MAKASSAR, BERITAPEDOMAN.com – Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel mencatat Sulsel mengalami inflasi sebesar 0,36 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 138,99 pada periode Agustus 2019.


Adapun penyumbang terbesar nilai inflasi Sulsel pada periode tersebut, ditengarai adanya kenaikan biaya pendidikan Perguruan Tinggi, biaya pendidikan SMA atau sederajat, biaya pendidikan SD, cabai rawit, cabai merah, emas perhiasan, ikan layang, udang basah, ikan bandeng, bahan bakar Rumah Tangga (RT).

Kepala BPS Sulsel, Yos Rusdiansyah, mengungkapkan, inflasi yang terjadi di Sulsel pada Agustus ini, disebabkan oleh naiknya harga pada enam kelompok pengeluaran yang ditunjukkan oleh naiknya Indeks Harga Konsumen (IHK) pada kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar 1,54 persen.
Disusul, kelompok bahan makanan yang andil sebesar 0,72 persen. Kemudian, juga disebabkan oleh kelompok sandang yang andil sebesar 0,72 persen.

Sedangkan, kelompok lainnya yang ikut berkontribusi, adalah kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar, kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan, dan kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau, masing-masing sebesar 0,09 persen, 0,06 persen, dan 0,04 persen.
“Kelompok-kelompok inilah penyebab inflasi di Sulsel. Sedangkan, kontribusi tertinggi penyebab inflasi tersebut, kita catatkan paling tinggi itu, ya biaya pendidikan dan harga cabai yang melonjak,” katanya pada Siaran Pers, di Kantornya, Jl Haji Bau, Selasa (2/9/2019).
Adapun, penghitungan inflasi tersebut, kata Yos, didasarkan pada hasil Survei Harga Konsumen yang dilakukan oleh BPS Sulsel pada pasar tradisional dan pasar swalayan di lima kota IHK di Sulsel, yakni Bulukumba, Watampone, Makassar, Pare-pare, dan Palopo.
“Dari lima kota IHK tersebut, hanya empat kota yang mengalami inflasi, yakni Bulukumba, Watampone, Makassar dan Parepare. Dari survei itulah, kita dapatkan sampel penyebab-penyebab nilai inflasi pada periode Agustus 2019,” katanya.
Penulis : Anto | Editor : Marwiah Syam
Comment