TANATORAJA, BERITAPEDOMAN.com – Perjalanan hidup sang guru bahasa inggris pendiri Natsir Eco School (NES) sejak 2008 lalu menjadi kisah inspirasi tersendiri.
Betapa tidak, saat menuangkannya dalam nostalgia saat ditemui penulis di kediamannya di Dusun Randanan, Lembang Maroson, Kecamatan Rembon, Kabupaten Tana Toraja begitu mengharu.

Ada air mata, perjuangan, optimis, harapan besar mewarnai perjalanan inspirasi sang pendiri NES sebelum menemui titik cahaya bersua dengan orang-orang yang simpatik melihat perjuangannya.
Alkisah sendiri dimulai, saat dirinya yang masih kanak-kanak telah ditinggal meninggal ayahnya yang mau tak mau Natsir kecil harus berkecimpung dengan kerasnya hidup dengan menyambi disela-sela istirahat sepulang sekolah demi sesuap nasi dan untuk hidup besoknya.
Seiring waktu Natsir remaja semakin bergelut dengan kerasnya hidup, saat dirinya harus menempuh perjalanan lebih 10 kilometer untuk pergi sekolah, dan hidup menyambi serabutan di kota Makale sepulang sekolah saat Menengah Atas yang jauhnya belasan kilometer dari kediaman bersama ibunya tak buatnya putus asa.
Bahkan, asa memiliki pendidikan tinggi terus memacunya, walau akhirnya keinginan kuat untuk melanjutkan kuliah harus tertunda sebelas tahun demi menafkahi keluarganya tak membuatnya berputus harapan untuk merasai bangku pendidikan kuliah suatu hari nantinya.
Cinta yang amat besar terhadap lingkungan dan pendidikan yang membuatnya tak ingin tinggal diam sebagai lelaki Tana Toraja yang terbiasa hidup mandiri membuatnya terus berpacu ingin memberikan arti pada hidupnya dan orang lain.
Apalagi peluang besar di Tana Toraja sebagai daerah tujuan utama destinasi wisata dari berbagai negara, semakin mengasahnya dan menantangnya untuk mampu berbahasa inggris.
Praktek pun dilakukan secara otodidak dengan menyambangi para wisatawan, membuat kemampuannya berbahasa inggris semakin terasah.
Perjuangan keras ingin merasai hidup layak, tak membuat dirinya melupakan masyarakat sekitar. Bahkan, hatinya begitu miris melihat kondisi keterbatasan anak-anak muda dalam berbahasa inggris dan banyaknya di antara para generasi muda putus sekolah karena faktor ekonomi membuatnya langkahnya ingin mendirikan sekolah informal.
Sekolah informal ini sendiri dihadirkan sebagai wujud kepedulian pada masyarakat Rembon, sekaligus wujud cintanya pada pendidikan dan lingkungan.
Walaupun sekolah tersebut, sangat sederhana dan cenderung hampir roboh karena keterbatasan biaya tak membuatnya ingin mengambil retribusi pada murid yang datang belajar. Justru uniknya, Natsir hanya meminta bayaran berupa sampah (lombah) plastik atas ilmu yang diberikannya.
Jalan pengabdian pun semakin benderang, saat seiring waktu dengan semakin banyaknya bertemu orang-orang simpatik yang datang berkunjung yang tak lain adalah wisatawan dari berbagai negara yang ikut andil menyumbang apa saja, termasuk fasilitas, seperti buku-buku, pulpen, pensil dan ilmu.
Hingga akhirnya seorang teman baik yang ditemuinya dalam perjalanan hidupnya mengantarkannya bertemu dengan pihak Pertamina yang memberikan kontribusi besar melalui pembangunan fasilitas kelas NES senilai Rp270 juta, dan memberikan pelatihan tekhnik mengajar dan pengembangan kurikulum dan pengurusan legalitas Natsir Eco School.
Kini keberadaan Natsir Eco School menjadi magnet tersendiri bagi wisatawan dari berbagai negara dan menjadi perhatian orang-orang simpatik pada pendidikan dan lingkungan dan seiring waktu semakin menggema seiring buah manis yang mulai terasa dari perjuangan panjang Natsir, sang guru inspirasi.
Tercatat, sudah hampir 700 wisatawan dari berbagai negara, diantaranya Jerman, Inggris, Belanda, Italia, Polandia, Austria, Belgia dan negara lainnya sudah ikut berkontribusi mengajar. Bahkan, banyak wisatawan tersebut, telah berkunjung lebih lima kali.
Pria kelahiran 26 Agustus 1970 lalu itu di usianya yang hampir senja, dibantu tenaga relawan yang dulu merupakan siswanya sendiri, kini menjadi harapan besar bagi generasi yang ingin belajar bahasa inggris yang terkendala biaya.
Natsir yang ditemui disela-sela kesibukannya, kepada Beritapedoman.com, mengungkapkan rasa terimakasihnya pada semua pihak yang telah banyak membantu.
Kini, siswa yang tercatat ikut belajar saat ini sudah sebanyak 90 anak dari berbagai umur dan latar belakang keluarga, yang hampir semuanya merupakan keluarga menengah kebawah.
Selain itu, juga ada 30 siswa khusus kelas orang tua.
“Jadwal belajarnya sendiri, sebanyak tiga kali seminggu, yakni Jumat, Sabtu, dan Minggu,” katanya pada penulis, Minggu (3/11/2019).
Kontribsui Natsir Eco School sendiri pada lingkungan saat ini, katanya, saat ini sudah berhasil mengurangi sampah plastik di Makale sebanyak satu ton tiap bulannya.
“Dampak yang paling berhasil dan terasa, yakni pengurangan penggunaan limbah plastik dan diganti dengan produk ramah lingkungan,” katanya.
Penulis/Editor : Marwiah Syam
Comment