LPS Ajak Generasi Muda Bijak Kelola Keuangan di Era Digital

MAKASSAR, BERITAPEDOMAN.com – Rendahnya tingkat literasi di kalangan generasi muda masih menjadi tantangan di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Kondisi tersebut tidak hanya memengaruhi kemampuan memahami informasi secara kritis, tetapi juga berdampak pada cara generasi muda mengelola keuangan dan mengambil keputusan finansial dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk itu, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) kini semakin hadir di lingkungan akademik untuk mengajak generasi muda bijak dalam mengelola keuangan di era digital. Salah satunya, di Universitas Hasanuddin (Unhas).

Wakil Ketua Dewan Komisioner LPS, Farid Azhar Nasution, mengungkapkan, generasi saat ini sesungguhnya memiliki akses yang sangat luas terhadap berbagai sumber informasi melalui gadget dan internet. Namun, kemudahan tersebut belum sepenuhnya diikuti dengan meningkatnya minat membaca dan kemampuan memahami informasi secara mendalam.

Farid, juga mengungkapkan bahwa rendahnya literasi berpengaruh langsung terhadap perilaku keuangan masyarakat, khususnya generasi muda.

Tak hanya itu, berbagai fenomena sosial seperti fear of missing out (FOMO), you only live once (YOLO), dan fear of other people’s opinion (FOPO) kerap memengaruhi seseorang dalam mengambil keputusan finansial yang kurang rasional.

“Dorongan untuk mengikuti tren, menjaga gengsi, maupun memenuhi gaya hidup tertentu sering kali membuat seseorang mengabaikan kemampuan finansial yang dimilikinya. Akibatnya, berbagai instrumen pembiayaan konsumtif menjadi pilihan instan untuk memenuhi keinginan jangka pendek tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang,” kata Farid, saat menyampaikan kuliah umum di Arsjad Rasjid Lecture Theater Unhas, Jl Perintis Kemerdekaan, Jum’at (12/6/2026).

Sebagai langkah awal membangun kesadaran finansial, Farid mendorong generasi muda untuk membiasakan diri menabung secara rutin di bank. Kebiasaan tersebut dinilai tidak hanya membantu pengelolaan keuangan yang lebih baik, tetapi juga membangun disiplin dan kemampuan merencanakan masa depan secara lebih terarah.

Farid, juga mengingatkan pentingnya menerapkan prinsip “menyisihkan, bukan menyisakan” dalam mengelola pendapatan. Menurutnya, sebagian pendapatan perlu dialokasikan terlebih dahulu untuk tabungan atau kebutuhan jangka panjang sebelum digunakan untuk berbagai pengeluaran lainnya. Selain itu, kemampuan membedakan antara kebutuhan dan keinginan menjadi pondasi penting dalam membangun ketahanan finansial.

“Untuk itu, kami berharap, mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa dapat menjadi agen perubahan yang turut mendorong peningkatan literasi keuangan di masyarakat. Dengan pemahaman yang baik mengenai pengelolaan keuangan, generasi muda diharapkan mampu mengambil keputusan yang lebih bijaksana dan terhindar dari berbagai jebakan finansial yang dapat menghambat masa depan mereka,” kata Farid.

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Unhas, Muhammad Ruslin, menyampaikan apresiasi atas kolaborasi yang terjalin antara kedua institusi.

Menurutnya, kemitraan dengan lembaga strategis nasional seperti LPS menjadi bagian dari upaya Unhas memperkaya pengalaman belajar mahasiswa melalui penguatan literasi, wawasan profesional, dan keterhubungan dengan dunia kerja.

“Kami ingin mendekatkan mahasiswa dengan dunia usaha, dunia industri, dan berbagai mitra strategis agar mereka tidak hanya memperoleh teori di ruang kelas, tetapi pengalaman nyata yang dapat memperkaya kompetensi dan kesiapan mereka menghadapi dunia kerja. Karena itu, kami sangat mengapresiasi dukungan dan kolaborasi LPS dalam memperkuat literasi keuangan di lingkungan Unhas,” kata Ruslin.

Comment