Gletser Puncak Jayawijaya Terancam Hilang, Ini Sebabnya

BERITAPEDOMAN.com – Puncak Jayawijaya atau Puncak Jaya, Papua, menjadi daya tarik tersendiri, selain karena dilapisi salju abadi dan berada di daerah tropis, juga menjadi satu-satunya puncak yang masih memiliki gletser.

Namun seiring waktu dikarenakan pemanasan global, gletser puncak Jayawijaya akan menghilang.

Peneliti dari Balai Arkeologi Papua, Hari Suroto, mengatakan, puncak Jaya adalah satu-satunya yang masih memiliki gletser dan terancam hilang akibat pemanasan global.

Hari juga menerangkan mengapa hingga sampai saat ini puncak yang banyak peta dunia menjulukinya Carstensz atau Carstensz Top itu masih memiliki gletser.

“Itu dikarenakan puncak Jaya berada di tempat paling tinggi di Papua dan Papua Nugini, dimana temperatur udaranya sangat rendah dan mendekati titik beku,” ujarnya seperti dilansir dari Tempo.co, Selasa (10/3/2020).

Dikatakan Hari, sebenarnya, bukan hanya puncak Jaya saja yang memiliki salju, tapi juga gunung lain di Papua yang konon dulu puncaknya diselimuti salju, tapi hilang karena pemanasan global.

Kini, salju di puncak Jaya juga akan terancam hilang menyusul gunung-gunung lain.

Hari mengatakan, salju semakin berkurang dikarenakan perubahan iklim, ditambah letak gletser puncak Jaya berada di daerah tropis yang relatif rendah turut berpengaruh.

“Gletser memiliki mikro ekosistem yang rumit dan sensitif. Sekali mencair, laju penyusutan akan sulit dihentikan,” katanya.

Sekedar diketahui, pada 2010 lalu, gletser puncak Jaya memiliki ketebalan 32 meter, kemudian menyusut sebanyak tujuh meter per tahun. Gletser yang merupakan peninggalan zaman es itu juga merupakan gletser tropis yang rentan pada perubahan iklim.

“Kondisi saat ini, gletser puncak Jaya kurang dari 100 hektare. Padahal dulu 2.000 hektar. Itu menandakan gletser tropis di salah satu puncak tertinggi di dunia yang disejajarkan dengan Puncak Himalaya dan Puncak Andes itu telah kehilangan 85 persen luasnya sejak beberapa dekade terakhir. Gletser-gletser di puncak ketinggian 4.884 meter di atas permukaan laut itu terancam punah, karena pembentukan es tidak ada lagi,” katanya.

Hari juga menegaskan bahwa laju penurunan es meningkat menjadi lima kali lebih cepat hanya beberapa tahun terakhir. Selain itu, hilangnya gletser di puncak Jaya secara perlahan juga disebabkan oleh aktivitas manusia seperti alih fungsi hutan, penambangan dalam skala luas, penebangan hutan untuk pembangunan jalan.

“Solusinya, yaitu menghijaukan kembali hutan yang gundul atau lahan kosong, ini untuk mengurangi emisi gas rumah kaca,” katanya.

Sementara, para ahli geologi dari Ohio State University juga memperkirakan gletser di puncak Jaya terancam hilang karena mencair akibat pemanasan global.

Peneliti senior dari pusat riset Ohio State’s Byrd Polar, Lonnie Thompson, mengungkapkan, es pada puncak Jaya diperkirakan hanya akan bertahan dalam beberapa tahun lagi.

Salju yang menutupi puncak Jaya mulai menyusut beberapa tahun terakhir. Dari hasil citra satelit menunjukkan luasan es di pegunungan itu telah hilang sekitar 80 persen sejak 1936 atau dua pertiga dari ekspedisi ilmiah terakhir yang dilakukan di puncak Jaya pada awal 1970.

Bahkan, Thompson juga mengambil tiga sampel inti es dari Puncak Jaya, diaman penelitian itu merupakan hasil kerjasama National Science Foundation, perusahaan tambang Freeport, serta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Editor : Marwiah Syam

Comment