Tim PKK Sulsel Gandeng UNICEF Bentuk Forum Komunikasi Orangtua Anak Berkebutuhan Khusus

MAKASSAR, BERITAPEDOMAN.com – Tim Penggerak PKK Sulsel menggandeng UNICEF membentuk forum komunikasi untuk mendukung dan memfasilitasi para orangtua Anak Berkubutuhan Khusus (ABK).

Ketua Tim Penggerak PKK Sulsel, Lies F Nurdin, mengungkapkan, pembentukan forum ini ditujukan untuk orangtua yang anak-anaknya berkebutuhan khusus.

“Ini juga sebagai langkah awal untuk menyelesaikan kompleksnya persoalan dalam menangani anak berkebutuhan khusus di Sulsel,” katanya, di Rumah Jabatan (Rujab) Gubernur Sulsel, Kamis (13/2/2020).

Lies juga menyebutkan, forum ini nantinya akan melibatkan pihak yang berkompeten untuk membantu para orangtua mempersiapkan tumbuh kembang buah hati berkebutuhan khusus mereka. Juga sekaligus akan disediakan fasilitas pelatihan bagi guru pendamping secara terus menerus.

“Forum ini akan dibentuk, jadi harus ada beberapa ahli yang masuk, mulai dari psikolog, pemerintah melalui dinas terkait, para orangtua anak, serta pihak lain yang nantinya dapat membantu perkembangan anak-anak ABK,” jelas Lies.

Lies juga mengatakan, saat ini persoalan utama yang harus diselesaikan terkait data ril jumlah anak berkebutuhan khusus di Sulsel.

Untuk itu, Lies akan memanfaatkan Sistem Informasi Manajemen (SIM) PKK yang berada di tiap kabupaten kota untuk melakukan pendataan terkait jumlah anak berkebutuhan khusus yang ada di Sulsel.

“Ada anak-anak yang justru oleh keluarga sendiri malah disembunyikan, karena itu SIM PKK melalui dasawisma PKK yang masing-masing bertanggungjawab kepada 50 Kepala Keluarga bisa melakukan pendataan mengenai anak berkebutuhan khusus yang belum terdata,” terangnya.

Sementara, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Sulsel, Basri, mengatakan, dari data yang dimiliki oleh dinasnya, saat ini terdapat 4.446 jumlah siswa SLB yang tersebar di berbagai tingkat pendidikan formal.

Adapun rinciannya, SDLB terdapat 2.725 siswa, SMPLB terdapat 1.091 siswa, dan SMALB terdapat 690 siswa.

“Namun data ini di luar dari anak-anak yang tidak mendapat pendidikan karena banyak hal,” kata Basri.

Di Sulsel sendiri, kata Basri, saat ini terdapat 23 SLB Negeri dan 59 SLB Swasta yang tersebar di beberapa kabupaten. Sementara, jumlah tenaga pengajar sebanyak 1.238 yang tersebar di seluruh sekolah SLB di Sulsel.

Chief Field UNICEF, Henky Widjaja, menyebutkan, tujuan forum ini sebagai sekolah inklusi dan bentuk intervensi atas sistem pendidikan, tenaga pendidik, siswa hingga masyarakat dalam memperlakukan anak berkebutuhan khusus.

“Tujuan kita membuat sekolah inklusi, yang pertama sebagai intervensi sistem pendidikan agar mampu bisa memberikan layanan pendidikan yang mengakomodasi kebutuhan masing-masing anak, juga intervensi guru, agar guru mampu berubah, dari yang hanya terbiasa menangani anak yang dalam tanda kutip masuk dalam kategori normal, ketika harus menangani anak-anak berkebutuhan khusus mereka harus sudah punya kapasitas. Selain itu, intervensi siswa untuk tidak melakukan bullying, bahkan kalau bisa mereka bisa membantu,” jelas Henky.

Henky juga menuturkan, interaksi anak berkebutuhan khusus bersama lingkungan sosial yang terbuka di masyarakat mampu memanusiakan dan memberi semangat dan perkembangan yang positif bagi anak berkebutuhan khusus.

Tak hanya itu, sekolah inklusi ini juga merupakan bentuk intervensi ke masyarakat, apalagi masyarakat merupakan kunci untuk bisa memperlakukan anak ABK tanpa diskriminasi dan mempersiapkan anak berkebutuhan khusus di usia produktif untuk bisa diterima di dunia kerja.

“Karena itulah kami hadir. Apalagi ini juga tujuan dari pendidikan inklusif yang diadakan oleh UNICEF. Hal ini sangat kompleks, untuk itu kami butuh support dari pemerintah provinsi,” katanya.

Editor : Marwiah Syam

Comment