MAKASSAR, BERITAPEDOMAN.com – Sebagai bagian masyarakat yang jauh di pelosok Desa dan terpinggirkan dari pelayanan akses dan infrastruktur memadai, tentunya menikmati sebuah dedikasi dan pelayanan andal tentunya menjadi harapan besar dalam menunjang aktivitas keseharian.
Dengan semakin majunya perkembangan zaman, seiring pula kebutuhan makin meningkat akan penunjang hidup yang mengarah pada perbaikan ekonomi masyarakat, yang tentunya hal itu butuh dukungan besar. Contoh kecil, masyarakat kecil yang tinggal di pelosok Desa yang kesehariannya bertani dan menggantungkan hidupnya pada hasil pertanian akan sangat tertolong ketika salah satu penunjang aktivitas ke pasar terpenuhi dengan adanya tersedia Bahan Bakar Minyak (BBM).
Hanya saja seribu sayang, karena akses sulit terjangkau dan berada di pelosok Desa, alhasil masyarakat juga menikmati BBM di tingkat pengecer dengan harga berkali-kali lipat dari harga SPBU. Bahkan dari penelusuran Beritapedoman.com di beberapa wilayah yang memiliki kontur pegunungan dengan akses sangat jauh dari SPBU didapatkan untuk harga Premium saja dalam per liternya mencapai Rp10 ribu ke atas yang dijual di tingkat pengecer atau lebih mahal 30 persen dibanding yang dijual di SPBU, bahkan lebih mahal dari harga BBM berkualitas macam Pertamax yang hanya didapok Rp9.200 per liternya.
Tentunya, kondisi ini menjadi boomerang tersendiri pada masyarakat yang antara ‘mau tak mau’ tetap harus membeli karena menjadi salah satu kebutuhan penting penunjang aktivitas. Di sisi lain, kelewat mahal juga menjadi persoalan gawat dibanding pendapatan hasil pertanian per harinya yang tak seberapa dalam memenuhi kebutuhan hidup.
Melihat persoalan tersebut, langkah dedikasi Pertamina dalam menghadirkan inovasi menjadi kegembiraan besar tersendiri pada masyarakat. Betapa tidak, selain mewujudkan energi satu harga hingga ke pelosok Desa, inovasi macam Pertashop yang kini dihadirkan di beberapa titik di wilayah Sulsel dengan kontur pengunungan dengan akses jauh dari SPBU ini membuat kantong masyarakat juga lebih tertolong, plus menikmati BBM yang jauh lebih berkualitas di bawah harga eceran Premium di tingkat pengecer.
Seperti penuturan beberapa masyarakat setempat yang Beritapedoman.com sambangi beberapa waktu lalu di beberapa Dusun.
Salah satunya, Sandi, warga Dusun Panga’jiang, Desa Parigi, Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa, saat disambangi ketika mengisi BBM, kepada Beritapedoman.com, mengakui sangat senang dengan adanya Pertashop yang dihadirkan. Apalagi, SPBU terdekat berjarak 10 kilometer yang membuat harga BBM sangat mahal di tingkat pengecer.
“Premium yang dijual di tingkat pengecer saja di sini harganya itu 10 ribuan per liternya. Mau ki beli mahal, tidak dibeli yah kita butuh juga. Namun berkat adanya kini Pertashop sangat membantu kami, apalagi BBM yang dijual adalah BBM berkualitas setara harga SPBU. Sangat membantu, apalagi saya telah menjadi konsumen Pertamax sejak 5 tahun lalu karena bagus untuk mesin motor,” katanya pada Beritapedoman.com, Minggu (27/9/2020).
Sementara itu, Adi, Operator Pertashop Desa Parigi, pada Beritapedoman.com ketika disambangi, mengatakan, saban harinya BBM Pertamax yang terjual di Pertashop mencapai 30 liter. Namun jika weekend (Sabtu dan Minggu), penjualan melonjak sampai 70 liter.
Dengan jam operasional mulai jam 6 pagi hingga pukul 10 malam, dengan kapasitas tangki 3 ribu liter yang tersedia, kata Adi, membuat masyarakat kini mulai beralih ke BBM Pertamax dan tak perlu khawatir kekurangan BBM karena akan tersuplai sesuai kebutuhan masyarakat dan mobil tangki pengantar BBM juga akan selalu stay melayani.
“Sangat terbantu sekali, masyarakat juga tak perlu susah lagi jauh-jauh ke SPBU dan tak perlu membeli BBM botolan di pengecer,” katanya.
Hal senada juga diutarakan Operator Pertashop Dusun Sapabalang, Desa Taring, Kecamatan Biringbulu, Kabupaten Gowa, Arius, kepada Beritapedoman.com, mengatakan, sejak Pertashop dihadirkan oleh Pertamina, animo masyarakat terhadap BBM berkualitas semakin tinggi. Dalam saban harinya saja, BBM terjual 100 liter dan 120 liter jika hari Sabtu dan Minggu.
“Ini sangat mendukung aktivitas masyarakat Desa. Selain terjangkau, masyarakat tak perlu lagi membeli BBM botolan dengan harga mahal. Apalagi jarak tempuh ke SPBU terdekat sangat jauh yakni 20 kilometer,” katanya.
Sementara itu, Unit Manager Communication and CSR MOR VII, Laode Syarifuddin Mursali, saat dihubungi Beritapedoman.com, via telepon beberapa waktu lalu, menuturkan, Pertashop ini dihadirkan untuk menjangkau di wilayah pedesaan yang belum tercover SPBU karena akses pendistribusian BBM yang sangat susah.
“Ke depannya kita akan sasar wilayah-wilayah lainnya, seperti Seko, Luwu Utara, juga di beberapa titik lainnya di Sulsel. Hanya saja saat ini, kita masih dalam tahap survei. Kita terus berupaya agar masyarakat pelosok tidak lagi sulit menikmati BBM, sekaligus terlayani BBM berkualitas dengan harga terjangkau. Apalagi, Pertashop ini lahir untuk melayani kebutuhan konsumen BBM dan LPG, terutama bagi mereka yang berada di remote area,” tuturnya.
Selain hadir di beberapa titik di wilayah Desa di Gowa, juga hadir di wilayah Jeneponto, Soppeng, Tana Toraja hingga Luwu Utara yang reratanya jarak tempuh puluhan kilometer dari SPBU terdekat. Total saat ini sebanyak 12 Pertashop di Sulsel.
“Kami berharap dengan adanya Pertashop ini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi Desa lebih cepat lagi dan dapat lebih meningkatkan lagi taraf hidup masyarakat pelosok,” katanya.
Penulis/Redaktur : Marwiah Syam
Comment