Menyelami PT Vale, Sustainability, dan Hidup Berkelanjutan Lebih Setengah Abad

MAKASSAR, BERITAPEDOMAN.com – Berbicara mengenai dunia pertambangan, tentu tak bisa lepas dari lingkungan yang menjadi penopang besar keberlangsungan kedepan eksistensinya. Tentunya hal itu, jua tak lepas dari praktik kesehariannya dalam operasional, dimana praktik tersebut itu jualah sebagai atribut keberadaanya.

Menyelami dunia pertambangan yang mengedepankan lingkungan sebagai prioitas keberlanjutan, tentu tak lepas dari praktik PT Vale, sustainability dan hidup yang berkelanjutan yang menjadi tiga serangkai yang tak terpisahkan yang merupakan konsep perpaduan apik yang telah dijalankan PT Vale lebih dari setengah abad.

Sekedar diketahui, sebelum krisis iklim melanda bumi dan menjadi isu gencar yang disuarakan, PT Vale yang sejatinya merupakan salah satu perusahaan multitambang terbesar di dunia yang mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) telah berhasil mendedikasikan yang secara terus menerus menunjukkan eksistensinya dan totalitasnya pada pertambangan berkelanjutan selama lebih lima dekade.

Kemampuan PT Vale dalam mempertahankan eksistensinya, tentu tak lepas dari kekuatan komitmen PT Vale secara langsung terhadap praktik pertambangan berkelanjutan yang menjadi prioritas PT Vale ditiap kegiatannya dalam berproduksi hingga saat ini, dimana PT Vale telah memproduksi nikel matte 75.000 ton per tahunnya dan memasok lima persen kebutuhan nikel dunia selama lebih setengah abad ini.

Upaya mendukung hal tersebut, juga disinergikan dengan terus menggaungkan pelestarian alam sesuai motto perusahaan, dimana dalam kegiatan penambangan dan pengolahan bijih nikel, terus berkomitmen melaksanakan praktik-praktik terbaik, didukung penerapan teknologi ramah lingkungan. Bahkan dari sejak awal beroperasi PT Vale telah membangun smelter dan tidak pernah mengekspor bijih.

Inisiatif lain yang juga telah dilakukan PT Vale dalam mengelola lingkungan, adalah menerapkan Environment Management System (EMS) ISO 14001:2015 dan Sertifikasi ISO 14001:2015. Tujuannya, adalah memperluas cakupan pengelolaan lingkungan yang diintegrasikan dengan proses bisnis strategis perusahaan di masa depan.

Bukti dedikasi lainnya, saat Penulis Berita Pedoman pada 2019 lalu, mengunjungi fasilitas pengolahan air dan sedimentasi yang dikelola PT Vale di areal pertambangan, dimana dari hasil pemantauan operasi, diketahui bahwa kinerja LGS dalam mengolah limbah lebih efektif dibandingkan pengolahan dengan metode kolam pengendapan konvensional (settling pond).

Limbah cair (effluent) yang dihasilkan dari kegiatan operasi penambangan dan pengolahan bijih nikel tersebut, dikelola untuk menekan total padatan tersuspensi (TSS) dan pencemaran logam Kromium (Cr6+).

Ini dilakukan sebagai komitmen PT Vale dalam mengolah limbah cair hingga memenuhi baku mutu sebelum dialirkan kembali ke badan air.

Bahkan, sejak 2013 lalu, PT Vale juga telah menerapkan program Effluent Project, yakni untuk mengolah limbah cair secara terintegrasi dengan mengoperasikan Pakalangkai Waste Water Treatment (WWT). Unit Pakalangkai WWT ini sendiri, dibangun dengan investasi AS$1,9 juta dan terintegrasi dengan 85 kolam pengendapan limbah cair berkapasitas total 15,4 juta meter kubik.

