Beritapedoman.com – Pertumbuhan ekonomi Sulsel terbilang cukup tinggi tiap tahunnya, bahkan tercatat lebih tinggi dibanding nasional yang hanya mencapai sekitar lima persen.
Hanya saja, pertumbuhan tersebut, tidak diiringi dengan pertumbuhan sektor manufaktur, atau dalam artian industri pengolahannya yang terbilang masih minim atau hanya tercatat 12,86 persen
Kondisi ini juga mengartikan, pertumbuhan konomi Sulsel masih dominan bergantung komoditas, dan orientasinya masih didominasi sektor Primer dan sektor Tersier yang masing-masing andil sebesar 27,41 persen dan 46,03 persen. Sementara, sektor sekundernya masih 26,56 persen.
Pengamat Ekonomi Indonesia, Sunarsip, mengungkapkan, potensi pertumbuhan ekonomi Sulsel kedepannya sendiri, sangat siap, jika dilihat dari kemajuan infrastrukturnya yang diiringi pertumbuhan di berbagai lini.
Hanya saja, industri manufakturnya perlu lebih didorong, karena jika hanya bergantung pada komoditas. Itu sangat rawan, karena harga komoditas rentan terhadap fluktuasi gejolak harga global.
“Kalau harga komoditas jatuh, ya otomatis juga berimbas pada penurunan nilai ekspor. Untuk itu, Pemerintah Sulsel perlu lebih mendorong lagi industri pengolahan kedepannya,” katanya pada Beritapedoman.com, saat Pelatihan dan Gathering Wartawan Sulsel yang diadakan Bank Indonesia Provinsi Sulsel, di Bali, beberapa waktu lalu.
Secara karakteristik mengenai perekonomian Sulsel sendiri, katanya, selain sebagian besar perekonomian Kabupaten/Kota didominasi sektor Primer dan Tersier, juga distribusi dan pertumbuhan PDRB antar Kabupaten terlihat timpang, dimana pangsa dan pertumbuhan tertinggi hanya terjadi di kota Makassar saja.
Untuk kontribusi dari sektor perdagangannya sendiri, relatif terjaga stabil di level 13-14 persen, seiring dengan pertumbuhannya yang terjaga relatif tinggi.
“Yang perlu lebih didorong lagi itu industri manufakturnya,” katanya.
Penulis/Editor : Marwiah Syam
Comment