Perda Kawasan Tanpa Rokok Belum Efektif di Sulsel

MAKASSAR, BERITAPEDOMAN.com – Sudah lima tahun Peraturan Daerah (Perda) Kawasan Tanpa Rokok (KTR) diberlakukan tapi hingga saat ini realisasinya belum efektif dikarenakan sosialisasinya masih sangat minim.

Anggota DPRD Sulsel yang juga Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sulsel, Sri Rahmi, mengungkapkan, Perda Kawasan Tanpa Rokok belum berdampak baik pada masyarakat karena sosialisasinya masih sangat minim.

“Untuk itulah, sosialisasi mengenai Perda ini sangat penting dilakukan kedepannya, supaya penerapan Kawasan Tanpa Rokok lebih efektif lagi,” katanya saat Sosialisasi Kawasan Tanpa Rokok, di Kelurahan Banta-bantaeng, Kecamatan Rappocini, Minggu (1/3/2020) kemarin.

Sri juga menilai tidak fair, jika pemerintah menuntut pelaksanaan Perda, sementara sosialisasi tidak dilakukan.

“Hal inilah menjadi salah satu alasan pelaksanaan kegiatan Penyebarluasan Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 01 Tahun 2015 tentang Kawasan Tanpa Rokok,” katanya.

Sekedar diketahui, Indonesia merupakan negara dengan perokok aktif nomor tiga tertinggi di dunia setelah China dan India. Sementara di wilayah ASEAN, Sulsel tercatat sebagai yang tertinggi dengan jumlah perokok aktif sebanyak 65,19 juta atau setara 34 persen dari total jumlah penduduk Indonesia.

Sementara itu, Aktivis Pemerhati Anak, Rusdin Tompo, menyampaikan, butuh dukungan semua pihak agar Kawasan Tanpa Rokok ini dapat diwujudkan. Apalagi, profil usia perokok belia (usia 9 – 14 tahun) semakin banyak, yakni sebesar 20 persen.

Untuk itulah, pelaksanaan KTR ini akan mendukung program Kota Layak Anak (KLA), Sekolah Ramah Anak (SRA), Lorong Sehat, Kota Sehat dan program-program yang bertujuan memberikan perlindungan bagi anak-anak sebagai kelompok rentan.

“Sesuai prinsip keterpaduan dan perlindungan hukum, maka KTR ini terintegrasi dengan upaya perlindungan anak, termasuk program Jagai Anakta,” katanya.

Rusdin Tompo juga menyarankan agar upaya membangun KTR dilakukan melalui hal-hal sederhana yang langsung bisa dipraktikkan, seperti tidak menyediakan asbak di rumah, juga tidak merokok di hadapan anak-anak bagi mereka yang merokok.

Selain itu, kios, ga’de-ga’de dan minimarket harusnya tidak melayani pembeli rokok dari kalangan anak-anak, serta tidak memasang spanduk dan umbul-umbul yang berkaitan dengan produk rokok.

“Apalagi, dalam Perda tentang KTR, sudah diatur sejumlah tempat yang terlarang, seperti tempat pelayanan kesehatan, tempat proses belajar-mengajar, tempat bermain anak, tempat ibadah, tempat kerja, angkutan umum, tempat umum dan tempat lainnya,” katanya.

Editor : Marwiah Syam

Comment