhatikan dan diakui keberadaanya. Pribadi tersebut, juga tidak memikirkan kualitas.
“Dia enggak mikir kualitas. Itu kan yang mereka lakukan, dibayar hanya untuk sebuah hal yang sebenarnya enggak penting,” katanya.
Meski Tika Bisono menyebut ada kecenderungan terhadap perilaku menyimpang. Tika berharap jika orang-orang di sekeliling Vicky Prasetyo bisa saling mengingatkan.
“Belum ada assesmen sampai akhirnya memastikan jika dia terbukti mengalami hal itu. Karena harus tahu seperti apa pola asuh, bagaimana ia dibesarkan dan latar belakang pendidikan. Tapi, ada baiknya kecenderungan akan perilaku tersebut bisa dihindari dengan seseorang itu diingatkan. Karena apa yang dilakukan adalah tanpa sadar dan kalau tidak cepat diatasi bisa berdampak pada bunuh diri,” jelas Tika.
Alasan mengapa seseorang mengalami gangguan exhibitionism sendiri, katanya, dikarenakan ia merasa kehilangan panggung untuk diperhatikan.
“Dari yang awalnya tidak disorot, kemudian dapat perhatian dan lama-lama hilang, itu dampaknya buruk. Maka harus ada konseling kepada dia untuk membangkitkan kemampuan yang sebenarnya dimiliki, dan bukan sensasi,” pungkas Tika.
Editor : Marwiah Syam
Comment