MAKASSAR, BERITAPEDOMAN.com – Tekanan inflasi di Sulawesi Selatan (Sulsel) diprediksi masih akan tetap terjadi. Kondisi tersebut, sejalan dengan prediksi peningkatan permintaan masyarakat pada Ramadan dan jelang Idul Fitri, khususnya terhadap komoditas bahan makanan, pakaian, dan transportasi.
Guna mengantisipasi hal tersebut, Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Selatan telah menyiapkan strategi 4K. 4K tersebut, adalah ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, keterjangkauan harga, dan komunikasi efektif.
Direktur Bank Indonesia (BI) Sulawesi Selatan (Sulsel), M. Firdauz Muttaqin, mengatakan, strategi 4K ini juga dilakukan melalui penyelenggaraan pasar murah bersama Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di tingkat Kabupaten/Kota secara massif dan terjadwal, serta melaksanakan Kerjasama Antar Daerah (KAD) intra Provinsi Sulsel dalam fasilitas distribusi/subsidi ongkos angkut bahan pangan melalui penggunaan Belanja Tak Terduga (BTT) pengendalian inflasi.
“Tak hanya itu, sepanjang 2023 ini, Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Sulsel juga melakukan program peningkatan produktivitas pertanian, penguatan Kerjasama Antar Daerah (KAD), fasilitasi distribusi produsen ke konsumen melalui perluasan kerjasama distributor dengan toko ritel, dan edukasi belanja bijak kepada masyarakat,” katanya, saat Taklimat Media, di Ruang Maraja Hotel Rinra, Jl Metro Tanjung Bunga, Rabu (5/4/2023).
Sekedar informasi, inflasi di Sulsel pada Maret 2023 sebesar 0,75 persen (mtm). Angka ini lebih tinggi dibanding nasional yang hanya mengalami inflasi sebesar 0,18 persen.
“Meskipun tekanan inflasi diprediksi masih akan terjadi pada April 2023, namun akhir tahun 2023 diprakirakan lebih rendah dibandingkan 2022 dan berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 3±1 persen (yoy). Prakiraan tersebut, didukung oleh meningkatnya produksi pangan domestik, melandainya harga komoditas global yang mengurangi imported inflation, serta berbagai langkah dan kebijakan yang diambil oleh TPID Sulsel,” katanya.
Redaktur : Marwiah Syam Butterflyrock
Comment