OJK Akan Dukung Industri Hilirisasi di Sulsel

MAKASSAR, BERITAPEDOMAN.com – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 6 Sulawesi Maluku Papua (Sulampua) akan turut serta mendukung industri hilirisasi di Sulawesi Selatan (Sulsel).

Kepala OJK Regional 6 Sulampua, Darwisman, mengatakan, Sulsel memiliki banyak potensi yang bisa dikembangkan menjadi industri hilirisasi, seperti komoditi nikel dan rumput laut.

“Pontensi di Sulsel sangat bagus dikembangkan. Memang saat ini masih kurang, padahal banyak komoditi yang selalu diekspor. Ke depannya, kita pasti akan mensinergikan potensi ini, dan tentunya pasti mendukung pemerintah ke arah kemajuan negeri,” katanya, pada Berita Pedoman, usai Media Briefing, di Social Barn Cafe, Jl Dr. Sutomo, Senin (20/3/2023).

Sebagai informasi, dari data yang dicatatkan mengenai realisasi Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) di Sulsel di sektor industri pengolahan hanya mencapai Rp3,65 triliun dari total realisasi sebesar Rp57,57 triliun pada Desember 2022. Angka ini masih sangat jauh dibandingkan angka realisasi di sektor perdagangan besar dan eceran di Sulsel yang mencapai Rp23,10 triliun.

Sebelumnya, Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi), juga telah meminta OJK turut serta mendukung program hilirisasi yang tengah gencar dilakukan oleh pemerintah dengan bentuk dukungan konkret.

Jokowi, mengatakan, hilirisasi merupakan kunci agar Indonesia bisa melompat menjadi negara maju. Saat ini, pemerintah konsisten mendorong hilirisasi sebagai upaya agar Indonesia bisa keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah. Hilirisasi harus dilakukan dalam berbagai sektor, baik di sektor pertambangan minerba, minyak sawit mentah (CPO), hingga sumber daya alam laut.

“Saya meyakini, hilirisasi memberikan nilai tambah yang berlipat ganda. Makanya tadi disampaikan kepada Ketua OJK mengenai hilirisasi agar diberikan, karena hilirisasi ini akan menjadi kunci bagi negara kita untuk melompat menjadi negara maju,” kata Jokowi, dalam sambutannya saat menghadiri Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan (PTIJK) Tahun 2023 di Hotel Shangri-La, Jakarta, Senin (6/2/2023) lalu.

Jokowi, juga mengingatkan potensi besar yang dimiliki Indonesia yang memiliki wilayah laut seluas 3,25 juta kilometer persegi, dimana berbagai potensi kekayaan alam di dalamya, seperti rumput laut dan aneka ragam ikan yang belum dimanfaatkan semaksimal mungkin, contohnya Indonesia merupakan eksportir nomor 1 komoditi rumput laut tetapi dalam bentuk mentah. Di saat yang sama, Indonesia juga merupakan eksportir nomor 3 karagenan, bahan yang diekstrak dari rumput laut. Di lain sisi, Tiongkok merupakan importir nomor 1 rumput laut, tetapi juga merupakan eksportir nomor 1 karagenan.

“Ini yang harus kita tiru. Kita harusnya menjadi eksportir nomor 1 rumput laut, tetapi juga eksportir nomor 1 karagenan, harusnya seperti itu. Demikian halnya dengan ikan tuna, cakalang, dan tongkol, dimana Indonesia merupakan eksportir nomor 1 untuk ketiga komoditas tersebut. Namun, di saat yang sama Indonesia juga merupakan importir nomor 1 tepung ikan. Apa enggak bisa kita menghilirkan ini, mengindustrialisasikan ikan kita menjadi tepung ikan? Sesulit apa? Kok, sulit banget, sih? Enggak. Kalau kita belum mampu ya gandeng partner,” katanya.

Jokowi, juga menegaskan mengenai hal terpenting dalam hilirisasi, yakni mengintegrasikan beragam komoditas tersebut, baik di sektor minerba, CPO, maupun sumber daya alam hasil laut.

“Untuk itu, sekali lagi saya minta dukungan dari OJK mengenai ini, bagaimana memberikan sosialisasi mengenai pentingnya hilirisasi karena proyeksi dampak hilirisasi dari minerba, migas, dan kelautan bisa sampai angka 715 billion USD dan lapangan kerja yang terbangun bisa 9,6 juta. Besar sekali. Inilah yang akan terus kita kejar,” katanya.

Redaktur : Marwiah Syam Buttterflyrock

Comment