Pahit Manis Coklat Rembon Pertamina Melegit di Hati Wisatawan Mancanegara

REMBON, BERITAPEDOMAN.com – Siapa sih yang tak mengenal coklat buatan rumah Natsir Eco School di dusun Randanan, Lembang Maroson, Kecamatan Rembon, Tana Toraja.

Coklat buatan rumah yang sudah terkenal ke mancanegara karena nilai rasa lokalnya yang khas yang tersemat saat menyentuh lidah ini, begitu eksotis saat merasai pahit manisnya yang alami tanpa pemanis dan bahan pengawet.

Hal inilah yang membuatnya melegit di hati para wisatawan dari berbagai negara yang datang berkunjung ke Natsir Eco School yang juga memprakarsai coklat rumahan Rembon berkat dukungan CSR Pertamina MOR VII Sulawesi pada 2018 lalu.

Keunikan dari coklat ini sendiri, terletak pada pengelolaannya yang masih manual dan tidak terkontaminasi bahan pengawet.

Bahkan, buah coklat-coklat tersebut dipetik di atas lahan yang tidak pernah terkontaminasi dengan bahan-bahan kimia. Semua asli, dan organik dari alam.

Keunikan lainnya, terletak pada pembuatanya yang tidak menggunakan gula pasir atau pemanis, hanya menggunakan gula merah dari pohon aren yang juga tumbuh di sekitar tanaman coklat tersebut.

Bagi pecinta varian coklat, juga bisa mendapati keunikan lainnya yang tersemat pada buatan coklat rasa pedas, rasa kacang, rasa asin, dan lainnya yang tentu dengan keunikan tersendirinya yang tidak didapati di tempat lain, selain di Rembon.

Coklat buatan rumah tersebut, untuk menikmatinya ternyata butuh kesabaran tinggi, mulai dari proses sangrainya dengan ketepatan panas api dan waktu yang pas sesuai bobot banyaknya biji coklat.

Setelah proses sangrai, biji coklat tersebut, kemudian dikupas kulit luarnya dan kemudian ditumbuk secara manual sampai berjam-jam yang kemudian menghasilkan serbuk halus yang jadi cikal bakal olahan coklat rembon.

Natsir, pendiri coklat buatan Rembon, kepada Jurnalis Beritapedoman.com, saat ditemui disela-sela aktivitasnya di kebun, mengungkapkan, dirinya sangat menyukai coklat. Bahkan, berharap masyarakat sekitar yang memiliki kebun coklat turut memberdayakan sumber daya alam tersebut menjadi penghasilan yang potensial.

Hanya saja, keinginan tersebut terkendala situasi harga biji coklat yang kadang fluktuatif dan kadang harganya mencekik petani coklat menjadikan masyarakat malas bertani coklat lagi dan lebih memilih membiarkan kebunnya atau menjualnya ke pengembang, padahal itu adalah investasi besar.

Melihat kondisi itulah, Natsir tak ingin berdiam diri dan tak ingin keadaan membebaninya.

Dirinya seolah bertemu jodoh saat tim CSR Pertamina menemuinya dan menawarkan bantuan bagaimana mengolah coklat dengan baik dan memasarkannya nanti.

“Berkat Pertamina, kini masyarakat Rembon sudah banyak berminat ikut andil membuat coklat buatan rumah, bahkan banyak warga datang dari luar Rembon ikut belajar membuat coklat,” katanya pada penulis saat dijumpai, Minggu (3/11/2019).

Dikatakan Natsir, kini tercatat ratusan turis sudah datang di Rembon, ikut membuat coklat dan membawa pulang ke negaranya masing-masing sebagai oleh-oleh.

“Sudah tak terhitung wisatawan dari berbagai negara datang kesini ikut buat coklat. Malah, ada yang sudah lima kali kesini,” katanya.

Mengenai harapan kedepannya, lanjut Natsir, mudah-mudahan Pertamina bisa mengadakan mesin penggilingan besar untuk membuat coklat, mengingat peminat coklat buatan rembon ini sudah sangat tinggi.

Bahkan, sudah ada permintaan dari luar negeri, tapi belum bisa diekspor karena proses izinnya masih tahap proses.

“Saya bersyukur. Masyarakat sekitar ikut terberdayakan dengan adanya bantuan Pertamina. Saya dan masyarakat juga sangat terbantu, baik secara pengetahuan dan ekonomi,” katanya.

Community Development PT Pertamina (persero) Terminal BBM Palopo, Firman, mengungkapkan, program pemberdayaan masyarakat ini juga melibatkan dusun lain untuk membuat coklat buatan rumah siap saji.

Selain ditujukan untuk meningkatkan perekonomian desa dan masyarakat, program ini juga menjadi dorongan ke masyarakat untuk tidak menggunakan bahan-bahan kimia dalam pemeliharaan dan pengelolaan coklat untuk mempertahankan nilai rasa dan kualitasnya.

“Apalagi target pasar produk coklat ini adalah wisatawan asing yang datang ke kampung coklat binaan pertamina. Jadi kami betul-betul menjaga khas coklat tersebut,” katanya pada Beritapedoman.com.

Mengenai inovasi program coklat Rembon ini, katanya, dari pihak Pertamina sendiri, memberikan bantuan berupa pelatihan pengolahan coklat, pelatihan membuat wadah (kemasan) coklat yang terbuat dari bambu, pelatihan pemasaran coklat, dan penguatan kelompok pembuat coklat di setiap dusun di Rembon.

“Semua asli dari alam, tanpa limbah plastik, tanpa bahan pengawet dan coklat buatan rembon ini tahan sampai satu tahun,” katanya.

Penulis/Editor : Marwiah Syam

Comment