Pasokan Listrik Andal, PLN Sasar Industri Makro dan Mikro

KENDARI, BERITAPEDOMAN.com – Pasokan listrik PLN Sulselrabar semakin andal tiap waktunya. Salah satu buktinya, yakni sistem kelistrikan Sulawesi Bagian Selatan dan Sulawesi Tenggara telah terinterkoneksi.

Hal itu ditandai dengan tersambungnya ruas transmisi antara Malilili dan Lasusua pada (19/9/2019) lalu.

Dengan terinterkoneksinya kedua sistem ini, daya mampu yang dapat dievakuasi dari sistem Sulsel ke Sultra, adalah sebesar 400 MW.

Dengan interkoneksi ini, maka keandalan sistem kelistrikan PLN secara otomatis juga semakin meningkat. Interkoneksi ini juga tentunya memberi peluang kepada investor untuk berinvestasi tanpa khawatir akan pasokan energi listrik.

Hal ini juga tentunya membuka peluang investasi bisnis dari pelanggan Industri di Provinsi Sulawesi Tenggara.

Melihat hal tersebut, wajar jika kini PLN semakin menyasar industri makro dan mikro.

Bahkan dikabarkan, PT Ceria Nugraha Indotama, perusahaan tambang yang memiliki smelter nikel juga telah menandatangani Surat Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (SPJBTL) layanan khusus Premium Platinum bersama PLN Unit Induk Wilayah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat (UIW Sulselrabar) dengan daya 350 MVA (1/10).

Sekedar diketahui, Rasio Elektrifikasi di Sulawesi Tenggara kini sudah mencapai 97,12 persen. Hal itu juga memproyeksikan pertumbuhan pelanggan besar di Sulawesi Tenggara pada 2025 mendatang, adalah sebesar 710 MW.

PLN juga mencatatkan, hingga kini telah memiliki empat pelanggan industri di Sulawesi Tenggara yang sudah menandatangani SPJBTL dengan keseluruhan total daya sebesar 634 MVA.

General Manager PLN UIW Sulselrabar, Ismail Deu, menjelaskan, saat ini PLN siap melayani kebutuhan listrik investor di Sulawesi Tenggara.

“Kami siap melayani investor kapanpun, dimanapun, dan berapapun dayanya,” katanya melalui rilisnya yang diterima Redaksi Beritapedoman.com, Kamis (17/10/2019).

Selain sektor Industri Makro, katanya, PLN juga menyasar pelanggan Industri Mikro di Sulawesi Tenggara.

Salah satunya konversi energi dari genset ke listrik daya 197 kVA oleh pengusaha penggilingan padi UD Sinar Swastika di Kabupaten Konawe.

“Dengan konversi tersebut, pelanggan dapat menghemat biaya produksi sebesar 30 persen hingga 50 persen setelah beralih menggunakan listrik,” ujarnya.

Pemilik Penggilingan Padi UD Sinar Swastika, Ketut Swastika, mengatakan, keuntungan yang didapatkan selama beralih ke listrik, adalah tidak ada biaya untuk pembelian solar dan pemeliharaan material karena genset sudah di nonaktifkan. “Beban pengeluaran semakin kurang,” katanya.

Editor : Marwiah Syam



Comment