Ini Filosofi yang Terkandung dalam Minyak Kutus-Kutus

BERITAPEDOMAN.com – Beberapa waktu lalu, minyak kutus-kutus sempat viral di dunia maya. Namun tak hanya viral, ternyata pembuat produk minyak oles ini juga memiliki filosofi yang terkandung di dalamnya.

Seperti dilansir dari Liputan6.com, Jumat 6/12/2019), Servasius Bambang Pranoto, sang pembuat minyak kutus-kutus, membeberkan filosofi yang terkandung di dalam minyak kutus-kutus.

“Kita menggunakan cara berpikir yang tidak lazim, karena kita telah meninggalkan akar kebudayaan yang diberikan oleh nenek moyang kepada kita,” katanya.

Bambang mengatakan, kebudayaan timur menyatakan bahwa penyembuhan sesungguhnya berasal dari dalam diri kita sendiri, khususnya pikiran.

“Jadi kutus-kutus tidak dibuat untuk menyembuhkan, tapi membangunkan kekuatan kita, agar kekuatan kita bisa menyembuhkan diri kita sendiri,” kata Bambang.

Terkait alasan membuat minyak, kata Bambang, dirinya sengaja memilih membuat minyak oles yang digunakan untuk luar tubuh.

Menurutnya, dalam sejarah kerajaan-kerajaan lampau, tidak ada yang namanya pengobatan oral.

“Karena dulu itu, racun oral sudah kebiasaan. Jadi raja dan semuanya takut oral dan karena perkembangan ilmu pengetahuan dihilangkan, obat beralih ke oral. Dari situlah mulai banyak penyakit-penyakit. Makanya pakai minyak,” katanya.

Untuk bahan dalam minyak kutus-kutus, lanjutnya, Ia menggunakan konsep keharmonisan untuk penyembuhan.

Dia memberikan contoh makhluk hidup yang paling harmonis, yaitu pohon yang tidak perlu bergerak untuk mencari makan. Hanya akarnya saja. Selain itu, yang memasak adalah matahari.

“Jadi kalau kita ingin bikin obat yang harmonis harus semua unsur pohon ada. Akarnya, batangnya, daunnya,” katanya.

Dengan menggunakan minyak untuk menarik sari-sari dari tumbuhan tersebut, Bambang pun membuat minyak kutus-kutus.

Konsep ini serupa ketika seseorang membuat infused water.

“Jadi kutus-kutus itu bukan minyak distilasi tapi minyak infused. Kedua, unsur kutus-kutus adalah unsur bumbu karena 80 persen bahannya dari bumbu,” katanya.

Apabila sebelumnya, Ia menggunakan 49 bahan, saat ini Bambang menggunakan 69 bahan pembuat minyak kutus-kutus.

“Angka ini memiliki keunikan, yaitu serupa dengan yin dan yang,” katanya.

Editor : Marwiah Syam

Comment