MAKASSAR, BERITAPEDOMAN.com – Banyaknya statement mencuat di beberapa wilayah Makassar akan langkanya elpiji melon, tak urung membuat kita bertanya-tanya kenapa hal itu bisa terjadi?

Namun, fakta dari hasil penelusuran Beritapedoman.com, justru menemukan hasil nyata bahwa elpiji tidak pernah langka.

Bahkan selalu tersedia dan pendistribusian pun selalu lancar, sesuai kuota di tiap wilayah.
Namun, apa yang menyebabkan statement “Langka” mencuat, bahkan kerap Pertamina disalahkan dalam hal ini, seolah-seolah elpiji yang disalurkan memang terbatas.

Sebelum lebih jauh berprasangka, alangkah baiknya menyimak dari hasil fakta ini.
Penggunaan Elpiji yang Tidak Tepat Sasaran
Dalam hal ini, Beritapedoman.com temukan fakta bahwa salah satu penyebab terbesar sehingga elpiji disebut langka, adalah karena penggunaan elpiji tidak tepat sasaran.
Bahkan, dari hasil survei dicatatkan penggunaan elpiji sesuai peruntukkannya masih dikisaran delapan persen di Sulsel.
Hal itu karena masih tingginya pelaku usaha mikro menggunakan elpiji melon yang bukan peruntukannya. Bahkan terbukti, menggunakan dalam jumlah banyak.
Belum Tegasnya Pemerintah
Tegas dan tidak tegasnya pemerintah dalam menerapkan aturan, sangat relevan dari dampak yang juga ditimbulkannya.
Jika pemerintah belum mampu tegas dalam menerapkan aturan yang dibuatnya, tentunya hal itu juga berimbas pada realisasi dampak yang ingin dicapai.
Masih Banyak Pembeli Elpiji Tidak Tepat Sasaran yang Main Borong
Saya berani bertaruh, hal ini tidak dipungkiri. Bahkan lebih dari tiga kali kesempatan di wilayah berbeda saat Beritapedoman.com melakukan survei, didapati konsumen melakukan pembelian borongan.
Bahkan konsumen tersebut, saat ditanya, dengan enggan dan muka keberatan menolak dimintai keterangan.
Bahkan saat diinfokan mengenai imbauan pemerintah Sulsel mengenai penggunaan sasaran elpiji, malah buru-buru mengendarai kendaraan dengan wajah jengkel.
Saat ini dikonfirmasi beberapa waktu lalu ke pihak ESDM Sulsel dengan menyambangi kantornya, pun tak menampik bahwa kelangkaan elpiji bukan karena kuota yang terbatas, tapi karena menggunakan dalam jumlah banyak, selain relatif lebih murah, kurangnya pengawasan di tingkat pengecer juga mempengaruhi hal itu.
“Kami juga tidak bisa berbuat banyak, karena tenaga kami juga terbatas untuk itu,” kata Jamaluddin, Kabid Pengendalian dan Evaluasi ESDM Sulsel.
Penulis/Editor : Marwiah Syam
Comment