Ini Penyebab Kasus Perundungan Sering Terjadi

MAKASSAR, BERITAPEDOMAN.com – Kasus perundungan atau bully yang sering terjadi menjadi momok tersendiri. Bahkan, kasus perundungan seolah-olah menjadi hal biasa bagi sebagian orang.

Karena sebagian dari kita menganggap hal itu adalah hal biasa, sehingga kasus perundungan yang terjadi kadang menjadi seolah gunung es, yang perlahan dimakan waktu dan terlupakan.

Padahal, dari segi psikologi kejiwaan, orang yang kerap mendapat perundungan akan sangat mempengaruhi mental dan kejiwaan korban, dan jika tak ada tindakan secara serius menangani hal ini, bisa berimplikasi pada korban perundungan.

Lantas apa sih penyebabnya kenapa perlindungan sering terjadi? Yuk simak yuk apa kata Aktivis Pemerhati Anak, Rusdin Tompo saat dihubungi Beritapedoman.com, Kamis (21/5/2020).

Rusdin mengatakan, perundungan terjadi karena adanya orang yang merasa lebih kuat, lebih hebat, lebih memiliki sesuatu yang mau diperlihatkan.

Karena bermental buruk, pelaku melakukan tindakan perundungan untuk mendapat pengakuan. Selain bermental buruk, egonya juga kuat, dan kurang berempati pada nilai kemanusiaan.

“Alias kurang punya rasa pacce, alias senang melihat orang susah dan tidak senang melihat orang bahagia, kalau dalam istilah kita orang Sulsel. Karena sifat buruk itulah, sehingga perundungan terjadi,” katanya.

Perundungan itu sendiri, kata Rusdin, tidak akan terjadi kalau tidak ada yang turut serta terlibat. Jadi, ada tiga pihak dalam kasus-kasus perundungan yang berkontribusi terhadap terjadinya perundungan.

“Ada pelaku, ada yang ikut mengompori atau mensupport supaya hal itu dilakukan, serta adanya orang yang melakukan pembiaran, sehingga kasus bully pun terjadi, seperti dalam kasus yang sekarang viral yang terjadi di Pangkep yang kita lihat pelaku bukan cuma satu orang, tapi ada beberapa yang turut andil,” katanya.

Rusdin juga berharap, perhatian yang diterima korban bully bukan hanya sesaat, yakni bukan karena viral sehingga semua memperhatian, apalagi masih banyak kasus-kasus lainnya yang tidak tertangani dan tidak mendapat perhatian.

“Banyak kasus perundungan terjadi, tapi lantaran tidak viral, ya tidak dipublikasi alias tidak mendapat perhatian,” katanya.

Rusdin juga meminta adanya pendidikan karakter dibangun dalam pendidikan di rumah dan di sekolah, agar anak-anak menghargai hak-hak anak lain, menghargai kemanusiaan, menghargai keberagaman sebagai bagian dari solidaritas sosial.

Apalagi, anak-anak juga perlu ditanamkan dan diajak untuk berempati pada orang yang kurang beruntung secara ekonomi, baik pada kelompok minoritas atau orang berkebutuhan khusus.

“Kita juga perlu memperkuat layanan-layanan publik yang terintegrasi sebagai bagian dari sistem rujukan, manakala ada kasus yang muncul. Misalnya, kalau ada kejadian di komunitas, apa yang bisa dilakukan keluarga, RT/RW, puskesmas/dokter/psikolog dll. Begitu juga kalau kejadian di sekolah, perlu dibuatkan prosedur dan skema penanganannya. Cara-cara ini bekerja tidak hanya dalam rangka tindakan penanganan, tapi sejak pencegahan harus dilakukan, supaya kasus-kasus perundungan tidak berulang dan tidak ada lagi anak yang menjadi korban perundungan,” katanya.

Rusdin juga berharap pada pemerintah untuk lebih serius dalam memutus mata rantainya. Caranya, bisa bertahap secara gradual dan per sektor, bidang atau isu.

“Misalnya, kita mau hentikan atau kurangi perundungan di komunitas tempat tinggal, maka itu dilakukan secara partisipatif dengan stakeholder setempat. Begitupun kalau mau dihilangkan perundungan di sekolah, pesantren, TPA dan lainnya, juga dibangun sistemnya secara partisipatif. Bisa dibuat regulasi dan kebijakannya pada level Pemda dalam bentuk Perda agar kasus perundungan tidak lagi terjadi,” katanya.

Penulis/Editor : Marwiah Syam

Comment