BERITAPEDOMAN.com – Tren ojek dan taksi online semakin menjamur di Indonesia lantaran layanannya makin menawarkan banyak kemudahan.
Sayangnya, layanan ojek online (ojol) tidak laku di Jepang. Apa yang menyebabkan fenomena tersebut bisa terjadi?

Berikut alasannya seperti diansir dari Infokomputer.com, Selasa (19/11/2019).
Masyarakat Jepang Gemar Berjalan Kaki
Kalau kamu hobi nonton anime atau film Jepang, pasti menyadari bahwa karakter-karakternya sering digambarkan sedang berjalan kaki, entah ke sekolah maupun ke tempat hiburan.
Ini memang merupakan salah satu kebiasaan positif yang dilakukan oleh orang Jepang.
Mereka hanya baru akan menggunakan kendaraan pribadi untuk pergi ke tempat yang cukup jauh.
Ketika hendak menggunakan kendaraan umum, mereka juga berjalan kaki menuju stasiun ataupun halte. Hal itu karena orang Jepang memang terbiasa mendidik anaknya untuk berjalan kaki sejak dini.
Kebiasaan berjalan kaki ini juga bisa dibuktikan dengan sedikitnya orang Jepang yang mengalami obesitas dan mungkin hanya hanya pesumo profesional yang memiliki badan tambun karena tuntutan pekerjaan.
Karena sudah terbiasa berjalan kaki, orang Jepang tidak akan memesan ojek online agar dijemput di depan rumah dan pergi ke tempat yang jaraknya sebenarnya tidak terlalu jauh.
Sepeda Motor Jarang di Jepang
Meskipun jalanan Indonesia dibanjiri oleh sepeda motor asal Jepang, nyatanya di negaranya sendiri sepeda motor sangat jarang terlihat.
Penduduk Jepang lebih gemar menggunakan sepeda untuk berpergian atau malah berjalan kaki.
Kalaupun ada yang menggunakan sepeda motor, bisa dipastikan jumlahnya sangat sedikit.
Ada beberapa alasan mengapa sepeda motor sangat jarang terlihat di Jepang, salah satunya adalah faktor cuaca.
Sebagai negara empat musim, Jepang bisa sangat dingin ketika musim gugur atau musim dingin tiba.
Tentunya dengan kondisi itu, tidak mungkin mengendarai motor sambil melawan hawa yang menusuk.
Selain itu, Jepang juga tidak menyediakan lahan parkir yang cukup untuk memarkir sepeda motor. Belum lagi, orang Jepang terkenal disiplin terhadap peraturan, sehingga mereka tidak mungkin parkir sembarangan.
Jadi, wajar jika di Jepang tidak ada istilah ojek.
Transportasi Umum Melimpah
Selain gemar berjalan kaki atau naik sepeda, masyarakat Jepang juga suka menaiki kendaraan umum yang sangat melimpah di Jepang.
Negeri Sakura ini memang sudah terkenal memiliki banyak sekali transportasi umum canggih yang menghubungakan antara daerah, mulai kereta api, subway, hingga bus.
Salah satu transportasi umum yang paling terkenal adalah Shinkansen. Kereta super cepat ini dibanderol dengan harga yang cukup menguras kantong jika ingin menaikinya.
Dengan melimpahnya transportasi umum dengan rentang harga yang bervariasi, wajar jika penduduk Jepang lebih memilih transportasi umum daripada harus naik transportasi online.
Regulasi yang Menyulitkan
Ibu kota Jepang, Tokyo, membatasi penggunaan Uber sebagai taksi online.
Regulasi-regulasi yang dikeluarkan benar-benar membatasi ruang gerak Uber.
Jika mereka nekat untuk melawan peraturan tersebut, masyarakat Jepang justru akan semakin tidak percaya dengan layanan taksi online ini.
Selain itu, Uber juga gagal menerapkan model bisnis mereka di Jepang karena tidak memahami budaya dan masyarakat Jepang.
Jadi, perusahaan ojek online yang populer di Indonesia seperti Go-Jek ataupun Grab jika ingin melebarkan sayap ke sana, rasanya mereka akan menemui permasalahan yang sama.
Comment