MAKASSAR, BERITAPEDOMAN.com – Wacana terkait penghapusan Bahan Bakar Minyak (BBM) Premium masih bergulir hingga saat ini yang belum menemui titik final karena seringnya terundur dengan ragam alasan.
Pro kontra pun turut mewarnai ketika mencuat di tengah-tengah masyarakat, pasalnya ada yang mendukung, namun tak sedikit juga yang menolak.
Yang menolak, pastinya dikarenakan persoalan kantong, dan ketidak tahuannya mengenai apa dampak buruk dari Premium.
Bahkan, banyak beranggapan bahwa dengan dihapuskan Premium yang nyata berdampak buruk pada lingkungan dan kesehatan manusia karena kandungan timbal yang ditimbulkan dari paparan buangan gas dari kendaraan, seolah menyiksa masyarakat karena memaksa beralih ke BBM lainnya yang jauh sedikit lebih mahal. Padahal, anggapan itu justru menjerumuskan ke arah kemunduran, karena jika ditelisik, hanya Indonesia saja sampai saat ini yang masih membiarkan masyarakatnya menggunakan Premium yang nyata memberikan andil besar pada pencemaran lingkungan dan merusak kesehatan manusia, plus merusak komponen mesin kendaraan.
Sementara, negara-negara lainnya justru sudah lama move on dan beralih ke bahan bakar yang lebih berkualitas.
Lantas, kenapa masyarakat masih belum mau berbenah dan tidak mengindahkan apa dampak dari BBM Premium?
Yuk mari telisik apa dan kenapa Premium selayaknya memang sudah dihapus, dan menjadikan alasa krusial mengapa masyarakat harusnya sudah mulai move on dari BBM Premium ke BBM yang lebih berkualitas.
Sekedar diketahui, dari penelusuran dan penelitian yang dirangkum Beritapedoman.com dari fakta-fakta yang dikemukakan dari para ahli di bidang yang berkaitan dengan hal itu, menyebutkan, Premium tidak layak digunakan karena tidak hanya berdampak buruk pada lingkungan, kesehatan manusia, dan mesin kendaraan saja, tapi juga sudah tidak direkomendasikan lagi untuk digunakan.
Bahkan Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) juga telah lama mengharapkan Pemerintah bertindak tegas dan menghapus Bahan Bakar Minyak (BBM) Premium dari peredaran sejak beberapa tahun lalu.
Apalagi hal itu, juga ditunjang dari penelitian yang menunjukkan, bahwa penggunaan bahan bakar beroktan rendah secara jangka panjang, sangat berisiko menimbulkan berbagai macam penyakit mematikan, seperti kanker, paru-paru, asma, bronkitis, jantung, dan penyakit pernafasan jangka panjang lainnya.
Direktur Eksekutif Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB), Ahmad Safrudin, kepada Beritapedoman.com, mengungkapkan, dampak buruk Premium tersebut, tidak hanya pada lingkungan saja. Tapi juga berbagai permasalahan kesehatan yang sangat vital ditimbulkannya.
“Karenanya, Premium harus segera dihapuskan. Apalagi, BBM oktan rendah tersebut, sangat berbahaya untuk kesehatan. Hal ini harus menjadi perhatian serius dari berbagai pihak,” katanya pada Beritapedoman.com, saat dihubungi via telepon, beberapa waktu lalu.
Selain berbahaya untuk kesehatan, katanya, bahan bakar tersebut, juga menjadi sia-sia jika digunakan pada kendaraan, karena selain membuat banyak BBM terbuang sia-sia, juga akan menjadi emisi hidrokarbon, karbon monoksida (CO) dan nitrogen dioksida melalui knalpot.
“Emisi karbon inilah yang memicu kanker dan menimbulkan penyakit mematikan lainnya,” katanya.
Bahkan beberapa tahun lalu, Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan, Imran Agus Nuali, waktu itu juga telah mengungkapkan hal serupa.
Menurutnya, BBM ber oktan rendah tersebut, sangat berbahaya untuk kesehatan dan menimbulkan berbagai macam penyakit.
Bahkan, sangat memicu penyakit asma dalam jangka panjang bagi yang punya risiko asma.
Dalam kaitan itulah, pengurangan atau lebih baiknya penghilangan penggunaan BBM oktan rendah tersebut, sangat positif dilakukan, dimana risiko dari pencemaran lingkungan yang hilirnya berdampak buruk pada kesehatan tersebut, tentu pasti juga akan berkurang.
Apalagi, kebijakan ini juga telah dibuat Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Termasuk diantaranya Peraturan Menteri (Permen) LHK No. 20/Setjen/Kum. 1/3/2017 tentang Baku Mutu Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Tipe Baru Kategori M, N, dan O.
Aturan tersebut, juga mengatur pemberlakuan teknologi Euro-4 di Indonesia.
“Kebijakan tersebut, sangat kita dukung karena berdampak positif pada kesehatan. Kami juga harap pemangku kepentingan lainnya juga lebih memperhatikan hal ini. Apalagi, dampak buruk Premium tidak hanya pada lingkungan saja. Tapi juga berdampak pada kesehatan. Karena itu, BBM oktan rendah tersebut, memang harus dihilangkan,” katanya.
Dukungan penghapusan Premium pun juga datang dari berbagai pihak, salah satunya, Pengamat Lingkungan Sulsel, Asmar.
Menurutnya, sudah saatnya pemerintah bertindak tegas terhadap hal yang berdampak buruk pada lingkungan.
Mempertahankan keberadaan Premium sama saja mengabaikan keberlangsungan manusia dan alam, karena polusi yang ditimbulkan dari Premium ini, tidak hanya berdampak buruk pada kesehatan, juga pada lingkungan.
“Kalau bisa, segera dihapuskan saja dari peredaran, supaya tingkat polusi tidak semakin parah,” katanya kepada Beritapedoman.com, beberapa waktu lalu.
Penulis/Editor : Marwiah Syam
Comment