Gaungkan Pertambangan Berkelanjutan, Eksistensi dan Totalitas ‘Vale’ Wajib Jadi Acuan Bisnis Pertambangan di Indonesia

SOROWAKO, BERITAPEDOMAN.com – Demi menjaga komitmen pada Sustainable Development Goals (SDGs) PT Vale yang sejatinya merupakan salah satu perusahaan multitambang terbesar di dunia terus menunjukkan eksistensinya dan totalitasnya pada pertambangan berkelanjutan selama lebih lima dekade.

Hal tersebut diperkuat dengan melihat secara langsung komitmen Vale saat penulis melakukan peninjauan terhadap praktik pertambangan berkelanjutan yang menjadi prioritas Vale dalam tiap kegiatannya dalam berproduksi hingga saat ini, dimana Vale telah memproduksi nickel matte 75.000 ton pertahun, dan memasok lima persen kebutuhan nikel dunia selama lebih setengah abad ini.

Salah satu pendukung yang fundamental yang sangat menarik, yakni komitmen Vale dalam beroperasi yang disinergikan dengan pelestarian alam, dimana dalam kegiatan penambangan dan pengolahan bijih nikel, Vale melaksanakan praktik-praktik terbaik, didukung penerapan teknologi ramah lingkungan.

Bahkan, Vale terbukti terus berupaya agar tidak menimbulkan dampak negatif, baik di dalam, maupun di luar wilayah operasi.

Untuk mendukung produksi nikel berbasis energi terbarukan selama lebih lima dekade ini, Vale membangun dan mengoperasikan tiga PLTA berkapasitas total 365 Megawatt, dimana penggunaan energi bersih ini sudah dimulai PT Vale sejak awal tahun-tahun beroperasi.

Keberadaan tiga PLTA tersebut, mampu menurunkan ketergantungan Perusahaan terhadap bahan bakar fosil untuk menyuplai energi ke pabrik pengolahan.

Sebagai contoh, satu dari tiga PLTA yang Vale kelola, yakni PLTA Balambano yang dibangun pada 1995 dan mulai beroperasi pada 1999 lalu update terus menyuplai energi yang dibutuhkan untuk kegiatan operasional tambang, pengangkutan material tambang, dan pengolahan di fasilitas pemurnian.

Kebutuhan energi ini juga dipenuhi dari pemakaian bahan bakar dan pasokan listrik dari pembangkit, dimana bahan bakar yang digunakan meliputi High Sulphur Fuel Oil (HSFO) dan High Speed Diesel (HSD) dan juga digunakan untuk operasional alat berat dan kendaraan pengangkut.

Tak hanya itu, PT Vale juga membangun fasilitas penangkap emisi debu (baghouse) dan pengedap debu teknologi listrik statis electrostatic precipitator (ESP).

Sekedar diketahui, emisi utama yang dihasilkan dari proses produksi adalah SO2 (sulfur dioksida). Emisi SO2 ini berpotensi menimbulkan hujan asam dan dihasilkan dari pemakaian HSFO pada tanur pereduksi.

Karena itu, Vale terus berupaya menurunkan kadar SO2 sebagai langkah mengurangi emisi.

Bahkan, Vale telah menyusun rencana dan target untuk meningkatkan stabilitas dan baku mutu emisi SO2 dengan menurunkan intensitas secara masif, yakni dari 0,86 kg SO2/kg Ni menjadi 0,80 kg SO2/kg Ni pada 2019 ini.

Untuk mendukung hal tersebut, Perseroan bersama perwakilan Vale Base Metal di Kanada juga membentuk sebuah panel tim khusus untuk memastikan rencana dan target reduksi SO2 dapat dicapai.

Tim tersebut, bernama SERP (SO2 Emission Reduction Program), dimana dalam tiap triwulannya, tim SERP meninjau kinerja intensitas emisi SO2 dan proyek-proyek di dalamnya.

