MAKASSAR, BERITAPEDOMAN.com – Anugerah kekayaan alam yang melimpah di Indonesia menjadi salah satu potensi besar pertumbuhan ekonomi. Dengan sokongan tanahnya yang subur, menjadikan Indonesia memiliki potensi besar dalam perdagangan hasil pertanian, baik dalam negeri mau pun di pasar internasional.
Sekedar diketahui, Indonesia yang merupakan negara agraria mampu menghasilkan produk pertanian 14,43 persen hingga 15 persen dari nilai domestik bruto. Tentunya dengan posisi itu, semakin menguatkan bahwa sektor agriculture yang berada di Indonesia menjadi salah satu kunci kekuatan ekonomi negeri.
Melihat peluang tersebut, tentunya sektor pertanian harus menjadi perhatian khusus, baik dalam segi produktivitas, hingga biaya produktivitas yang efisien dan tidak membebani para petani serta mampu mengakselerasi dan mendongkrak produktivitas hasil pertanian yang imbasnya bermuara pada pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan para petani.
Dengan dukungan program Electrifying Agriculture yang merupakan inovasi PLN menjadi magnet tersendiri bagi sektor pertanian dan menguntungkan para petani. Pasalnya, program tersebut, selain berkontribusi menggeliatkan ekonomi di sektor pertanian dan mengakselerasi ke arah kemajuan, juga sangat mendukung pertanian yang berkelanjutan yang ramah lingkungan.
Executive Vice President Komunikasi Korporat PLN, Agung Murdifi, mengatakan, program Electrifying Agriculture yang semula merupakan strategi PLN dalam mendorong peningkatan konsumsi kelistrikan, secara tidak langsung juga telah mendorong revolusi mental serta struktural di sektor agrikultur. Modernisasi lewat kelistrikan ini juga telah menghadirkan inovasi bagi pelaku usaha di sektor agrikultur ini.
Program yang berjalan dari Aceh hingga Papua ini semakin menjadikan banyak petani kini beralih dari penggunaan pompa dan mesin penggilingan berbahan bakar diesel ke listrik yang mampu mendorong produktivitas pelanggan dan biaya produksi yang efisien.
Lewat program ini, PLN mencatatkan rata-rata penghematan biaya operasional yang dapat dilakukan pelaku usaha agrikulture dapat mencapai 60 persen. Tentunya angka ini diharapkan semakin memperkuat struktur usaha para petani dan mendorong pertumbuhan ekonomi di sektor tersebut. Tak salah jika program tersebut, menuai angka capaian pelanggan sebanyak 148.290 dengan daya terpasang sebesar 2.553 MVA per September 2021 kemarin.
“Melalui program Electrifying Agriculture tersebut, kami berharap kehadiran listrik di tengah sawah, ladang, tambak hingga peternakan membawa berkah dan mendatangkan kesejahteraan para petani. Kami juga berharap inovasi ini diharapkan mampu mengakselerasi peralihan energi berbahan fosil ke energi listrik yang ramah lingkungan dan efisien, serta memudahkan para petani dalam mendorong peningkatan produktivitas mereka,” katanya beberapa waktu lalu.
Khusus di Sulawesi Selatan (Sulsel) sendiri, program ini juga telah menyasar para petani di Maros yang merupakan salah satu Kabupaten lumbung padi terbesar di Sulsel.
General Manager PLN Unit Induk Wilayah (UIW) Sulselrabar, Awaluddin Hafid, mengatakan, PLN sangat mendukung program Electrifying Agriculture ini karena dapat meningkatkan produktivitas di sektor pertanian. Dengan program ini, selain mempermudah para petani juga mendapatkan penghematan hingga 45 persen tiap hari nya dibanding sebelumnya saat menggunakan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan gas.
Awaluddin juga menyampaikan, hingga September 2021, sebanyak 2. 207 pelanggan di sektor pertanian di Sulselrabar telah beralih menggunakan listrik dari PLN dengan total daya sebesar 150 MVA.
“Ini menunjukkan sektor pertanian berkelanjutan makin menggeliat tumbuh di Sulawesi. Kami harap surplus daya listrik yang dihasilkan PLN semakin tersalurkan lagi hingga ke pelosok yang bermuara pada kesejahteraan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi,” katanya.
Salah satu petani padi di Maros, Ahmad, kepada Beritapedoman.com, mengaku program Electrifying Agriculture dari PLN ini sangat bermanfaat dan memudahkan petani bekerja efisien dan mengurangi biaya produktivitas. “Lebih hemat pakai listrik. Listrik juga selalu tersedia. Beda saat menggunakan gas dan BBM,” katanya.
Penulis/Redaktur : Marwiah Syam
Comment