CILACAP, BERITAPEDOMAN.com – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Republik Indonesia memberikan apresiasi khusus kepada PT Pertamina yang berencana mengembangkan industri bahan baku obat parasetamol dari bahan baku Benzene dan Propylene.
Hal itu disampaikan Direktur Jenderal (Dirjen) Industri Kimia Farmasi dan Tekstil (IKFT) Kementerian Perindustrian RI, Muhammad Khayam saat mengunjungi Kilang Cilacap, Rabu (16/9/2020) kemarin.
Muhammad Khayam, mengatakan, pihaknya sangat mendukung penuh segala upaya pengoptimalan potensi nilai tambah dari pengolahan produk turunan petrokimia guna menjadi bahan baku farmasi, seperti pengembangan bahan baku obat parasetamol.
“Jalinan kerjasama antara Pertamina dengan Kimia Farma yang sudah diinisiasi dalam rangka pengembangan industri bahan baku obat ini diharapkan mampu meningkatkan daya saing industri kimia nasional,” ujarnya melalui rilisnya pada Beritapedoman.com, Jumat (18/9/2020).
Inisiatif yang dilakukan Pertamina, khususnya yang akan dijalankan di Refinery Unit IV Cilacap ini, kata Khayam, sejalan dengan arahan Presiden RI, Joko Widodo, untuk terus meningkatkan kemandirian industri farmasi nasional.
“Sekaligus membantu menurunkan defisit neraca perdagangan Indonesia di sektor farmasi, mengingat 95 persen dari total kebutuhan bahan baku farmasi Indonesia masih dipasok melalui impor,” ujarnya.
Khayam mengatakan, berbagai upaya tengah ditempuh pemerintah demi keberlangsungan roda perekonomian di tengah kondisi pandemi Covid-19.
“Hampir semua sektor industri terkena imbas akibat pandemi, tapi industri farmasi masih mencatatkan kinerja positif karena didukung peningkatan dari permintaan terhadap obat-obatan atau suplemen dalam upaya menghadapi wabah Covid-19,” jelasnya.
Ke depannya, Khayam mengingatkan masih dibutuhkan pemikiran lainnya bagi nilai strategis dari kerjasama pengembangan industri bahan baku obat antara Pertamina dan Kimia Farma ini agar keduanya mendapat manfaat signifikan.
“Selain itu kemandirian Indonesia di sektor industri farmasi merupakan hal yang penting, terlebih dalam kondisi darurat kesehatan seperti saat ini,” ujarnya.
General Manager PT Pertamina (Persero) Refinery Unit (RU) IV Cilacap, Joko Pranoto, mengatakan, sinergi pengembangan bahan baku obat ini berawal dari penjelasan dan kajian yang dilakukan Pertamina.
“Dan kami telah menetapkan bahwa produk petrokimia akan menjadi lini bisnis yang dapat diandalkan di masa depan ketika terjadi transisi energi,” ujarnya.
Menurut Joko, Pertamina memang mencoba mengidentifikasi peluang untuk masuk pada bahan baku farmasi dan logistik.
“Bersama Kimia Farma, kami pun sudah melakukan penjajakan. Bahkan telah dituangkan dalam nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani Direktur Utama PT Kilang Pertamina Internasional dan Direktur Utama Kimia Farma melalui virtual pada akhir Juli lalu,” katanya.
Joko juga mengatakan, Kilang Cilacap mampu memproduksi Benzene dan produk Propylene masing-masing sebanyak 120 ribu ton per tahun dan 160 ribu ton per tahun yang merupakan senyawa hidrokarbon tak jenuh berbentuk gas sebagai bahan baku industri petrokimia.
“Dengan angka ini, kami yakin Pertamina Kilang Cilacap akan mampu menjadi salah satu penopang kebutuhan bahan baku obat,” ujarnya.
Redaktur : Marwiah Syam
Comment