Upaya lainnya, Vale juga melanjutkan program penggantian HSFO dengan batubara pada tanur pengering.

Penggantian HSFO ini dimaksudkan untuk mendukung pencapaian target penurunan emisi SO2.

Dari hasil pemantauan dan pengukuran yang dilakukan selama 2017 lalu, diketahui emisi rata-rata SO2 adalah 0,75 kg SO2/kg Ni, sehingga telah memenuhi ambang batas sebesar 0,86 SO2/kg Ni seperti diatur dalam Permen LH No. 4 Tahun 2014.

Di sisi lain, Vale juga melakukan pemantauan dan pengukuran kualitas cerobong tungku pengering, tanur pereduksi dan tanur pelebur, dimana dalam pemantauan dan pengukuran dilakukan laboratorium independen terakreditasi, sesuai Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 4/2014 Tentang Baku Mutu Emisi.

Dari hasil pemantauan dan pengukuran selama 2017, diketahui parameter partikulat Perseroan masih memenuhi baku mutu emisi dari kegiatan pengolahan nikel.

Deputi CEO PT Vale, Febriany Eddy, mengungkapkan, sesuai misi perusahaan, pihaknya terus berkomitmen mengubah sumber daya alam menjadi sumber kemakmuran dan pembangunan berkelanjutan.

Untuk itu arti sustainability bagi perusahaan sangat relevan, dimana selama lebih setengah abad beraktivitas dalam menyuplai kebutuhan nikel, selalu beriringan dengan pelestarian lingkungan, dan peningkatan kemakmuran masyarakat.

“Bagi kami, berproduksi nikel tidak cukup dan tidak berarti, jika fungsi hutan terganggu, air tercemar, dan udara tidak bersih, serta tidak memberikan kontribusi nyata pada kemakmuran masyarakat,” katanya saat Simposium SDGs, di Hotel Claro, beberapa waktu lalu.

Untuk mendukung hal tersebut, kata Febriany, PT Vale juga berkomitmen melaksanakan reklamasi yang merupakan bagian dari Rencana Pascatambang (RPT) sesuai Peraturan Pemerintah No. 78 Tahun 2010 Tentang Reklamasi dan Pascatambang.

Kesungguhan PT Vale dalam melaksanakan rehabilitasi lahan tersebut, sudah dimulai sejak pembukaan lahan.

Bahkan, PT Vale menerapkan kebijakan menjaga total luasan lahan tambang terbuka di bawah 1.450 ha.

Rehabilitasi lahan pascatambang juga dilakukan dengan sistem penimbunan atau backfilling, menggunakan lapisan tanah pucuk dan lapisan tanah lainnya dari proses pengupasan lahan.

Tahapan rehabilitasi lahan pascatambang ini juga meliputi penataan atau pembentukan muka lahan dengan standar lereng lahan rehabilitasi, pengembalian lapisan tanah pucuk dan lapisan tanah lainnya, pengendalian erosi, pembangunan drainase, pembangunan jalan untuk proses revegetasi, penghijauan, pemeliharaan tanaman, dan pemantauan keberhasilan.

Pada 2017 saja, luasan lahan yang direhabilitasi adalah 53 ha. Dengan demikian, sampai dengan akhir 2017, luasan lahan direhabilitasi telah mencapai 4.154 ha.

Selain itu, untuk mendukung kegiatan rehabilitasi lahan purnatambang, PT Vale juga mendirikan kebun bibit modern (nursery) seluas 2,5 hektar yang telah beroperasi sejak April 2006, dimana nursery ini juga menjadi sarana pariwisata bagi masyarakat.

Nursery ini sendiri, memproduksi rata-rata 700.000 bibit dan merehabilitasi lebih dari 100 hektar lahan pascatambang per tahunnya.

Menariknya, nursery PT Vale juga memproduksi berbagai jenis tanaman asli setempat (native species) dan tanaman endemik yang merupakan bagian dari konservasi keanekaragaman hayati, diantaranya betao, bitti, nyatoh, dan manggis hutan.