Bahkan, pada 2016 lalu, PT Vale juga telah membangun fasilitas Lamella Gravity Settler (LGS) dengan investasi sebesar AS$3,2 juta. Fasilitas LGS tersebut, terintegrasi dengan 17 kolam pengendapan berkapasitas 16 juta meter kubik. Pembangunan fasilitas ini sendiri, merupakan bentuk kepatuhan atas pemberlakuan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 9 Tahun 2006 Tentang Baku Mutu Air Limbah Bagi Usaha dan/atau Kegiatan Pertambangan Bijih Nikel, dimana dalam proses pembangunan fasilitas LGS pertama untuk industri pertambangan ini dilakukan dengan bekerja sama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Keberadaan Pakalangkai WWT dan LGS ini sendiri, telah mampu mengolah limbah cair, sehingga aman saat dialirkan kembali ke badan air. Fasilitas LGS ini juga meminimalisasi kandungan Kromium Valensi 6 (Cr6+), Chromium Total (Cr Total) dan TSS (Total Suspended Solid) serta kandungan lainnya pada air limbah dari area penambangan PT Vale, hingga ke tingkat di bawah baku mutu lingkungan yang ditetapkan oleh Pemerintah.

Hal itu juga dibuktikan dengan hasil pengukuran kadar TSS dan Cr6+ di Danau Matano dan Danau Mahalona yang selalu berada jauh di bawah baku mutu yang telah ditetapkan pemerintah (TSS 200 ppm, Cr6+ 0,1 ppm), dimana badan air danau terlihat jernih, meskipun PT Vale telah beroperasi selama lebih lima dekade di Sorowako.

Tak hanya itu, PT Vale juga membangun fasilitas penangkap emisi debu (baghouse) dan pengendap debu teknologi listrik statis electrostatic precipitator (ESP). Apalagi, emisi utama yang dihasilkan dari proses produksi, adalah SO2 (sulfur dioksida). Emisi SO2 ini berpotensi menimbulkan hujan asam dan dihasilkan dari pemakaian HSFO pada tanur pereduksi. Hal ini dilakukan PT Vale yang terus berupaya menurunkan kadar SO2 sebagai langkah mengurangi emisi. Bahkan, telah menyusun rencana dan target untuk meningkatkan stabilitas dan baku mutu emisi SO2 dengan menurunkan intensitas secara masif, yakni dari 0,86 kg SO2/kg Ni menjadi 0,80 kg SO2/kg Ni pada 2019 lalu.

Upaya lainnya, PT Vale bersama perwakilan Vale Base Metal di Kanada juga telah membentuk sebuah panel tim khusus untuk memastikan rencana dan target reduksi SO2 dapat dicapai. Tim tersebut bernama SERP (SO2 Emission Reduction Program), dimana setiap triwulannya tim SERP meninjau kinerja intensitas emisi SO2 dan proyek-proyek di dalamnya.

Selain itu, program penggantian HSFO dengan batubara pada tanur pengering juga telah dilakukan PT Vale. Penggantian HSFO ini sendiri, dimaksudkan untuk mendukung pencapaian target penurunan emisi SO2, dimana dari hasil pemantauan dan pengukuran yang dilakukan selama 2017 lalu, diketahui emisi rata-rata SO2 adalah 0,75 kg SO2/kg Ni, sehingga telah memenuhi ambang batas sebesar 0,86 SO2/kg Ni seperti diatur dalam Permen LH No. 4 Tahun 2014. Nilai emisi rata-rata SO2 pada tahun 2017 ini juga lebih tinggi dibanding emisi rata-rata SO2 pada tahun 2016 sebesar 0,72 kg SO2/kg Ni.

CEO PT Vale Indonesia Tbk, Febriani Eddy, beberapa waktu lalu saat acara Simposium Sustainability, di Hotel Claro, mengatakan, selama setengah abad beroperasi di Indonesia, PT Vale terus mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) melalui praktik-praktik penambangan yang baik (good mining practices).

