BERITAPEDOMAN.com – Sebagai seorang Islam, memahami peristiwa Isra Mi’raj sangat penting. Pasalnya, Isra Mi’raj, tidak hanya sebatas sejarah, tetapi kisah penuh keutamaan dan teladan, dimana dalam kisah itu tertuang perjalanan Nabi besar kita, Muhammad SAW menaiki langit menuju Sidratul Muntaha, yang membuka mata kita akan kebesaran Allah SWT.
Dengan memahami peristiwa ini, kita dapat memperkuat iman kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW. Pun kita semakin termotivasi untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas ibadah. Lantas apa saja keutamaan Isra Mi’raj itu sendiri? Simak berikut ini!
1. Bukti Bahwa Allah SWT Bisa Melakukan Apa Saja Atas Kuasanya
Salah satu keutamaan dari peristiwa Isra Miraj, adalah bukti bahwa Allah SWT mampu melakukan apapun atas kuasanya. Termasuk perjalanan Nabi Muhammad SAW ke Sidratul Muntaha.
Hanya makhluk-makhluk yang dipilih Allah SWT yang bisa menaiki langit paling tinggi. Bahkan malaikat Jibril pun tidak diperkenankan oleh Allah SWT memasukinya.
Perjalanan Isra Miraj ini, juga menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai satu-satunya makhluk yang dapat melihat langsung bagaimana kekuasaan Allah SWT bekerja, seperti tertuang dalam Al-Quran Surat An-Najm, Ayat 13-14, yang dikatakan bahwa, di Sidratul Muntaha, Nabi Muhammad SAW melihat wujud asli Malaikat Jibril.
وَلَقَدْ رَاٰهُ نَزْلَةً اُخْرٰىۙ [13]. عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهٰى [14]
“Sungguh, dia (Nabi Muhammad) benar-benar telah melihatnya (dalam rupa yang asli) pada waktu yang lain, [13], (yaitu ketika) di Sidratul Muntaha”. [14]
Begitu pun, dalam salah satu hadits dijelaskan, bahwa wujud asli malaikat Jibril memiliki 6 sayap yang setiap bulunya terbuat dari butiran yaqut dan permata.
2. Bukti Kenabian Nabi Muhammad SAW
Di peristiwa Isra Mi’raj ini, perintah shalat diturunkan oleh Allah SWT secara langsung kepada Nabi Muhammad SAW, tanpa perantara malaikat. Peristiwa ini juga menjadi bukti bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah SWT.
3. Bukti Adanya Surga dan Neraka
Selain melihat rupa asli malaikat Jibril, keutamaan Isra Miraj lainnya, adalah Nabi Muhammad SAW diperlihatkan secara langsung surga dan neraka, sebagaimana tertulis dalam surat An-Najm, Ayat 15-18.
عِنۡدَهَا جَنَّةُ الۡمَاۡوٰىؕ ١٥ اِذۡ يَغۡشَى السِّدۡرَةَ مَا يَغۡشٰىۙ ١٦ مَا زَاغَ الۡبَصَرُ وَمَا طَغٰى ١٧ لَقَدۡ رَاٰى مِنۡ اٰيٰتِ رَبِّهِ الۡكُبۡرٰى ١٨
“Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratilmuntahā diliputi oleh sesuatu yang meliputinya, penglihatannya (Muhammad) tidak menyimpang dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sungguh, dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kebesaran) Tuhannya yang paling besar”.
Ketika melihat surga, Rasulullah Muhammad SAW disambut dengan senyuman dan kabar bahagia oleh Malaikat Ridwan. Sementara ketika melihat neraka, tidak ada senyuman, maupun kabar bahagia yang diterima Rasulullah Muhammad SAW.
Rasulullah Muhammad SAW, juga bersabda bahwa neraka adalah pemandangan terburuk yang pernah dilihatnya. Apa yang dilihat oleh Rasulullah Muhammad SAW, juga tertuang pada surat Al Kahfi dan Ibrahim.
وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّكُمْۗ فَمَنْ شَاۤءَ فَلْيُؤْمِنْ وَّمَنْ شَاۤءَ فَلْيَكْفُرْۚ اِنَّآ اَعْتَدْنَا لِلظّٰلِمِيْنَ نَارًاۙ اَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَاۗ وَاِنْ يَّسْتَغِيْثُوْا يُغَاثُوْا بِمَاۤءٍ كَالْمُهْلِ يَشْوِى الْوُجُوْهَۗ بِئْسَ الشَّرَابُۗ وَسَاۤءَتْ مُرْتَفَقًا
“Katakanlah (Nabi Muhammad), kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu. Maka, siapa yang menghendaki (beriman), hendaklah dia beriman dan siapa yang menghendaki (kufur), biarlah dia kufur”. “Sesungguhnya Kami telah menyediakan neraka bagi orang-orang zalim yang gejolaknya mengepung mereka. Jika mereka meminta pertolongan (dengan meminta minum), mereka akan diberi air seperti (cairan) besi yang mendidih yang menghanguskan wajah. (Itulah) seburuk-buruk minuman dan tempat istirahat yang paling jelek”. (Al-Kahfi: 29).
مِّنْ وَّرَاۤىِٕهٖ جَهَنَّمُ وَيُسْقٰى مِنْ مَّاۤءٍ صَدِيْدٍۙ ١٦يَّتَجَرَّعُهٗ وَلَا يَكَادُ يُسِيْغُهٗ وَيَأْتِيْهِ الْمَوْتُ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ وَّمَا هُوَ بِمَيِّتٍۗ وَمِنْ وَّرَاۤىِٕهٖ عَذَابٌ غَلِيْظٌ ١٧
“Di hadapannya ada (neraka) Jahanam dan dia akan diberi minuman dengan air nanah”. “Diteguk-teguknya (air nanah itu), dia hampir tidak bisa menelannya, dan datanglah (bahaya) maut kepadanya dari segenap penjuru, tetapi dia tidak kunjung mati dan di hadapannya (masih ada) azab yang berat”. (Ibrahim 16-17)
4. Bukti Kebenaran Islam
Perjalanan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW dan berbagai hal yang ditunjukkan oleh Allah SWT dan malaikat Jibril, menjadi bukti kebenaran Islam dan Islam adalah agama yang benar dan hanya berasal dari Allah SWT. Bahkan wahyu untuk Rasulullah Muhammad SAW diturunkan secara langsung dari Allah SWT dan disebarkan kepada umat Islam lainnya atas perintah Allah SWT.
5. Bukti Kebesaran Allah SWT
Perjalanan Nabi menuju ke Sidratul Muntaha, tidak sesingkat yang diceritakan dalam kisah-kisah Isra Miraj.
Dalam Surat Al-Isra ayat 1 diceritakan bahwa, Allah SWT memperjalankan Nabi Muhammad pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa.
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ ١
“Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat”.
Begitu pun dalam hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, disebutkan bahwa kendaraan yang ditunggangi Rasulullah SAW saat itu adalah Buraq. Kendaraan tersebut didatangkan langsung oleh Allah SWT kepadanya.
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أُتِيتُ بِالْبُرَاقِ، وَهُوَ دَابَّةٌ أَبْيَضُ طَوِيلٌ فَوْقَ الْحِمَارِ، وَدُونَ الْبَغْلِ، يَضَعُ حَافِرَهُ عِنْدَ مُنْتَهَى طَرْفِهِ ، قَالَ: فَرَكِبْتُهُ حَتَّى أَتَيْتُ بَيْتَ الْمَقْدِسِ ، قَالَ: فَرَبَطْتُهُ بِالْحَلْقَةِ الَّتِي يَرْبِطُ بِهِ الْأَنْبِيَاءُ
Dari Anas bin Malik bahwasanya Rasulullah bersabda: “Didatangkan kepadaku Buraq, seekor tunggangan putih, lebih tinggi dari keledai dan lebih rendah dari baghal, ia berupaya meletakkan telapak kakinya di ujung pandangannya. Setelah menungganginya, maka Buraq itu berjalan membawaku hingga sampai ke Baitul Maqdis. Aku ikat (tambat) tunggangan itu di tempat biasanya para Nabi menambatkan tunggangannya (Buraq)”.
Comment