Beritapedoman.com – Ilmuan menyebut selama satu abad terakhir, manusia menjadi penyebab kerusakan dan ikut andil mempengaruhi kondisi cuaca kompleks di Bumi. Akibatnya, beberapa daerah menjadi semakin kering, sementara daerah lainnya justru lebih basah.
Melalui sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan pada jurnal Nature, para peneliti mengatakan, fenomena ini akan terus berlanjut dengan konsekuensi yang semakin buruk juga untuk manusia.
Untuk mendapatkan hasil studi tersebut, para ilmuwan mendeteksi “jejak” pemanasan global akibat ulah manusia yang memengaruhi pola kekeringan, kelembapan, dan suhu di seluruh dunia sejak 1990 lalu.
Khusus untuk penelitian ini, tim juga menganalisis curah hujan dan kelembapan tanah untuk menentukan perubahan sistemik pada hidroklimat yang sudah berlangsung.
Pemodelan komputer dengan pengamatan jangka panjang terhadap cincin pohon berusia 900 tahun, juga memungkinkan para ilmuwan memperkirakan kelembapan tanah sebelum dan sesudah Revolusi Industri untuk menentukan apakah keduanya berkaitan.
Untuk pertama kalinya, mereka berhasil mengidentifikasi efek jangka panjang persediaan air yang vital bagi tanaman dan perkembangan kota secara global.
“Hal besar yang kami pelajari adalah bahwa perubahan iklim mulai memengaruhi pola kekeringan global pada awal abad ke-20. Kami menduga, pola ini akan terus muncul seiring berlanjutnya perubahan iklim,” kata Benjamin Cook, pemimpin penelitian, seperti dilansir dari Nationalgeographic, Kamis (9/5/2019).
Kemudian secara bersama-sama, para ilmuwan tersebut, memecah studi menjadi tiga periode. Yang pertama, dari 1900 hingga 1949, tanda pemanasan globalnya paling jelas. Pada masa ini, kekeringan tanah terlihat di Australia, Amerika Tengah dan Utara, Eropa, Mediterania, Rusia Barat, dan Asia Tenggara.
Sementara di Tiongkok Barat, Asia Tengah, India, Indonesia, dan Kanada Tengah, kondisinya lebih basah. Prediksi ini diketahui dari hasil pemodelan komputer dan analisis cincin pohon.
Periode selanjutnya, antara 1950 hingga 1975, cuaca sepertinya lebih tidak menentu. Para ilmuwan menemukan fakta bahwa sejumlah besar aerosol industri dilepaskan ke udara pada masa itu dan polusi pun dianggap sebagai “hal biasa”.
Pencemaran udara ini juga memengaruhi pembentukan awan, curah hujan, dan suhu hingga menutupi efek gas rumah kaca.
Kemudian, mulai 1970-an, banyak negara menerapkan undang-undang udara bersih yang ketat yang memungkinkan tingkat aerosol atmosfer turun atau turun.
Namun, emisi gas rumah kaca terus meningkat hingga hari ini, dan menghasilkan peningkatan suhu dan tanda tangan pemanasan global pada hidroklimat yang semakin nyata dalam beberapa tahun terakhir.
Di awal 1970-an ini, juga banyak negara menerapkan “undang-undang udara bersih” yang diharapkan dapat menurunkan jumlah aerosol di atmosfer.
Namun kenyataannya, emisi gas rumah kaca terus meningkat hingga hari ini dan menunjukkan kenaikan suhu dan pemanasan global yang semakin parah.
Menurut para ilmuwan, faktor-faktor gabungan seperti meningkatnya populasi dan semakin banyaknya permintaan air akan menyebabkan kekeringan.
Lebih lanjutnya akan dapat menyebabkan sebagian besar wilayah dunia menjadi gersang secara permanen.
Sementara itu, beberapa daerah lain mungkin justru mendapati lebih banyak curah hujan, naiknya suhu, dan lebih banyak penguapan kelembaban di tanah.
Editor : Marwiah Syam
Comment