Febriani juga mengatakan bahwa berinvestasi bukanlah pada nilai tambah, melainkan sebuah keharusan. Hal ini sesuai misi perusahaan, yakni mengubah sumber daya alam menjadi kemakmuran dan berkelanjutan.

“Vale selalu percaya bahwa triple bottom line : people, planet, profit, adalah mata rantai yang mustahil diputus. Hal itu karena ada prinsip mendasar dibalik triple bottom line ini, dimana berarti ketika perusahaan mengukur dampak dan punya manajemen pengelolaan dampak lingkungan, ekonomi, dan sosial, maka perusahaan juga akan memiliki tanggungjawab terhadap lingkungan, ekonomi dan sosial,” katanya.

Tak hanya itu, kata Febriani, PT Vale juga terus berupaya tidak menimbulkan dampak negatif, baik di dalam, maupun di luar wilayah operasi.

Bahkan, untuk mendukung produksi nikel berbasis energi terbarukan, PT Vale telah membangun dan mengoperasikan tiga PLTA berkapasitas total 365 Megawatt, dimana penggunaan energi bersih ini sudah dimulai PT Vale sejak awal tahun-tahun beroperasi. Keberadaan tiga PLTA tersebut, juga mampu menurunkan ketergantungan Perusahaan terhadap bahan bakar fosil untuk menyuplai energi ke pabrik pengolahan.

Sebagai contoh, satu dari tiga PLTA yang PT Vale kelola, yakni PLTA Balambano yang dibangun pada tahun 1995 lalu dan mulai beroperasi pada tahun 1999 itu telah menyuplai energi yang dibutuhkan untuk kegiatan operasional tambang, pengangkutan material tambang, dan pengolahan di fasilitas pemurnian.

Kebutuhan energi ini juga dipenuhi dari pemakaian bahan bakar dan pasokan listrik dari pembangkit, dimana bahan bakar yang digunakan meliputi High Sulphur Fuel Oil (HSFO) dan High Speed Diesel (HSD) dan digunakan untuk operasional alat berat dan kendaraan pengangkut.
Tercatat sepanjang lebih lima dekade, PT Vale telah membangun dan mengoperasikan tiga PLTA berkapasitas total 365 Megawatt.

“Penggunaan energi bersih ini sendiri, sudah dimulai PT Vale sejak awal tahun-tahun Perusahaan beroperasi,” katanya.

Tak hanya itu, PT Vale juga membangun fasilitas penangkap emisi debu (baghouse) dan pengendap debu teknologi listrik statis electrostatic precipitator (ESP).
Sekedar diketahui, emisi utama yang dihasilkan dari proses produksi adalah SO2 (sulfur dioksida). Emisi SO2 ini berpotensi menimbulkan hujan asam dan dihasilkan dari pemakaian HSFO pada tanur pereduksi.
Karena itulah, PT Vale berupaya menurunkan kadar SO2 sebagai langkah mengurangi emisi. Bahkan, PT Vale telah menyusun rencana dan target untuk meningkatkan stabilitas dan baku mutu emisi SO2 dengan menurunkan intensitas secara masif, yakni dari 0,86 kg SO2/kg Ni menjadi 0,80 kg SO2/kg Ni pada 2019 lalu.

Untuk mendukung hal tersebut, Perseroan bersama perwakilan Vale Base Metal di Kanada membentuk sebuah panel tim khusus untuk memastikan rencana dan target reduksi SO2 dapat dicapai. Tim tersebut bernama SERP (SO2 Emission Reduction Program), dimana dalam tiap triwulannya, tim SERP meninjau kinerja intensitas emisi SO2 dan proyek-proyek di dalamnya.

Upaya lainnya, PT Vale juga telah melanjutkan program penggantian HSFO dengan batubara pada tanur pengering. Penggantian HSFO ini dimaksudkan untuk mendukung pencapaian target penurunan emisi SO2.

