Perkuat Hilirisasi dan Investasi Berkelanjutan, BI Sulsel Gelar DTM Pinisi Sultan dan Kick Off SSIC 2026

MAKASSAR, BERITAPEDOMAN.com – Sebagai upaya terus mendorong hilirisasi dan penguatan investasi berkelanjutan, Bank Indonesia (BI) bersama Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Selatan (Sulsel) menggelar Dedicated Team Meeting (DTM) Forum Percepatan Investasi, Perdagangan, dan Pariwisata Sulawesi Selatan (PINISI SULTAN) yang dirangkaikan dengan pelaksanaan Kick-Off South Sulawesi Investment Challenge (SSIC) 2026, di Kantor Gubernur Sulsel, Selasa (28/4/2026).

Kepala BI Sulsel, Rizki Ernadi Wimanda, mengungkapkan, kegiatan ini menjadi wadah strategis untuk memperkuat koordinasi dan sinergi antarpemangku kepentingan dalam mendorong transformasi ekonomi Sulawesi Selatan melalui hilirisasi dan penguatan investasi berkelanjutan.

Sekedar informasi, realisasi investasi di Sulawesi Selatan pada tahun 2025 menunjukkan kinerja yang tetap baik, baik dari sisi Penanaman Modal Asing (PMA), maupun Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). Namun demikian, realisasi investasi Sulawesi Selatan yang menempati peringkat ke-20 secara nasional menjadi dasar perlunya upaya penguatan yang lebih terarah di tengah semakin meningkatnya kebutuhan setiap daerah dalam menarik investasi.

“Untuk itu ke depannya, akselerasi investasi di Sulawesi Selatan perlu terus didorong melalui penguatan daya tarik daerah, termasuk perbaikan iklim usaha, penyediaan infrastruktur pendukung, serta peningkatan kualitas proyek investasi. Dan salah satu fokus pengembangan investasi akan diarahkan pada hilirisasi dan pengembangan ekonomi yang berkelanjutan. Hal ini juga selaras dengan tema yang diangkat dalam kegiatan DTM kali ini,” kata Rizki, melalui siaran pers, Kamis (30/4/2026).

Dedicated Team Meeting (DTM) ini, kata Rizki, juga sebagai upaya mendorong peningkatan realisasi investasi dengan menekankan pentingnya sinergi antar instansi dalam menyiapkan Investment Project Ready to Offer (IPRO) yang selaras dengan arah pembangunan nasional dan potensi daerah.

“Kegiatan ini juga dirangkaikan dengan sesi diskusi bersama BKPM mengenai Strategi Mendorong Investasi Berdasarkan Arah Pembangunan Nasional, pemaparan BKPM terkait Upaya Mendorong Investasi Berkelanjutan dan Strategi Hiliriasi Industri Berbasis Dekarbonisasi, serta Danantara Indonesia mengenai Strategi Dukungan Pembiayaan Proyek Investasi Daerah Guna Mendukung Pembangunan Nasional,” kata Rizki.

Rizki, juga mengungkapkan, bahwa saat ini indikator Incremental Capital Output Ratio (ICOR) Indonesia masih relatif lebih tinggi dibandingkan negara peers seperti Malaysia dan Vietnam, dimana hal itu mengindikasikan efisiensi investasi yang perlu terus ditingkatkan. Di Sulawesi Selatan sendiri, tren penurunan ICOR hingga tahun 2025 menunjukkan perbaikan efisiensi investasi, namun tercatat masih lebih rendah dibanding nasional.

Walaupun saat ini, Sulawesi Selatan telah memiliki lebih dari 90 IPRO dan sebagian di antaranya telah berstatus clean and clear (CnC). Namun demikian, realisasi investasi masih menghadapi sejumlah tantangan, antara lain kesiapan proyek yang belum optimal, keterbatasan pemanfaatan skema pembiayaan alternatif, serta masih terdapat proyek yang belum sepenuhnya selaras dengan prioritas pembangunan nasional. Untuk itu perlu terus didorong.

Sementara, Sekretaris Daerah (Sekda) Pemprov Sulsel, Jufri Rahman, mengungkapkan, dalam DTM PINISI SULTAN 2026 ini, disepakati sejumlah rekomendasi dan rencana tindak lanjut, diantaranya yang pertama, adalah penyelarasan proyek dengan agenda pembangunan nasional dengan fokus pada proyek CnC, termasuk penguatan hilirisasi komoditas unggulan Sulsel seperti nikel, tembaga, kelapa, rumput laut, garam, ikan TCT, udang, kakao, dan kelapa sawit. Yang kedua, adalah penguatan kesiapan proyek melalui penyediaan infrastruktur pendukung yang memadai serta jaminan keamanan dan kepastian berusaha guna meningkatkan daya saing proyek. Yang ketiga, adalah pendampingan penyusunan feasibility study (FS) bekerjasama dengan lembaga kredibel untuk meningkatkan kualitas dokumen proyek. Yang keempat, adalah penguatan promosi IPRO melalui forum investasi, one-on-one meeting, dan site visit dengan calon investor potensial, baik domestik maupun internasional. Yang kelima, adalah pengembangan skema pembiayaan alternatif, termasuk penjajakan KPBU, pembiayaan oleh Danantara, optimalisasi kerja sama internasional, serta kemitraan dengan pelaku usaha strategis. Yang keenam, adalah peningkatan kapasitas SDM melalui capacity building penyusunan proposal investasi berstandar internasional guna meningkatkan kualitas project owner.

“Ke depan, sinergi dan kolaborasi antar pemangku kepentingan akan terus diperkuat guna meningkatkan kualitas perencanaan dan kesiapan proyek, mendorong percepatan realisasi investasi, serta memastikan investasi yang masuk semakin produktif, berdaya saing, dan berkontribusi optimal terhadap pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan,” kata Jufri.

 

 

 

Comment