MOROWALI, BERITAPEDOMAN.com – PT Vale Indonesia Tbk bersama PT Bahodopi Nickel Smelting Indonesia (BNSI) meresmikan pembangunan proyek pertambangan dan pengolahan nikel rendah karbon terintegrasi di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah (Sulteng).
Peresmian ini ditandai peletakan batu pertama sekaligus untuk lokasi pertambangan, sekaligus pabrik pengolahan nikel yang berlokasi di Kecamatan Bungku Timur dan Bahodopi. Sementara lokasi pabrik pengolahan berada di Desa Sambalagi, Kecamatan Bungku Pesisir.
Sekedar informasi, proyek Morowali yang akan dikembangkan oleh PT Vale dan mitranya ini berperan penuh dalam pembangunan dan pengoperasian fasilitas pertambangan, dimana PT BNSI yang merupakan perusahaan yang didirikan oleh PT Vale.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko) Republik Indonesia (RI), Airlangga Hartarto, menyatakan, proyek Morowali ini adalah bentuk dari harapan pemerintah demi terwujudnya hilirisasi sumber daya alam untuk memberi nilai tambah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Ini pabrik green smelter pertama yang saya lihat. Berbasis gas LNG, tentu minta dukungan dari Komisi Energi (DPR RI) bahwa ini adalah green energy, green product, dan green mining.
Indikator green economy itu mudah, kita lihat langitnya warna biru atau abu-abu. Kalau langit biru berarti sudah harmoni, hijau, dan baik,” kata Airlangga, melalui siaran pers, Sabtu (11/2/2023).
CEO dan Presiden Direktur PT Vale, Febriany Eddy, mengatakan, smelter yang akan dibangun di Sambalagi ini akan menggunakan teknologi Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF). Dengan dukungan sumber listrik dari gas alam, akan menjadi pabrik yang andal, hemat energi, dan ramah lingkungan.
Tak hanya itu, pembangkit listrik gas alam juga akan menjadi kontributor utama untuk mengurangi emisi karbon dari keseluruhan operasi proyek ini. Apalagi, pengurangan emisi karbon telah menjadi bagian dari peta jalan keberlanjutan PT Vale, dengan target pengurangan emisi karbon hingga 33 persen pada tahun 2030.
Untuk itulah, PT Vale dan mitra mengalokasikan total biaya investasi hingga Rp37,5 triliun dengan kapasitas produksi 73 ribu ton per tahun.
“Kehadiran proyek Morowali ini adalah representasi komitmen kami menjadi produsen nikel yang andal dan berkelanjutan bagi Indonesia dengan jejak karbon terendah. Kami akan membawa praktik-praktik pertambangan terbaik yang dilakukan di Blok Sorowako ke Morowali. Selain menyukseskan program hilirisasi pemerintah, kami juga ingin berkontribusi untuk masyarakat dan bumi kita,” kata Febriany.
Sementara itu, Presiden Komisaris PT Vale dan Wakil Presiden Eksekutif bisnis Base Metal Vale, Deshnee Naidoo, mengatakan, peletakan batu pertama ini memperkuat komitmen kuat PT Vale kepada rakyat Indonesia sambil terus mendorong kemajuan dengan akselerasi yang dilakukan melalui jalur pertumbuhan bernilai miliaran dolar perusahaan.
“Bersama dengan mitra kami yang terhormat, kami bersemangat untuk mewujudkan proyek pertumbuhan yang kritikal yang akan menghasilkan produksi nikel rendah karbon dengan aman dan berkelanjutan serta mendukung rantai pasokan domestik untuk bahan transisi energi dan kendaraan listrik,” katanya.
Sebagai informasi, proyek Morowali, secara keseluruhan di area penambangan dan area pabrik pengolahan, akan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja pada fase konstruksi dan sekitar 5.000 tenaga kerja pada fase operasional.
Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng), Rusdy Mastura, menyatakan, mendukung realisasi terhadap komitmen PT Vale untuk beroperasi dengan memperhatikan lingkungan hidup.
“Saya mengapresiasi pelaksanaan groundbreaking PT Vale. Semoga dapat selesai cepat sehingga memberikan dampak kesejahteraan bagi Provinsi Sulteng, khususnya di Morowali. Terima kasih PT Vale, mari bekerjasama dengan baik untuk meningkatkan pendapatan daerah. Saya percaya PT Vale punya komitmen dalam beroperasi menjaga lingkungan,” ujar Rusdy.
Redaktur : Marwiah Syam Butterflyrock
Comment