Dari hasil pemantauan dan pengukuran yang dilakukan selama 2017 lalu, diketahui emisi rata-rata SO2 adalah 0,75 kg SO2/kg Ni, sehingga telah memenuhi ambang batas sebesar 0,86 SO2/kg Ni seperti diatur dalam Permen LH No. 4 Tahun 2014.

Tak hanya itu, PT Vale juga melakukan pemantauan dan pengukuran kualitas cerobong tungku pengering, tanur pereduksi dan tanur pelebur, dimana dalam pemantauan dan pengukuran dilakukan laboratorium independen terakreditasi, sesuai Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 4/2014 Tentang Baku Mutu Emisi.

Dari hasil pemantauan dan pengukuran selama 2017 inilah, diketahui parameter partikulat Perseroan masih memenuhi baku mutu emisi dari kegiatan pengolahan nikel.

Febriany Eddy juga mengungkapkan, sesuai misi perusahaan, yakni mengubah sumber daya alam menjadi sumber kemakmuran dan pembangunan berkelanjutan. Untuk itu arti sustainability bagi perusahaan sangat relevan, dimana selama lebih setengah abad beraktivitas dalam menyuplai kebutuhan nikel, selalu beriringan dengan pelestarian lingkungan, dan peningkatan kemakmuran masyarakat.

“Bagi kami, memproduksi nikel tidak cukup jika fungsi hutan terganggu, air tercemar dan udara tidak bersih, serta tidak memberikan kontribusi nyata pada kemakmuran masyarakat,” katanya saat Simposium SDGs, di Hotel Claro, beberapa waktu lalu.

Mengenai reklamasi, kata Febriany, PT Vale juga telah berkomitmen melaksanakan reklamasi yang merupakan bagian dari Rencana Pascatambang (RPT) sesuai Peraturan Pemerintah No. 78 Tahun 2010 Tentang Reklamasi dan Pascatambang.

Kesungguhan PT Vale dalam melaksanakan rehabilitasi lahan tersebut, sudah dimulai sejak pembukaan lahan. Bahkan, PT Vale menerapkan kebijakan menjaga total luasan lahan tambang terbuka di bawah 1.450 ha.

Rehabilitasi lahan pascatambang ini sendiri, dilakukan dengan sistem penimbunan atau backfilling, menggunakan lapisan tanah pucuk dan lapisan tanah lainnya dari proses pengupasan lahan.

Tahapan rehabilitasi lahan pascatambang ini juga meliputi penataan atau pembentukan muka lahan dengan standar lereng lahan rehabilitasi, pengembalian lapisan tanah pucuk dan lapisan tanah lainnya, pengendalian erosi, pembangunan drainase, pembangunan jalan untuk proses revegetasi, penghijauan, pemeliharaan tanaman, dan pemantauan keberhasilan.

Untuk mendukung kegiatan rehabilitasi lahan purnatambang, PT Vale juga telah mendirikan kebun bibit modern (nursery) seluas 2,5 hektar yang telah beroperasi sejak April 2006 lalu, dimana nursery ini juga menjadi sarana pariwisata bagi masyarakat. Nursery ini diketahui memproduksi rata-rata 700.000 bibit dan merehabilitasi lebih 100 hektar lahan pascatambang dalam per tahunnya.

Menariknya, nursery PT Vale ini juga telah memproduksi berbagai jenis tanaman asli setempat (native species) dan tanaman endemik yang merupakan bagian dari konservasi keanekaragaman hayati, diantaranya betao, bitti, nyatoh, dan manggis hutan.

“Benih-benih tanaman lokal yang dikumpulkan pada area yang akan ditambang dibawa ke nursery untuk dikembangkan. Bahkan, sebelum kegiatan penambangan dilakukan, kami memastikan tidak ada spesies fauna, maupun flora yang dilindungi ditemukan di lokasi penambangan,” ungkapnya.

