Distribusi Pupuk Subsidi Tepat Sasaran, Bantu Petani Bangun Swasembada Pangan yang Berkelanjutan di Sulsel

MAKASSAR, BERITAPEDOMAN.com – Keberlanjutan pangan sangat fundamental dalam membersamai stabilitas negara. Perannya  menyangkut di semua lini dan melambangkan kemakmuran suatu negara. Tentunya hal itu, tak akan terwujud jika tak ditunjang dengan dukungan yang sangat besar dari eksistensi Pupuk Indonesia yang memiliki pengaruh sangat besar di para petani.

Sebagai bagian yang sangat penting, tentunya pendistribusian pupuk subsidi tepat sasaran sangat membantu para petani dalam membangun swasembada pangan yang berkelanjutan, khususnya di Sulawesi Selatan (Sulsel) yang memiliki potensi besar swasembada pangan karena ditunjang wilayah agrari yang luas, subur. Apalagi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Selatan (Sulsel) juga menargetkan masuk 5 besar nasional swasembada pangan. Bahkan Pemprov Sulsel menargetkan 6.339.302 ton gabah pada tahun 2025.

“Kita harus masuk 5 besar nasional swasembada pangan. Stakeholder harus makin kuat bersinergi mewujudkan swasembada pangan nasional sesuai perintah bapak Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, agar kita bisa berdaulat pangan. Apalagi tahun 2025 ini, Pemprov Sulsel menargetkan produksi gabah sebesar 6 juta ton lebih. Jauh lebih tinggi dibanding tahun 2024 yang hanya sebesar sebesar 4.792.437 ton,” kata Penjabat (Pj) Gubernur Sulsel, Fadjry Djufry, saat Rapat Koordinasi Pangan, di Aula Balai Pertemuan Hasanuddin Makodam, Kamis (13/2/2025) lalu.

Dengan potensi yang dimiliki Provinsi Sulsel, kata Fadjry, sangat bisa sekali memenuhi kebutuhan pangan, baik di Sulsel, maupun untuk sejumlah provinsi lainnya di Indonesia.

Target itu, tak hanya menjadi angin segar, tapi juga menjadi tantangan Provinsi Sulsel. Namun hal itu bukanlah suatu kemustahilan. Pasalnya, pendistribusian pupuk subsidi di para petani semakin mendapat perhatian tinggi dari pemerintah. Bahkan, diawasi ketat untuk menjaganya selalu tepat sasaran, didukung dengan alakasi yang semakin tinggi dibanding tahun 2024.

Senior Manager Pupuk Indonesia Sulawesi, Maluku, Papua (Sulampua), Sukodim, kepada Berita Pedoman, mengungkapkan, Pupuk Indonesia selalu memastikan pendistribusian pupuk, khususnya pupuk subsidi, baik organik dan non organik, agar tepat sasaran. Salah satunya melalui regulasi yang ditetapkan bahwa hanya petani yang berekonomi ke bawah yang telah terdaftar namanya sesuai kartu tanda pengenal di aplikasi penerima subsidi yang bisa mendapatkan pupuk subsidi di kios pupuk yang merupakan mitra Pupuk Indonesia.

“Jadi penjualan pupuk itu tak sembarangan. Harus sesuai. Apalagi kan zaman digital. Inovasi Ini dilakukan untuk menjaga agar pendistribusian pupuk subsidi selalu tepat sasaran,” kata Sukodim, saat disambangi Berita Pedoman, di Kantor Pupuk Indonesia Sulampua, Jl Pettarani, Selasa (18/2/2025).

Untuk alokasi pupuk di Sulsel, baik organik dan non organik di tahun 2025, kata Sukodim, yakni sebesar 922,370 ton. Alokasi ini naik 11 persen, dibanding alokasi tahun 2024 yang hanya sebesar 834,341  ton.

Alokasi itu terdiri dari pupuk Urea sebesar 424,887 ton, pupuk NPK sebesar 386,741 ton, NPK Kakao sebesar 39,250 ton, dan pupuk organik sebesar 71, 492 ton.

