Ini yang Perlu Diketahui Soal Infeksi Virus Corona Tanpa Gejala

BERITAPEDOMAN.com – penelitian telah dilakukan oleh para ilmuwan di dunia untuk menggali semua informasi tentang virus corona.

Objek kajiannya pun beragam, dari sumber, sifat, cara penyebaran, gejala, hingga vaksin virus corona jenis baru penyebab Covid-19.

Salah satu faktor yang memengaruhi kecepatan penyebaran virus corona, adalah banyaknya pasien yang tak menunjukkan gejala, sehingga mereka tak sadar jika telah membawa virus corona.

Berikut sejumlah hal yang perlu diketahui soal infeksi virus corona tanpa gejala, seperti dilansir dari Kompas.com, Kamis (26/3/2020).

Risiko transmisi

Sejauh ini, infeksi virus corona tanpa gejala telah ditemukan di banyak negara.

Para ahli saat ini juga masih mencoba untuk mencari tahu sejauh mana orang-orang yang terinfeksi dalam kategori ini berkontribusi dalam penyebaran virus.

Seperti dilansir dari laporan SCMP, disebutkan sepertiga dari pasien positif virus corona di China baru menunjukkan gejala setelah dikonfirmasi positif. Sebelumnya, mereka tidak merasakan gejala sama sekali.

Kasus asimptomik atau tanpa gejala ini ditemukan di antara orang-orang yang telah melakukan kontak dekat dengan pasien positif, klaster, dan melalui pelacakan kontak.

Beberapa ahli juga memperingatkan bahwa pasien tanpa gejala dapat membuat rute transmisi baru setelah penguncian diredakan.

“Ini memprihatinkan, mengingat banyak negara belum menerapkan tingkat pengujian komunitas yang cukup luas,” kata Adam Kamradt-Scott, seorang spesialis kesehatan masyarakat di University of Sydney, seperti dilansir dari Reuters.

Tak menunjukkan gejala selama perawatan

Kepala Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Korea Selatan, Jung Eun-Kyeong, mengatakan, sekitar 20 persen dari pasien positif virus corona di Korea Selatan tidak menunjukkan gejala sama sekali selama menjalani perawatan di rumah sakit.

Melansir Bloomberg, Kepala Ahli Epidemiologi Thorolfur Gudnason di Islandia, mengatakan, separuh dari jumlah pasien positif tidak memiliki gejala.

Satu analisis dari wabah kapal pesiar Diamond Princess menunjukkan, 33 dari 104 penumpang yang terinfeksi tetap tanpa gejala bahkan setelah rata-rata 10 hari pengamatan di rumah sakit.

Screening di bandara tak efektif

Yale Scool of Public Health, menyebutkan, keberadaan pasien asimptomik mengindikasikan bahwa screening di bandara dan tempat masuk lainnya tak cukup efektif.

“Gambaran nyata hanya akan terungkap ketika kami memiliki tes serologis untuk mengetahui siapa yang telah terinfeksi,” kata Ian Henderson, Direktur Institute for Molecular Bioscience di Queensland University.

Sejauh ini, screening di bandara masih menjadi andalan utama bagi banyak negara untuk mendeteksi penumpang yang mungkin telah terpapar virus corona.

Bahkan, Singapura kini mulai sadar akan hal itu dan memperketat tes masuk di bandaranya.

Ada pasien dengan paru-paru normal

Seorang perempuan asal Wuhan, China, dengan riwayat perjalanan ke Anyang untuk mengunjungi keluarganya, sempat dinyatakan negatif pada tes awal.

Akan tetapi, pada tes lanjutan hasilnya berubah menjadi positif.

Ia pun kemudian menjalani uji CT Scan untuk mengecek kondisi paru-parunya. Dari uji scan itu, diketahui paru-parunya tetap normal, tak mengalami demam, dan gejala pernapasan.

Metode pengujian tak efektif

Dilansir dari Health, Presiden ACCESS Health International, William Haseltine, mengatakan, metode pengujian virus corona secara umum yang ada saat ini dinilai tidak cukup efektif.

Hal itu didasari atas fakta bahwa penyebaran virus corona tak hanya disebarkan oleh orang bergejala.

Ia pun meminta agar banyak negara mengoptialkan sistem pengujian yang dikenal sebagai contact tracing atau pelacakan kontak.

Menurut William, penting untuk menemukan pasien tersebut lebih awal sebelum mereka sakit.

“Ini bukan tentang berapa banyak tes yang dilakukan di suatu negara, tetapi bagaimana tes itu digunakan,” katanya.


Dengan temuan seperti ini, maka orang yang bergejala dan tanpa gejala memiliki potensi yang sama besarnya dalam penularan virus corona.

Oleh karena itu, Direktur Pusat Penelitian dan Kebijakan Penyakit Menular di University of Minnesota, Amerika Serikat, Michael Osterholm, mengingatkan pemerintah dan pejabat publik untuk terbuka tentang cara penyebaran virus ini.

Masyarakat juga diminta jujur soal riwayat perjalanan dan kontak saat merasakan gejala virus corona. Dengan demikian, bisa dilacak siapa saja yang berpotensi tertular, meskipun belum merasakan gejala terinfeksi.

Comment