Dalam upaya konservasi biodiversitas, lanjutnya, PT Vale juga telah memiliki rencana pascatambang dan manajemen kaenekaragaman hayati untuk 100 persen wilayah operasi penambangan di blok Sorowako yang merujuk pada Peraturan Menteri ESDM No 7 Tahun 2014 tentang Reklamasi dan Pascatambang.

“Kami berkolaborasi dengan Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD) dalam menyusun Dokumen Panduan Pengelolaan Biodiversiti Berkelanjutan. Dokumen yang dirilis pada 2017 itu menjadi dokumen pertama di bisnis tambang Indonesia untuk kegiatan pelestarian keanekaragaman hayati,” katanya.

Pendukung lainnya, PT Vale juga menggunakan biodiesel sebagai bahan bakar untuk kendaraan bermotor operasional Perusahaan.

Secara bertahap, PT Vale juga terus berupaya meningkatkan konsentrasi bahan bakar nabati (BBN) dalam biodiesel hingga 20 persen sesuai Permen ESDM No. 12/2015 tentang Penyediaan, Pemanfaatan, dan Tata Niaga Bahan Bakar Nabati sebagai Bahan Bakar Lain. Selain itu, pengendalian emisi sulfur dioksida (SO2) dan partikulat juga dilakukan demi menjaga kualitas udara.

Seiring dengan itu, PT Vale juga terus memastikan kadar emisi SO2 dan partikulat dari tahun ke tahun berada di bawah baku mutu yang ditetapkan Pemerintah, dan terus berkomitmen mengolah limbah cair, hingga memenuhi baku mutu sebelum dialirkan kembali ke badan air, dimana saat ini PT Vale memiliki dua fasilitas pengolahan limbah cair, yakni Pakalangkai Waste Water Treatment dan Lamella Gravity Settler (LGS).

“Bagi kami, investasi luar biasa adalah terus mengutamakan pembangunan berkelanjutan. Kunci tersebut juga merupakan rahasia sukses perusahaan kami selama ini,” katanya.

Tak hanya itu, demi dedikasi pada sustainability dan hidup berkelanjutan, PT Vale beberapa waktu lalu dipercaya turut hadir berpartisipasi dalam Conference of the Parties (COP26) dan Pavilliun Indonesia yang dilaksanakan di Glasgow, Skotlandia, pada 31 Oktober hingga 12 November 2021 lalu.

COP26 ini sendiri, merupakan ajang perhelatan perubahan iklim yang mengumpulkan ratusan pemimpin dunia dengan komitmen untuk menetapkan target pengurangan emisi atau dekarbonisasi.
Perhelatan ini juga merupakan terusan dari Paris Agreement atau Perjanjian Paris pada 2015, di mana diketahui setidaknya ada 100 pemimpin dunia juga turut hadir di Glasgow, Skotlandia untuk menentukan langkahnya dalam menyusun target dekarbonisasi.

Sekedar diketahui, pada COP26 ini, PT Vale juga dipercaya menjadi pembicara
dalam forum Business Leadership dengan mengangkat tema ‘Supporting Ambitious Target Achievement on GHG Emision Reduction’.

Dalam pidatonya, Febriani Eddy, menyatakan, sangat penting bagi industri pertambangan untuk bertransformasi guna membangun kepercayaan, tumbuh lebih kuat, dan mencapai hasil yang berkelanjutan.

“Saya ingin menggunakan momen ini untuk menegaskan kembali komitmen PT Vale untuk menjadi industri pertambangan, yang didorong oleh keberlanjutan dan bekerja untuk mencapai target ambisius Net Zero Emission pada tahun 2050 mendatang. Perubahan iklim adalah nyata dan setiap dari kita dapat berkontribusi untuk menciptakan masa depan yang lebih hijau bersama,” ujar Febriani Eddy.

Penulis/Redaktur : Marwiah Syam

Comment