Berkat Program RISE, Lokasi Kumuh Kini Sudah Layak Huni

MAKASSAR, BERITAPEDOMAN.com – Warga permukiman Batua patut berbangga, pasalnya menjadi penduduk pertama yang memperoleh perbaikan lingkungan dengan infrastuktur air dan sanitasi yang berkelanjutan dari program penelitian aksi global Revitalisasi Permukiman Kumuh dan Lingkungan atau Revitalising Informal Settlements and their Environments (RISE).

Melalui program tersebut, kini permukiman yang dulunya kumuh, kini sudah layak huni.

Sekedar diketahui, program ini merupakan pendekatan RISE yang mengintegrasikan infrastruktur seperti rawa buatan, kebun biofiltrasi, pemanenan air hujan, dan sistem sanitasi lokal berdasarkan septik tank baru yang smart ke dalam bangunan dan lanskap.

Transformasi ini juga sangat membantu masyarakat sekitar, utamanya dalam hal pengadaan toilet.

Perwakilan RISE, Dr Ihsan Latief, mengatakan, program ini berjalan berkat kerjasama dari semua elemen masyarakat Batua.

“Program ini sangat dibutuhkan di permukiman kumuh. Apalagi, ketika lingkungan terkontaminasi, paparan mempengaruhi banyak bagian kehidupan orang-orang yang tinggal di sini. Kami juga bertujuan untuk memberikan perubahan transformative, dan Batua adalah awal dari perjalanan kami,” katanya disela-sela peresmian lokasi percontohan RISE, di RT 1/RW 1, Kelurahan Batua, Sabtu (19/10/2019)

Selain Batua, katanya, rencananya dalam waktu dekat, RISE kembali akan melakukan perbaikan di enam kawasan kumuh lainnya yang diikut sertakan dalam program penelitian ini.

Pj Wali Kota Makassar, Iqbal Suhaeb, mengungkapkan, dengan adanya perbaikan kawasan kumuh pertama di Makassar ini dapat ditindaklanjuti untuk kawasan lainnya, agar dapat menjadikan Makassar menjadi kota sehat, nyaman, dan aman.

“Batua merupakan salah satu kawasan kumuh yang ada di Makassar, dan hari ini kita bisa saksikan upaya perbaikan layak huni. Ada tiga unit mesin pelumat tinja yang dipasang untuk memenuhi kebutuhan septik tank warga sekitar. Ini sudah membantu penduduk,” katanya.

Chief Executive of the Cooperative Research Centre for Water Sensitive Cities (CRCWSC), Professor Tony Wong, mengungkapkan, program ini membawa pendekatan inovatif untuk pengelolaan air perkotaan ke permukiman kumuh.

“Kami secara bersama menandai lokasi untuk tangki tekanan (pressure tank), tangki septik (septic tank), rawa buatan (wetland) dan pipa berdasarkan penggunaan ruang oleh masyarakat. Karena itulah, tim RISE sangat bersemangat untuk masyarakat Batua yang hingga akhirnya kita bisa melihat semua perencanaan menjadi kenyataan,” katanya.

Kelompok Pengelola Lingkungan (KePoLink) Batua, Suneti, mengungkapkan, saat ini telah memiliki toilet dan tempat cuci yang telah direnovasi di rumahnya sebagai bagian dari perbaikan.

“Sebelum direnovasi RISE, toilet kami sangat sederhana. Toilet kami hanya berdinding seng dengan banyak lubang dan hanya bertirai kain. Tidak ada pintu,” katanya.

Perbedaan terbesar sekarang, kata Suneti, adalah bahwa selain nyaman dan bersih, sekarang dirinya sudah dapat menggunakan toilet tanpa khawatir orang lain akan melihatnya dari balik lubang atau tirai.

“Kami tidak khawatir lagi setiap ke kamar mandi,” katanya.

Editor : Marwiah Syam




Comment