Garuda Proyeksi Pendapatan Anjlok 33 Persen

BERITAPEDOMAN.com – PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) memproyeksikan kinerja kuartal I-2020 akan terjadi penurunan pendapatan sebesar 33 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Proyeksi penurunan pendapatan ini sebagai akibat dari penyebaran Covid-19.

Melansir keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), dan Kontan Id, Selasa (28/4/2020) dicatatkan penurunan pendapatan ini disebabkan dua faktor, yakni jumlah penumpang yang anjlok dan harga jual tiket yang lebih rendah dibanding tahun lalu.

Sekedar diketahui saja, pendapatan dari penumpang menyumbang 80 persen dari total pemasukan perusahaan.

“Kondisi market penumpang ini tentunya menekan Perseroan untuk memangkas kapasitas produksi yang dimiliki, tercermin dari frekuensi penerbangan dan ASK (availability seat kilometres) yang menurun,” ujar Manajemen GIAA dalam keterbukaan informasi.

Tak hanya itu, GIAA juga memprediksi kondisi perusahaan akan semakin terpuruk pada Mei-Juni mendatang. Pasalnya, pada periode tersebut biasanya penerbangan padat (high season) karena liburan sekolah dan juga bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri.

“Apalagi beberapa pendapat ahli memperkirakan situasi pandemi (Covid-19) akan berakhir paling cepat pada akhir Mei dan paling lambat pada akhir Juli 2020. Hal ini akan membuat industri penerbangan menjadi semakin terpuruk dikarenakan bulan Mei-Juni seharusnya merupakan high season bagi industri penerbangan dikarenakan adanya Hari Raya Idul Fitri dan juga libur sekolah,” bunyi keterbukaan informasi tersebut.

Tak hanya itu, Garuda juga memprediksi tak akan ada penerbangan haji pada 2020 ini, mengingat otoritas Arab Saudi masih menutup perjalanan Umroh hingga saat ini.

Padahal, pada Januari 2020 lalu, pemerintah sudah menetapkan Guruda Indonesia, bersama dengan tiga maskapai lainnya, yakni Saudi Arabia Airlines, Citilink, dan Flynas sebagai operator penerbangan jamaah haji Indonesia tahun 2020.

Mengacu pada perbandingan laporan keuangan kuartal I-2019, total pendapatan Garuda mencapai US$ 1,099 miliar atau setara dengan Rp16,49 triliun dari periode yang sama pada 2018 yang tercatat US$ 983 juta atau Rp14,75 triliun.

Adapun laba bersih sebesar US$ 20,48 juta atau Rp307 miliar, dari sebelumnya rugi bersih US$ 65,34 juta.

Dan jika terjadi penurunan 33 persen pendapatan, maka estimasi pendapatan GIAA pada tiga bulan pertama tahun ini hany sekitar US$ 736 juta atau setara Rp11 triliun.

Editor : Marwiah Syam

Comment