MAKASSAR, BERITAPEDOMAN.com – Sebagai salah satu rangka mendukung pengembangan dan mendongkrak ekonomi syariah di daerah, BI (Bank Indonesia) Provinsi Sulsel menggelar secara rutin Pekan Ekonomi Syariah tiap tahunnya.
Pekan Ekonomi Syariah 2019 ini sendiri, dilaksanakan mulai 16 Agustus 2019 hingga 18 Agustus 2019 di Trans Studio Mall (TSM), Jl Metro Tanjung Bunga.

Kegiatan yang dilaksanakan ini, juga sejalan dengan visi misi Bank Indonesia “Menjadi Bank Sentral yang berkontribusi secara nyata terhadap perekonomian Indonesia dan terbaik diantara negara emerging markets”, dimana salah satu misi tersebut, yakni mengembangkan ekonomi dan keuangan syariah di tingkat nasional hingga di tingkat daerah.
Untuk itulah, guna lebih mendongkrak pengembangan ekonomi dan keuangan syariah secara simultan, sinergitas dari berbagai otoritas dan lembaga sangat dibutuhkan, sehingga berbagai potensi dan peluang yang dimiliki Indonesia, khususnya ekonom syariah di daerah dapat dimanfaatkan secara optimal.

Sulawesi Selatan sendiri, merupakan daerah yang memiliki potensi dan keunggulan tersendiri untuk pengembangan ekonomi halal.
Kendati saat ini, Provinsi Sulawesi Selatan masih menemui beberapa kendala dalam pengembangan produk halal, diantaranya adalah belum tercapainya kesadaran kolektif untuk menjadikan produk halal, baik dari sisi produsen maupun konsumen dalam memenuhi tuntutan kehalalan dalam perspektif agama dan hambatan biaya bagi sertifikasi untuk UMKM.
Bahkan, data LPPOM MUI menyebut, sejak 2012 hingga 2018, hanya 10 persen dari total produk beredar (pangan, kosmetika, dan obat-obatan) yang telah bersertifikasi halal atau hanya sebanyak 688.615 produk, dengan jumlah perusahaan yang bersertifikat halal 55.626 unit, dan jumlah pemegang sertifikat halal sebanyak 65.116 buah.
Oleh karena itu, sertifikasi produk halal juga masih berpotensi untuk dikembangkan.
Mencermati kondisi tersebut, Bank Indonesia bersama berbagai pihak (MES, MUI dan DPRD Sulsel) juga telah menginisiasi perumusan Rancangan Peraturan Daerah tentang Pembinaan dan Pengawasan Produk Halal yang diharapkan menjadi pemantik tumbuh dan berkembangnya industri dan produk halal di Sulawesi Selatan nantinya.
Apalagi, Indonesia sebagai negara muslim terbesar di dunia diharap nantinya tidak hanya bergantung pada impor produk halal, tetapi menjadikan Indonesia juga sebagai pusat produk dan jasa halal dunia.
Karena itu, untuk mencapai visi tersebut, diperlukan penguatan rantai nilai halal (halal value chain), yang di dalamnya terdapat sejumlah industri yang berkaitan dengan kebutuhan masyarakat Muslim yang terbagi ke dalam beberapa klaster, yaitu makanan dan minuman halal, pariwisata halal, fesyen muslim, media dan rekreasi halal, farmasi dan kosmetik halal, dan energi terbarukan.
Kepala Bank Indonesia Provinsi Sulsel, Bambang Kusmiarso, mengungkapkan, pengembangan ekonomi syariah di Indonesia, khususnya di Sulsel sangat penting. Apalagi, potensi yang dimiliki Sulsel sangat besar.
“Melihat kondisi tersebut, sangatlah relevan apabila kami perlu terus mendorong pengembangan ekonomi dan keuangan syariah, sehingga dapat menjadi penggerak utama dan hub pengembangan ekonomi syariah di Kawasan Indonesia Timur,” katanya disela-sela pembukaan Pekan Ekonomi Syariah, di TSM, Jl Metro Tanjung Bunga, Jumat (16/8/2019).
Untuk menunjang pengembangan tersebut, katanya, juga dibutuhkan sinergitas dari berbagai stakeholders dan melalui kegiatan-kegiatan pemantik secara simultan dan berkesinambungan.
Salah satunya, Pekan Ekonomi Syariah ini yang diharap lebih mampu memperkenalkan kepada masyarakat luas akan pentingnya pengembangan ekonomi syariah.
“Untuk mendukung tersebut, kami mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk bersama-sama terus bersinergi dan berkolaborasi dalam upaya pengembangan ekonomi regional berbasis syariah ini,” katanya.
Penulis/Editor : Marwiah Syam
Comment