MAKASSAR, BERITAPEDOMAN.com – Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulsel memproyeksi pertumbuhan Sulsel dikisaran 6,80 persen hingga 7,20 persen (yoy) pada triwulan III-2019.
Proyeksi ini dikarenakan semakin mendukungnya iklim investasi di Sulsel, terlihat dari pemilihan kepala daerah yang kondusif.
Selain itu, ekspor LN yang tinggi pada triwulan III 2019 juga meningkat seiring dengan pengiriman yang dialihkan dari triwulan II ke triwulan III, karena jumlah hari kerja yang terbatas pada triwulan II 2019.
Meski demikian, penahan pertumbuhan berasal dari kinerja konsumsi domestik, seiring telah kembali normalnya konsumsi rumah tangga pasca HBKN.
Dari sisi lapangan usaha, kinerja LU pertambangan dan penggalian juga diperkirakan akan menjaga pertumbuhan ekonomi Sulsel pada triwulan III 2019 ini, seperti pertambangan nikel matte yang diperkirakan akan menggenjot produksi nikel serta berbagai inisiatif penghematan untuk mempertahankan daya saing perusahaan, dengan target 2019 mencapai 71.000-73.000 MT.
Adapun LU yang menahan perekonomian, terakselerasi berasal dari industri pengolahan dan LU Perdagangan sejalan dengan kembali normalnya aktivitas masyarakat pasca HBKN, serta dampak dari tingginya harga tiket pesawat yang menyebabkan penurunan wisatawan domestik, yang otomatis juga berpengaruh pada perdagangan.
Kepala Grup Advisory dan Pengembangan Ekonomi BI Provinsi Sulsel, Endang Kurnia Saputra, mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi yang tetap tinggi ini didukung oleh aktivitas kegiatan dunia usaha dan optimisme konsumen, dimana hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) Provinsi Sulawesi Selatan mengindikasikan kegiatan usaha pada triwulan III-2019 mengalami peningkatan.
“Tak hanya itu, perkiraan Saldo Bersih Tertimbang (SBT) kegiatan usaha pada triwulan III-2019 ini juga mencapai sebesar 24,2 persen atau meningkat dari realisasi triwulan II-2019 yang hanya sebesar 15,2 persen,” katanya saat Siaran Pers, di Grind and Pull, Jl A. Mappanyukki, Kamis (8/8/2019).
Berdasarkan sektor ekonomi, katanya, peningkatan kegiatan ini diperkirakan terjadi terutama pada sektor Manufaktur atau industri pengolahan dengan perkiraan sebesar 7,3 persen pada triwulan III-2019 ini, dimana kinerja sektor industri pengolahan pada triwulan III-2019 ini diperkirakan masih berada pada fase ekspansi dengan nilai PMI (Prompt Manufacturing Index) pada level 56,4 persen.
“Meskipun, sedikit lebih rendah dibandingkan PMI triwulan II-2019 yang berada pada tingkat 57,5 persen. Optimisme pelaku usaha tersebut, didukung oleh perkiraan meningkatnya permintaan yang berdampak peningkatan volume produksi. Hal inilah yang menyebabkan proyeksi ekonomi tetap tumbuh baik pada triwulan III-2019 ini,” katanya.
Editor : Marwiah Syam
Comment