Sedang contoh tanaman endemik, adalah eboni dan buah dengen, dimana bibit tanaman lokal ini diperoleh dari area tambang yang dibuka dan hasil kerja sama dengan masyarakat setempat.

“Benih-benih tanaman lokal yang dikumpulkan pada area yang akan ditambang dibawa ke nursery untuk dikembangkan. Bahkan, sebelum kegiatan penambangan dilakukan, kami memastikan tidak ada spesies fauna, maupun flora dilindungi yang ditemukan di lokasi penambangan,” ungkapnya.

Dalam upaya konservasi biodiversitas, lanjutnya, PT Vale juga telah memiliki rencana pascatambang dan manajemen kaenekaragaman hayati untuk 100 persen wilayah operasi penambangan di blok Sorowako yang merujuk pada Peraturan Menteri ESDM No 7 Tahun 2014 tentang Reklamasi dan Pascatambang.

“Kami berkolaborasi dengan Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD) dalam menyusun Dokumen Panduan Pengelolaan Biodiversiti Berkelanjutan. Dokumen yang dirilis pada 2017 itu menjadi dokumen pertama di bisnis tambang Indonesia untuk kegiatan pelestarian keanekaragaman hayati,” katanya.

Pendukung lainnya, PT Vale juga menggunakan biodiesel sebagai bahan bakar untuk kendaraan bermotor operasional Perusahaan.

Bahkan secara bertahap, Vale terus berupaya meningkatkan konsentrasi bahan bakar nabati (BBN) dalam biodiesel hingga 20 persen sesuai Permen ESDM No. 12/2015 tentang Penyediaan, Pemanfaatan, dan Tata Niaga Bahan Bakar Nabati sebagai Bahan Bakar Lain.

Selain itu, pengendalian emisi sulfur dioksida (SO2) dan partikulat juga dilakukan demi menjaga kualitas udara.

Seiring dengan itu, Vale juga terus memastikan kadar emisi SO2 dan partikulat dari tahun ke tahun berada di bawah baku mutu yang ditetapkan Pemerintah, dan terus berkomitmen mengolah limbah cair hingga memenuhi baku mutu sebelum dialirkan kembali ke badan air, dimana saat ini Vale memiliki dua fasilitas pengolahan limbah cair, yakni Pakalangkai Waste Water Treatment dan Lamella Gravity Settler (LGS).

“Bagi kami, investasi luar biasa dalam bisnis pertambangan, adalah terus mengutamakan pembangunan berkelanjutan. Kunci tersebut juga merupakan rahasia sukses perusahaan kami selama ini,” katanya.

Sementara, Kepala Bidang (Kabid) Mineral Batu Bara (Minerba) Dinas ESDM Sulsel, Bustanuddin, saat dihubungi Beritapedoman.com, via WhatsApp, mengungkapkan, komitmen Vale terhadap pertambangan berkelanjutan selama berproduksi diharap menjadi contoh pada perusahaan pertambangan lainnya.

Dimana saat ini, yang sustainable hanya PT Vale. Di Sulsel sendiri hingga September 2019 ini total dicatatkan 51 IUP logam dan batubara, serta tiga Kontrak Karya dan 530 IUP non logam dan batuan

Juga dicatatkan, selain Vale, juga ada dua IUP komoditas nikel yang berproduksi, yakni PT. Citra Lampia Mandiri dan PT. Prima Utama Lestari, dimana produsen komoditas Nikel tersebut, juga beroperasi di Luwu Timur.

“Namun, yang sustainable dan mengikuti kaidah pertambangan hanya Vale. Mudah-mudahan perusahaan pertambangan nikel lainnya juga mengikuti langkah Vale yang terus mendukung kehidupan berkelanjutan,” katanya.

Penulis/Editor : Marwiah Syam

Comment