MAKASSAR, Beritapedoman.com – Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulsel bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) menggelar silaturahmi bersama tokoh organisasi dan lembaga islam menggelar silaturahmi sekaligus ajang edukasi mengendalikan inflasi di Sulsel.
Hal ini dilakukan untuk lebih meminimalisir fenomena kecendrungan naiknya harga-harga, khususnya bahan pokok yang kerap melambung tinggi seiring konsumsi masyarakat yang semakin tinggi saat Ramadhan dan jelang Idul Fitri.
Sekedar diketahui, tekanan inflasi yang tinggi dapat berdampak menurunkan kesejahteraan masyarakat dan berdampak pada perekonomian lainnya, diantaranya daya beli masyarakat yang akan terus menurun, sehingga kemiskinan semakin tinggi, dan mengurangi minat masyarakat untuk menabung, serta mendorong investasi jangka pendek yang bersifat spekulatif dibanding investasi jangka panjang yang bersifat produktif.
Kepala Perwakilan BI Provinsi Sulsel, Bambang Kusmiarso, mengungkapkan, kegiatan silaturahmi dan kerjasama dengan alim ulama dan stakeholder ini merupakan salah satu rangka pengendalian inflasi yang akan menjadi agenda rutin.
“Selain pengendalian inflasi, kegiatan kerjasama ini juga berhubungan tugas BI untuk kemaslahatan umat, seperti pengembangan ekonomi syariah, implementasi keuangan inklusif, dan kemandirian pesantren,” katanya saat memberi sambutan pada kegiatan silaturahmi dan edukasi pengendalian inflasi, di Baruga Phinisi BI, lt 4, Kantor Bank Indonesia Provinsi Sulsel, Jl Jenderal Sudirman, Sabtu (18/5/2019).
Terhadap fokus utama pengendalian inflasi yang akan dilakukan selama Ramadhan dan jelang Idul Fitri ini, kata Bambang, diantaranya menjaga ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, dan komunikasi ekspektasi.
Hal ini sangat dibutuhkan sinergi dari berbagai stakeholders. Apalagi, salah satu komoditi penyumbang utama inflasi di Sulsel, adalah beras dan ikan bolu, dimana komositas tersebut, memiliki andil yang besar terhadap tingkat kemiskinan di Sulsel.
Tercatat, sumbangan beras dan ikan bolu terhadap garis kemiskinan tercatat masing-masing 29,55 persen, dan 3,69 persen untuk wilayah pedesaan dan 19,03 3,25 persen untuk perkotaan.
“Melihat itu, inflasi yang terkendali perlu kita jaga bersama dan menjadi kewajiban kita semua sebagai salah satu prasyarat utama pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dan kesejahteraan masyarakat,” katanya.
Editor : Marwiah Syam
Comment