WEF : Kerugian Jasa Ekosistem Laut Akibat Sampah Plastik Capai Rp44.340 Triliun Per Tahun

MAKASSAR, BERITAPEDOMAN.com – World Economic Forum (WEF) memperkirakan kerugian jasa ekosistem laut akibat sampah plastik global mencapai Rp44.340 triliun per tahunnya.

“Kerugian ekosistem laut tersebut, dikarenakan 75-150 juta ton plastik yang berada di lautan dunia, dimana hal itu menggerus sektor perikanan, pariwisata pesisir, produktivitas pertanian, serta kemampuan ekosistem mangrove dalam menyerap karbon,” tulis WEF dalam laporannya, Jumat (19/6/2026).

Tak hanya itu, dalam laporannya, juga disebutkan bahwa sampah plastik di lautan turut menjadi penyebab punahnya spesies hewan dan tumbuhan, hingga ratusan kali lebih banyak dibandingkan faktor lainnya.

WEF juga mencatat bahwa produksi plastik tahunan melonjak dari 2 juta ton menjadi hampir 500 juta ton sejak 1950. Akan tetapi, hanya 10 persen di antaranya berhasil didaur ulang.

Sekedar informasi, dalam setiap tahunnya, dicatatkan 130 juta ton limbah plastik mencemari udara, daratan, dan perairan dunia. Tanpa tindakan mendesak, jumlah tersebut dapat meningkat lebih dari dua kali lipat pada tahun 2040, setara dengan membuang satu truk penuh plastik ke alam setiap detik.

Imbas lainnya, yakni plastik yang terjerat pada karang meningkatkan risiko penyakit dari 4 persen menjadi 89 persen.

Tak itu saja, sampah plastik juga menyebabkan lebih dari 4.000 spesies, mulai dari zooplankton hingga paus, dan mengakibatkan penyumbatan saluran pencernaan dan kematian pada spesies kunci seperti penyu yang merugikan pariwisata pesisir.

“Plastik merusak habitat seperti mencekik akar mangrove, meningkatkan risiko penyakit pada terumbu karang, dan mencemari lokasi peneluran penyu laut. Tak itu saja, pencemaran bahan kimia dari sampah plastik juga mengganggu sistem reproduksi, serta menurunkan kesuburan tanah dan hasil panen,” kata WEF.

Sementara dalam Global Risks Report 2026, disebutkan hilangnya keanekaragaman hayati dan keruntuhan ekosistem menempati posisi kedua sebagai risiko global paling serius dalam satu dekade mendatang.

Comment