BI Optimalisasi Penggunaan LCS

MAKASSAR, BERITAPEDOMAN.com – Ketidakpastian ekonomi global yang terjadi ditengah dinamika geopolitik dunia menimbulkan risiko terhadap stabilitas nilai tukar Rupiah. Dominasi dolar Amerika (USD) sebagai mata uang utama internasional dan masih rendahnya penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan internasional menimbulkan risiko global shock yang dapat mengancam stabilitas sistem keuangan dan makroekonomi serta meningkatkan kerentanan eksternal suatu negara.

Untuk menghadapi berbagai dinamika dan tantangan global, Bank Indonesia terus melakukan berbagai inovasi untuk meningkatkan stabilitas nilai tukar Rupiah, memperkuat resiliensi pasar keuangan dometik, serta meningkatkan hubungan perdagangan dan investasi dengan negara mitra. Salah satu inovasi tersebut adalah kebijakan mengoptimalisasi penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan internasional atau sering disebut Local Currency Settlement (LCS).

Sekedar diketahui, LCS merupakan penyelesaian transaksi yang dilakukan secara bilateral oleh pelaku usaha di Indonesia dan negara mitra dengan menggunakan mata uang masing-masing negara melalui bank Appointed Cross Currency Dealer (ACCD) dan sejak tahun 2018, Bank Indonesia bersama dengan pemerintah terus mendorong penggunaan LCS. Saat ini, implementasi LCS telah menjangkau beberapa negara, yakni Malaysia, Thailand, Jepang, dan Tiongkok, menyusul Singapura yang baru saja melakukan penandatanganan MoU pada 4 November 2022.

Pengguna LCS di Indonesia saat ini sendiri, tercatat berjumlah 1.674. Raihan ini meningkat signifikan dibandingkan tahun pertama implementasi yang hanya berjumlah 101. Berdasarkan catatan Bank Indonesia pada Januari hingga Oktober 2022, transaksi LCS secara nasional telah mencapai USD3,46 miliar. Namun demikian, pangsa transaksi LCS terhadap total perdagangan Indonesia dengan negara mitra LCS masih relatif rendah. Hal ini membuat potensi pengembangan LCS secara nasional masih sangat besar.

Deputi Kepala Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel, Fadjar Majardi, mengatakan, salah satu upaya meningkatkan atau mengoptimalkan penggunaan LCS dalam transaksi perdagangan internasional dengan negara mitra, Bank Indonesia menyelenggarakan kegiatan South Sulawesi Economic Forum.

“Kegiatan sosialisasi dan edukasi publik ini merupakan hasil kolaborasi Bank Indonesia dengan Pemerintah, Asosiasi Bank ACCD, Indonesia Foreign Exchange Market Committee (IFEMC), dan instansi terkait lainnya. Sementara para peserta kegiatan yang hadir adalah perwakilan pelaku usaha dan perbankan yang ada di Sulawesi Selatan,” katanya, melalui siaran pers, Senin (8/11/2022).

Adapun keuntungan bagi para pelaku usaha yang menggunakan LCS, kata Fadjar, diantaranya memberikan banyak insentif, bermanfaat sebagai natural hedge agar terlindung dari eksposur gejolak nilai tukar, terutama USD. Tak hanya itu, LCS juga menguntungkan karena biaya transaksi yang lebih murah dan efisien, proses pengiriman dana yang lebih cepat, dan adanya relaksasi threshold transaksi valuta asing. Bahkan para pelaku usaha bisa membuka rekening Rupiah di negara mitra dan mendapatkan pembiayaan untuk perdagangan dan investasi melalui bank ACCD. Selain untuk pelaku usaha, berbagai keuntungan tersebut juga dapat dimanfaatkan oleh nasabah perorangan.

“Bank Indonesia berharap pemahaman dan awareness terkait LCS yang dimiliki para pelaku usaha dan perbankan di Sulawesi Selatan bisa semakin meningkat sehingga dapat memperluas pemanfaatan LCS di daerah dan nasional, sehingga pengurangan ketergantungan terhadap penggunaan mata uang utama internasional dan penciptaan diversifikasi penggunaan mata uang lokal semakin mendukung terjaganya stabilitas sistem keuangan dan pertumbuhan ekonomi nasional,” katanya.

Redaktur : Marwiah Syam Butterflyrock

Comment