MAKASSAR, BERITAPEDOMAN.com – Pepsodent kembali berkolaborasi dengan Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) dan Asosiasi Fakultas Kedokteran Gigi Indonesia (AFDOKGI) menggelar Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN).

Untuk tahun ini, BKGN ke-10 ini, Pepsodent mengajak seluruh elemen masyarakat bergabung dalam gerakan “Indonesia Tersenyum” dan menjadi “Pahlawan Senyum” untuk membantu membebaskan senyum keluarga Indonesia dari permasalahan gigi berlubang.

Untuk pelaksanaan BKGN di Makassar sendiri, bekerjasama Fakultas Gigi Universitas Hasanuddin (Unhas) dan dilaksanakan di Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) Kandea, mulai Jumat (13/92019) hingga Minggu (15/9/2019).
Division Head for Health and Wellbeing and Professional Institutions Yayasan Unilever Indonesia, Drg. Ratu Mirah Afifah, menuturkan, BKGN ini dilaksanakan rutin tiap tahunnya di hampir seluruh wilayah Indonesia.

Hal ini sebagai jawaban atas permasalahan gigi dan mulut yang masih menjadi masalah besar di Indonesia saat ini.
Hal tersebut, juga dibuktikan dengan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 lalu yang menunjukkan 88,8 persen masyarakat Indonesia memiliki masalah gigi berlubang, dan permasalahan ini juga dialamai oleh 92,6 persen anak Indonesia berumur lima tahun.
Hal ini tentunya sangat memprihatinkan, mengingat kondisi gigi susu sangat mempengaruhi kondisi dan struktur gigi permanen di masa mendatang.
“Karena itulah, melihat masih dibutuhkannya edukasi berkelanjutan bagi masyarakat Indonesia untuk merawat kesehatan gigi dan mulut secara konsisten, maka di BKGN tahun ini, Pepsodent memulai gerakan Indonesia Tersenyum, yang diharap gerakan ini kami dapat merangkul kontribusi dari seluruh lapisan masyarakat Indonesia,” katanya disela-sela kegiatan BKGN, di RSGM Kandea, Jumat (13/9/2019).
Sementara, Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Unhas, Drg. M. Ruslin, memaparkan, kebiasaan masyarakat Indonesia dalam merawat kesehatan gigi dan mulut merupakan tanggungjawab bersama yang masih perlu dibenahi.
Sekedar diketahui, dari hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) di Sulsel pada 2018 lalu, mencatatkan 95,5 persen masyarakat Sulsel belum pernah melakukan pemeriksaan gigi ke pelayanan kesehatan gigi dan mulut.
Sedangkan, masyarakat Sulsel yang memiliki permasalahan gigi tercatat 68,9 persen dan baru sekitar 13 persen yang berkonsultasi ke dokter gigi.
“Oleh karena itulah, dibutuhkan edukasi intensif dan berkelanjutan untuk mengajak masyarakat Indonesia mengubah kebiasaan memelihara kesehatan gigi dan mulut, khususnya wilayah Sulawesi Selatan yang prevalensi permasalahan gigi dan mulutnya menempati posisi kedua tertinggi dalam Riskesdas 2018, yaitu 68,9 persen,” katanya.
Editor : Marwiah Syam
Comment