MAKASSAR, BERITAPEDOMAN.com – Terjangan pandemi Covid-19 menjadi kisah tersendiri pada babak drama kehidupan. Selain banyak implikasi yang menaungi ketika wabah melanda negeri yang memporandakan di berbagai sektor, juga menjadi tangis pilu menyayat bagi kaum papah.
Betapa tidak, hidup yang telah sulit menjadi lebih terasa sulit yang hanya bisa berbekal doa agar pandemi segera usai. Tangan pun hanya mampu tengadah mengharap iba pertolongan yang entah dari siapa agar hidup tetap berjalan walau terseok.
Namun, dibalik cerita nelangsa yang diciptakannya, banyak kisah semangat yang jua ditorehkan mengiringi semangat kemanusiaan yang ternyata masih terus hidup di antara kepingan asa, seperti kisah warga pesisir yang banyak tak dihiraukan.
Perjuangan warga pesisir yang hebat menjadi kisah tersendiri buat pelajaran hidup, yang mereka sejatinya telah hidup bersusah payah sedari dulu mengais rejeki masih berdiri tegak memberikan warna semangat bahwa pahit getir dan sulitnya hidup bisa terlewati dengan semangat dan perjuangan seperti kisah para istri nelayan di pesisir Makassar di Kelurahan Pattingalloang, Kecamatan Ujung Tanah.
Warga pesisir yang sejatinya saban dulu telah terbiasa hidup keras karena jerat kemiskinan yang menggorogoti karena kurangnya Sumber Daya Manusia (SDM), dengan lingkungan yang tidak sehat, rawan perjudian, narkoba, miras, kurangnya pendidikan, dan gizi perlahan mampu keluar dari keterpurukan ketika istri-istri nelayan pesisir yang dipelopori Nuraeni, dalam kelompok wanita nelayan yang dinamai Fatimah Az Zahrah yang berdiri sejak 2007 lalu berjodoh dengan program CSR Pertamina 2010 lalu. Sejak itu, buah manis dari perjuangan pun semakin matang, seiring geliat ekonomi yang terus tumbuh berkat pemberdayaan potensi hasil laut di tangan para istri-istri nelayan yang semakin menuai hasil, membuat asa warga pesisir untuk hidup layak menjadi makin nyata. Beragam hasil olahan pun terangkai di tangan survival mereka, mulai untuk teman lauk dan cemilan dengan penjualan merebak di wilayah-wilayah luar Makassar.
Namun tetiba pandemi menghantam pada 2020 lalu. Impian yang telah mulai bersemi, harus terkikis dan meredup. Bahkan, penjualan yang awalnya signifikan ikut terlibas hingga 60 persen, membuat warga pesisir, khususnya para istri nelayan berjibaku dengan ‘Pacce’ lagi.
Telah terbiasa menghadapi susahnya hidup sedari dulu, menjadi benteng kuat penyemangat yang tak ingin ikut tergerus dengan kondisi. Perlahan, pun mereka bangkit lagi, berjuang dan berusaha bagaimana asap dapur bisa tetap mengepul walau hanya sekedar untuk pengisi perut saja.
Pelopor Kelompok Istri Nelayan Warga Pesisir Pattingalloang ‘Fatimah Az Zahrah’, Nuraeni, mengatakan, melalui Program Kemitraan Pertamina inilah, para perempuan nelayan tangguh ini perlahan menjadi harapan besar bagi keluarganya, dan berkat kemitraan itulah, mereka semakin berbenah dan terasah memberdayakan potensi hasil laut, yang akhirnya sedikit demi sedikit merasai nikmat berkecukupan.
Lambat laun, stigma yang melekat pun berubah seiring dengan kehidupan para warga pesisir yang mulai kembali tersentuh pendidikan disertai peningkatan SDM yang merupakan salah satu fasilitas pendukung yang diadakan Pertamina guna pengembangan dan pemberdayaan hasil potensi daerah yang lambat laun semakin membuahkan hasil.
Walaupun hasil olahan laut yang dihasilkan seperti abon ikan, nugget ikan, bakso, bumbu kari, asinan lombok, olahan udang dan lainnya yang dibanderol harga terjangkau ini menurun drastis, tak membuat surut kehidupan di pesisir yang terus hidup berjuang di tengah pandemi.
“Walapun permintaan dan penjualan menurun drastis. Tapi Alhamdulillah, kami tetap produksi walau pun disesuaikan dengan permintaan dan kondisi,” katanya pada Beritapedoman.com, saat disambangi di kediamannya di Barukang, Kelurahan Pattingalloang, Kecamatan Ujung Tanah, beberapa waktu lalu.
Nuraeni kepada Beritapedoman.com, juga mengaku sangat bersyukur dengan dipertemukannya dengan pihak Pertamina yang sangat peduli pada kondisi masyarakat kala itu.
Nuraeni menuturkan, berkat berbagai bantuan yang telah disalurkan Pertamina, mulai pendampingan, bagaimana mengolah hasil laut secara baik, memfasilitasi pengemasan, promosi, hingga pada penjualan membawa banyak manfaat kepada warga pesisir.
“Bahkan saat pandemi pun kami tetap berdaya, mencari alternatif lainnya demi mencukupi kebutuhan dapur kami, walau sedikit jumlahnya tapi Alhamdulillah tetap membuat kami hidup ditengah kondisi sulit saat ini karena pandemi Covid-19. Bahkan di masa normal ini perjuangan kami mulai membuahkan hasil dengan adanya peningkatan penjualan kembali walau hanya 10 persen,” katanya pada Beritapedoman.com.
Penulis/Editor : Marwiah Syam
Comment