BI Kawal Wastra Sulsel Jadi Salah Satu Primadona di Industri Kreatif

MAKASSAR, BERITAPEDOMAN.com – Keunggulan dan keindahan kerajinan kain tenun Wastra yang menjadi ciri khas kearifan dan budaya Sulawesi Selatan (Sulsel) tidak diragukan.

Namun, tak dipungkiri tantangan dalam membangun jejaring, pemasaran dan mempromosikannya, hingga dilirik sebagai salah satu primadona di industri kreatif juga sangat berat jika tak mendapatkan dukungan kuat dalam merambah persaingan pasar, khususnya di pasar nasional, dan global, yang dalam istilahnya “Jika Tak Kenal, Maka Tak Sayang”.

Namun berkat andil besar Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) yang terus mendorong potensi budaya lokal “Wastra” sebagai sumber ekonomi baru di industri ekonomi kreatif Sulsel, serta memberikan dukungan dan pengawalan, kini Wastra semakin mendapat tempat di pasar yang kompetitip dan menjadi ciri dan identitas budaya Sulsel.

Kepala Bi Sulsel, Rizki Ernanda Wimanda, mengatakan bahwa Bank Indonesia akan terus berupaya mendorong UMKM berbasis wastra agar berdaya saing hingga ke pasar internasional.

Kontribusi Wastra di Sulsel, kata Rizki, juga sangat potensial, mengingat Sulsel memiliki ragam wastra, fashion, aksesoris, kerajinan, hingga kekayaan budaya daerah yang akan berpotensi menunjang pertumbuhan ekonomi.

Perlu diketahui, kontribusi ekonomi kreatif telah turut berkotribusi sebesar 7 persen secara nasional dan menyerap 18,7 persen tenaga kerja dengan fashion, kuliner, dan kriya sebagai tiga subsektor pendorong utama.

“Untuk itulah, UMKM Wastra Sulsel terus didorong dan dikawal agar makin berdaya saing di pasar nasional, dan mancanegara,” kata Rizki, beberapa waktu lalu.

Rizki, juga mengatakan bahwa Wastra Sulsel telah menjadi salah satu prioritas Bank Indonesia (BI) dalam mendorong penguatan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) agar makin naik kelas melalui program Resilient, World Class, Agile, dan Knowledgable (REWAKO) 2026.

Program ini, kata Rizki, merupakan upaya pengembangan secara end-to-end yang mencakup UMKM REWAKO (umum), UMKM REWAKO Petani, UMKM REWAKO Ekspor, dan Pesantren REWAKO sebagai upaya berkelanjutan dalam mendorong penguatan sektor UMKM dan Pesantren sebagai salah satu pilar pertumbuhan ekonomi daerah dan ekonomi syariah.

“Implementasi program ini, tidak hanya difokuskan pada pelatihan, tetapi juga mencakup proses seleksi, kurasi, pendampingan dan mentoring intensif, hingga monitoring dan evaluasi secara berkelanjutan,” kata Rizki.

UMKM REWAKO sendiri, kata Rizki, telah dilaksanakan sejak tahun 2022 dan terus mengalami pengembangan, serta penguatan setiap tahunnya guna menjawab dinamika kebutuhan UMKM. Kemudian pada tahun 2026, program ini diperkuat melalui beberapa inisiatif strategis, diantaranya yang pertama, adalah sinergi dengan Indonesia Trading House dan House of Bean Indonesia di luar negeri untuk mendorong perluasan akses pasar di luar negeri. Yang kedua, peningkatan linkage UMKM dengan retailer modern agar UMKM dapat masuk ke rantai pasok yang lebih luas di pasar domestik. Dan yang ketiga, adalah perluasan ke sisi syariah melalui Pesantren REWAKO dalam rangka mendorong kemandirian ekonomi pesantren, memperkuat peran pesantren dalam mendukung ketahanan pangan nasional, serta memperkuat linkage dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

“Pada tahun 2026 ini, masing-masing program UMKM REWAKO diikuti oleh 75 peserta yang berasal dari 24 kabupaten/kota di Provinsi Sulawesi Selatan, sehingga secara kumulatif jumlah UMKM binaan dan mitra Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan yang dihasilkan sejak awal program ini telah mencapai 517 UMKM. Sementara itu, program Pesantren REWAKO akan diikuti oleh 30 pesantren,” kata Rizki.

Ke depannya, kata Rizki, BI Provinsi Sulawesi Selatan akan terus memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah, kementerian/lembaga/ pelaku usaha, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya dalam mendorong penguatan sektor UMKM.

“Sinergi tersebut diharapkan mampu mendorong UMKM menjadi lebih produktif, mandiri, tangguh dan berdaya saing, sehingga dapat memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi daerah yang inklusif dan berkelanjutan,” kata Rizki.

Owner Losari Silk, zalah satu UMKM binaan BI Sulsel, Haji Baji, kepada Berita Pedoman, menuturkan bahwa pencapaian Losari Silk hingga mendapat tempat di pasar industri kreatif tak terlepas dari dukungan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan yang selama bertahun-tahun memberikan pendampingan kepada pelaku UMKM.

Sejak menjadi binaan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan pada tahun 2014, kata Haji Baji, Losari Silk dipercaya selalu mewakili Sulawesi Selatan di ajang-ajang pameran produk kreatif.

“Di pameran ini juga menjadi ruang belajar bagi kami pelaku UMKM dalam melihat tren baru dan berinteraksi langsung dengan konsumen dari berbagai kalangan, sekaligus membangun jejaring yang lebih luas,” kata Haji Baji, kepada Berita Pedoman, melalui telepon, Jumat (4/9/2026).

Haji Baji, juga sangat berterimakasih kepada Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Selatan karena berkat pendampingannya, telah membawa Losari Silk tampil dalam pameran bergengsi Karya Kreatif Indonesia (KKI).

“Bagi kami ini adalah suatu kehormatan. Apalagi untuk masuk di pameran ini sangat ketat proses kurasinya. Juga ada indikator penilaian dari sisi penjualan, desain, teknik tenun, perkembangan desain, dampak yang diberikan kepada masyarakat, hingga pada aspek pelestarian budaya. Ini betul-betul pengalaman berharga bagi kami karena menjadikan Wastra, kain tenun Wajo makin terkenal,” kata Haji Baji.

Berita Foto/fotografer : Muhammad Trisusanto
Editor : Redaksi Berita Pedoman

Comment