“Alokasi pupuk tahun 2025 ini lebih tinggi dibanding tahun sebelumya, sebagai bentuk dukungan pada swasembada pangan yang kini digalakkan pemerintah,” kata Sukodim,

Untuk alokasi pupuk organik, kata Sukodim, juga sangat tinggi di tahun 2025, yakni 71,492 ton. Alokasi ini naik 392 persen dibanding tahun 2024 yang hanya mencapai 14,538 ton.

“Penambahan pupuk organik ini sangat tinggi di Sulsel. Hal ini sebagai upaya menggenjot produktivitas petani agar semakin tinggi dan menunjang realisasi swasembada pangan yang berkelanjutan. Selain itu, juga membuat tanah makin subur. Ini sangat penting untuk keberlanjutan sektor pertanian dan ketahanan pangan,” kata Sukodim.

Untuk wilayah pendistribusiannya di Sulsel, lanjut Sukodim, difokuskan pada wilayah sentra pertanian, diantaranya Bone dengan alokasi sebesar 152,642 ton, Gowa sebesar 112,924 ton, Luwu Utara dengan alokasi sebesar 62,665 ton, Wajo sebesar 62,453 ton, Luwu sebesar 61,125 ton, dan Sidenreng Rappang sebesar 56,702 ton.

“6 wilayah ini terbesar alokasi pupuknya karena sentra pertanian. Disusul wilayah-wilayah lainnya, sesuai kebutuhan para petani,” kata Sukodim.

Selain memastikan pendistribusian pupuk subsidi tepat sasaran, lanjut Sukodim, Pupuk indonesia juga melakukan berbagai upaya untuk mendukung swasembada pangan yang berkelanjutan, diantaranya melakukan edukasi kepada para petani perihal bagaimana melakukan pemupukan berimbang dengan pupuk organik dalam bentuk sosialisasi, demplot dan kawalan uji tanah gratis.

“Tak hanya itu, Pupuk Indonesia juga menggandeng Dinas Pertanian di tiap daerah untuk melakukan kampanye dan penyuluhan terkait pemupukan yang benar,” kata Sukodim.

Beberapa waktu lalu, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas), Rachmat Pambudy, juga mengungkapkan bahwa ketersediaan stok pupuk sangat penting untuk menjaga produktivitas pangan nasional.

“Karenanya, koordinasi lintas sektor menjadi elemen kunci untuk memenuhi kebutuhan petani dan menghadapi tantangan yang ada pada kondisi lahan pertanian,” kata Rachmat.

Kontribusi PT Pupuk Indonesia dalam Pembangunan Nasional sebagai holding dari sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN), kata Rachmat, Pupuk Indonesia memiliki peran vital dalam mendukung kebijakan strategis pembangunan nasional. Kebijakan tersebut mencakup Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045 dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029.

Sementara, Direktur Utama PT Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, beberapa waktu lalu, juga meminta tim logistik Pupuk Indonesia agar terus menjaga dan meningkatkan kinerja produksi, guna menjamin kualitas pupuk untuk petani.

“Pupuk Indonesia akan terus berkontribusi pada swasembada pangan yang menjadi asta cita  bapak Presiden Indonesia, Prabowo Subianto. Komitmen ini harus terus dijaga,” katanya.

Salah satu petani yang disambangi Berita Pedoman, di daerah Gowa, Ali, mengungkapkan, sangat terbantu dengan pendistribusian yang dilakukan Pupuk Indonesia. Pasalnya, pria ber anak 6 ini tergolong menengah ke bawah, dan sepetak sawah adalah harta terbesarnya.

“Hidup kami sekeluarga bergantung pada pertanian. Nilainya kadang mencukupi, kadang tidak. Tergantung kondisi cuaca. Apalagi musim kemarau. Dengan adanya subsidi tepat sasaran ini. Alhamdulillah, sangat membantu kami. Kami mendapatkan harga sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET). Tidak ada lagi yang bisa memainkan kami dengan harga tinggi,” kata Ali.

Ali, juga berterimakasih pada pemerintah, khususnya pada Pupuk Indonesia karena dengan adanya inovasi digital dan bantuan penyuluhan, sangat membantu para petani.

“Ini sangat membantu kami, petani kecil Indonesia,” kata Ali.

Penulis/Redaktur : Marwiah Syam Butterflyrock

Comment