BERITAPEDOMAN.com – Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menyatakan kadar polusi udara di China menurun drastis pasca mewabahnya virus corona alias Covid-19 di Kota Wuhan, China, pada Desember 2019 lalu.
Dilansir dari New Atlas dan CNN Indonesia, Rabu (4/3/2020), data yang dikumpulkan oleh NASA Aura dan satelit ESA’s Tropospheric Monitoring Instrument memperlihatkan bahwa konsentrasi nitrogen dioksida di berbagai wilayah di China menurun drastis.
Penurunan ini terjadi sejak awal 2020 atau sesudah China melakukan karantina terhadap warganya yang terjangkit Covid-19, dimana situasi tersebut, juga membuat kegiatan ekonomi di China mengalami pelambatan.
Sekedar diketahui, nitrogen dioksida adalah produk sampingan dari pembakaran bahan bakar fosil, baik itu batubara, minyak, gas atau diesel, dan dari buangan gas mobil, truk, bus atau pembangkit listrik, serta fasilitas industri lainnya.
Dari aspek kesehatan, polusi nitrogen dioksida dapat menyebabkan masalah pernapasan seperti asma dan infeksi. Sedangkan ketika bercampur dengan bahan kimia lain di atmosfer bisa menghasilkan hujan asam dan terkontaminasi di perairan pantai.
“Ini adalah pertama kalinya saya melihat penurunan dramatis atas area luas untuk hal tertentu,” ujar Fei Liu, peneliti kualitas udara di Goddard Space Flight Center NASA.
Liu mengatakan, penurunan polusi nitrogen dioksida yang drastis ini dimulai di dekat Wuhan, ketika pihak berwenang mulai menutup transportasi masuk dan keluar kota, begitu pun perusahaan di kawasan itu yang menghentikan operasi guna mencegah meluasnya penyebaran virus.
Pengurangan polusi ini kemudian menyebar karena karantina lainnya juga didirikan di seluruh negeri dan langkah-langkah serupa juga diterapkan.
“Tahun ini, tingkat pengurangan lebih signifikan daripada tahun-tahun sebelumnya dan itu berlangsung lebih lama. Saya tidak terkejut karena banyak kota di seluruh negeri jufa telah mengambil tindakan untuk meminimalkan penyebaran virus,” katanya.
Sementara, Ilmuwan kualitas udara di NASA, Barry Lefer, mengatakan, penurunan polusi udara di China di antara 10 hingga 30 persen lebih sedikit dari apa yang biasanya dicatat. Hal itu berdasarkan perbandingan data tahun 2020 dengan data pada 2005 – 2019.
“Selalu ada pelambatan umum di sekitar tahun ini. Data Ozone Monitoring Instrument (OMI) jangka panjang kami memungkinkan untuk melihat apakah jumlah ini abnormal dan mengapa,” ujarnya.
Editor : Marwiah Syam
Comment