MAKASSAR, BERITAPEDOMAN.com – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (Sulselbar) menilai kinerja perbankan Sulawesi Selatan (Sulsel) tetap berada dalam kondisi stabil ditengah meningkatnya tensi geopolitik global.
Kepala OJK Sulselbar, Mochamad Muchlasin, mengungkapkan, kinerja perbankan di Sulawesi Selatan menunjukkan kinerja yang stabil. Hal ini tergambar pada indikator Total Aset, Dana Pihak Ketiga dan Kredit yang bahkan tumbuh lebih tinggi pada posisi Januari 2026 jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2025.
“Tak hanya itu, kinerja intermediasi perbankan di Sulawesi Selatan juga dicatatkan tetap terjaga dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) 118,99 persen dan tingkat rasio kredit bermasalah berada di level 3,99 persen,” kata Muchlasin, saat Media Briefing, di Ruang Papua-Learning Centre, Lt 2, Kantor OJK Sulselbar, Jl Sultan Hasanuddin, Senin (9/3/2026).
Adapun Total Aset perbankan, kata Muchlasin, dicatatkan tumbuh sebesar 5,90 persen dengan nominal mencapai Rp212,19 triliun secara year on year (yoy).
Begitu pun dengan Dana Pihak Ketiga (DPK), juga dicatatkan tumbuh 7,83 persen dengan nominal mencapai Rp145,27 triliun secara year on year (yoy).
“DPK di Provinsi Sulawesi Selatan didominasi oleh tabungan dengan share 59,80 persen, disusul Deposito sebesar 24,22 persen dan Giro sebesar 15,99 persen,” kata Muchlasin.
Mengenai penyaluran kredit di Sulawesi Selatan, lanjut Muchlasin, juga dicatatkan tumbuh sebesar 5,56 persen dengan nominal mencapai Rp173,03 triliun secara year on year (yoy).
Dari porsi penyaluran kredit ini, dicatatkan kredit produktif yang paling mendominasi dengan pangsa 52,88 persen, dan menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan kredit melalui akselerasi pertumbuhan dibandingkan beberapa periode sebelumnya. Di sisi lain, juga ada kredit konsumtif yang masih mencatatkan pertumbuhan yang tinggi, yakni sebesar 8,08 persen.
Untuk porsi penyaluran kredit di sektor UMKM terhadap total kredit di Sulawesi Selatan, juga dicatatkan tumbuh sebesar 0,75 persen dengan porsi sebesar 36,32 persen atau mencapai Rp61,58 triliun pada posisi Januari 2026 secara year on year (yoy).
“Kredit UMKM di Sulawesi Selatan ini didominasi oleh usaha mikro dengan share 57,30 persen, disusul usaha kecil 27,72 persen dan usaha menengah 14,98 persen. Secara total, kredit UMKM telah disalurkan kepada 909.544 debitur,” kata Muchlasin.
Adapun kinerja perbankan syariah Sulsel, kata Muchlasin, juga dicatatkan tumbuh positif pada posisi Januari 2026.
Dicatatkan, Total Aset perbankan syariah berhasil tumbuh sebesar 26,19 persen menjadi Rp21,20 triliun, dengan penghimpunan DPK yang juga tumbuh sebesar 23,61 persen menjadi Rp14,69 triliun, serta penyaluran pembiayaan yang juga dicatatkan tumbuh sebesar 25,16 persen menjadi Rp17,92 triliun secara year on year (yoy).
Tak hanya itu, tingkat intermediasi perbankan syariah juga berada pada level 122,00 persen dengan tingkat NPF pada level 1,77 persen.
“Ini menunjukkan kinerja perbankan syariah juga berhasil tumbuh ditengah kecamuk geopolitik global,” kata Muchlasin.
Redaktur : Marwiah Syam Butterflyrock
Fotografer : Muhammad Trisusanto
Comment