Menteri Investasi Dorong Sulsel Kembangkan Green Energy dan Industri Hijau

MAKASSAR, BERITAPEDOMAN.com – Pandemi tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga pada ekonomi dan sosial. Di tahun 2020, ekonomi global termasuk Indonesia juga terkoreksi. Tapi investasi Indonesia di tahun 2020 dengan target Rp817 triliun, mampu direalisasikan Rp820 triliun.

Berkat kerja keras pertumbuhan ekonomi Indonesia yang semakin membaik, memasuki tahun 2021, penguatan pengendalian pandemi juga berhasil mendorong ekonomi Indonesia untuk tumbuh sebesar 7,07 persen (yoy) di triwulan II-2021. Melihat peluang itu, Menteri Investasi RI/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal, Bahlil Lahadalia, mendorong Provinsi Sulsel semakin ikut andil berkontribusi mengembangkan green energy dan industri hijau.

Bahlil mengatakan, program pemerintah saat ini, mengikuti pola dunia yang berubah sangat cepat. Pemerintah harus membuat regulasi sesuai perkembangan global. Di mana green energy dan industri hijau menjadi pilihan ke depannya. Sehingga, pengembangan energi baru terbarukan, kawasan industri hijau ramah lingkungan dan hilirisasi dilakukan.

Kementerian investasi juga telah membuat roadmap bahwa proses hilirisasi sumber daya alam harus dilakukan secara konsisten dalam memberikan nilai tambah. Pada masa keemasan kayu dan batu bara tidak dilakukan hilirisasi. Saat ini, nikel yang juga dimiliki Indonesia begitu sangat menjanjikan dan perlu dilakukan hilirisasi.

“Yang ada saat ini nikel. Saya bilang nikel adalah anugerah Tuhan yang diberikan kepada Indonesia. Tetapi kalau tidak mampu dikelola dengan baik, akan menjadi petaka yang sama ketika kita mempunyai hutan,” katanya, saat acara peluncuran 5G Indosat, di Hotel Sheraton by Four Points, Jl Andi Djemma, Jumat (19/11/2021).

Bahlil menyatakan, nikel sangat dibutuhkan dalam pembuatan baterai mobil listrik. Apalagi Indonesia akan menjadi pemain baterai terbesar di dunia, dan ekosistemnya harus diciptakan dari hulu ke hilir. “Sulsel ini memiliki cadangan nikel yang besar. Kami harap peran Sulsel mewujudkan hal tersebut,” katanya.

Bahlil juga menyampaikan, masa depan Indonesia ada di Kawasan Timur Indonesia (KTI), dan Sulsel adalah representasi dari KTI. Untuk itulah Bahlil mengajak Provinsi Sulsel untuk menangkap peluang investasi yang ada. Apalagi investasii Indonesia tidak lagi bertumpu pada Pulau Jawa, ini dilakukan agar terjadi pemerataan pembangunan dan pertumbuhan.

“Kenapa saya ingin ada pertumbuhan kawasan ekonomi baru dan pertumbuhan ekonomi. Sekedar diketahui, hingga kuartal ketiga 2021, investasi di luar Pulau Jawa itu 52 persen dan Jawa 48 persen,” bebernya.

Sementara, Plt Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman, menyampaikan, sebagai hub Indonesia Bagian Timur, Sulsel memiliki peranan penting. Demikian juga ke depan dalam mendukung kebutuhan logistik bagi ibu kota negara baru, di Kalimantan Timur.

Untuk investasi, Sulsel memiliki potensi yang sangat kuat. Selain memiliki sumber daya alam yang besar, juga memiliki faktor pendukung berupa aksesibilitas dan transportasi yang baik. Saat ini juga memiliki kelebihan listrik dengan kapasitas 580 Megawatt (MW).

Bahkan untuk meningkatkan produksi listrik, utamanya pada energi baru terbarukan, telah dilakukan MoU dengan PLN. Demikian juga hadirnya investasi dengan perkiraan pendapatan Rp2,5 triliun untuk solar cell di wilayah kepulauan. Komitmen investasi dari perusahaan asal Jepang serta rencana UPC Investor untuk memasang PLTB 70 MW fase kedua di Sulsel.

“Harapan kita, menjadikan Sulsel ini sebagai sentra energi terbarukan di Indonesia. Mengurangi emisi karbon,” kata Andi Sudirman.

Redaktur : Marwiah Syam

Comment