Kemelut Sedih Nuraeni sang ‘Pendiri Sekolah Percaya Diri’ Sebelum Berjodoh dengan Pertamina

MAKASSAR, BERITAPEDOMAN.com – Adalah Nuraeni, seorang wanita tangguh, pendiri Sekolah Percaya Diri menjadikan keterbatasannya menjadi kreatifitas yang bernilai banyak.

Sebelum, mendirikan sekolah percaya diri anak, Nuraeni telah melalui banyak cobaan hidup.

Bahkan, telah menjadi janda di usianya yang masih muda. Alhasil, dirinya harus menjadi tulang punggung seorang diri membiayai ketiga putranya.

Berbagai cemohan dan hinaan pun kerap menghampiri dirinya. Bahkan, masyarakat saat itu menganggapnya pembawa sial. Maklum, waktu itu ketika perempuan cepat menjadi janda, dianggap pembawa sial.

Dengan kondisi seperti itu, secara lambat laun juga berdampak pada ketiga putranya, diasingkan dan kerap tidak dianggap.

Melihat kondisi tersebut, hati nurani seorang ibu semakin tercabik-cabik. Di tengah keterasingan tersebut, Nuraeni terus memberikan motivasi pada ketiga putranya dan dirinya untuk bangkit dan melawan keadaan.

Tabir gelap pun mulai terkuak, saat dirinya melihat potensi ekonomi dari hasil laut yang ada di sekitarnya. Maklum, Nuraeni ini sedari dulu tinggal di daerah pesisir pantai, pinggiran Kota Makassar.

Melihat peluang tersebut, dirinya berfikir bagaimana bisa mengolah hasil laut menjadi sesuatu yang menghasilkan.

Dengan mengajak masyarakat sekitar, dirinya terus berusaha membangkitkan perekonomian ibu-ibu rumah tangga di sekitar rumah tinggalnya.

Karena rerata masyarakat pesisir memiliki tingkat ekonomi rendah, alhasil berimbas ke yang lainnya, seperti kekerasan yang kerap menimpa perempuan dan anak di sekitarnya.

Melihat hal itu, dirinya terpanggil untuk mendirikan sekolah percaya diri anak yang difokuskan untuk mengeluarkan trauma, sekaligus membangkitkan kembali kepercayaan diri anak-anak tersebut.

Saat ditemui Beritapedoman.com, Jumat (1/11/2019), Nuraeni mengungkapkan, hal itu dilakukannya karena miris melihat situasi di lingkungannya.

“Saya seperti terpanggil ketika melihat kondisi waktu itu,” katanya seraya mengenang saat itu.

Yang jadi persoalan saat itu, kata Nuraeni, dirinya tak sedikit pun memiliki modal untuk itu.

Melihat keinginan besar itu, nampaknya Tuhan tak ingin berdiam saja. Dipertemukanlah dengan pihak Pertamina MOR VII Sulawesi yang dengan sangat antusias memberikan apresiasi yang luar biasa berupa sarana dan prasarana hingga kini sekolah percaya diri anak tersebut berusia lima tahun.

“Saya sangat bersyukur sekali pada Allah SWT yang telah mempertemukan kami dengan pihak Pertamina. Pertamina sudah seperti keluarga bagi kami dan anak-anak tersebut. Sampai saat ini pun, kami tetap bertahan berkat bantuan Pertamina,” katanya tersenyum haru.

Penulis/Editor : Marwiah Syam

Comment