Forbes : Pasokan Air Minum Global Terancam Akibat AI 

AS, BERITAPEDOMAN.com – Pasokan air minum dunia kini semakin terancam. Penyebab penyusutannya tidak lagi semata-mata berasal dari kekeringan atau perubahan iklim, tetapi juga dipicu oleh pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI).

Dilansir dari laporan Forbes, Kamis (25/6/2026), disebutkan bahwa kemajuan teknologi kecerdasan buatan AI ternyata membawa konsekuensi yang tidak diharapkan. Salah satu dampak paling terasa adalah percepatan menurunnya cadangan air minum global. Masalah itu terutama dipicu oleh meningkatnya penggunaan air bersih oleh perusahaan teknologi untuk mendinginkan pusat data (data center) yang menjalankan sistem AI berskala besar.

“Pusat data AI membutuhkan sistem pendingin khusus agar suhu server bisa tetap stabil. Sistem pendingin ini didapatkan dari menara pendingin dan mekanisme udara yang memanfaatkan air bersih sebagai bahan utama untuk menguapkan panas,” tulis Forbes.

Dalam laporan itu, juga disebutkan bahwa setiap kilowatt-hour (kWh) energi yang digunakan untuk proses pendinginan server AI, bisa menghabiskan hingga 9 liter air.

Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, dalam Konferensi Air PBB beberapa waktu lalu, mengatakan bahwa air adalah salah satu hak asasi manusia dan menjadi faktor penentu pembangunan bersama untuk membentuk masa depan yang lebih baik.

Namun sayangnya, kata Guteress, di tengah lonjakan teknologi AI, ketersediaan air justru berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan.

Guteress, juga mengatakan bahwa pasokan air saat ini sedang menghadapi masalah yang serius, sebagaimana dirangkum dari Forbes.

Begitu pun dalam Laporan Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa, disebutkan bahwa pada tahun 2027, konsumsi air dari industri AI diproyeksikan bisa mencapai 6,6 miliar meter kubik. Jumlah ini dinilai sangat besar dan berpotensi memperparah kelangkaan pasokan air bersih dunia.

Tak hanya itu, dalam laporan itu juga dicatatkan hampir dua pertiga populasi dunia mengalami kekurangan air yang parah setidaknya selama satu bulan dalam setahun. Bahkan pada tahun 2030, diprediksi akan semakin parah, dengan hampir separuh populasi masyarakat di dunia bakal menghadapi kelangkaan air yang parah.

Dengan adanya perkiraan akan kelangkaan pasokan air bersih di masa depan, PBB mengimbau perusahaan teknologi untuk mempertimbangkan ulang strategi pembangunan AI mereka

Sementara, Microsoft, Google, dan Meta, seperti dilansir dari beberapa sumber, mengklaim bahwa pihaknya tengah berupaya mengurangi dampak lingkungan yang ditimbulkan.

Microsoft, Google, dan Meta, juga bertekad untuk terus menjaga keamanan air dan kelestarian ekosistem yang sehat. Bahkan berjanji untuk menggantinya lewat berbagai proyek ekologi demi mengisi ulang pasokan air di dunia, lebih banyak dari yang mereka konsumsi.

Comment