BI Dorong Terciptanya Kawasan Syariah di Sulsel

MAKASSAR, Beritapedoman.com – Bank Indonesia (BI) akan lebih mendorong kawasan syariah di Sulsel.

Bentuk dukungan ini sendiri, selain sosialisasi massif, juga lebih mendorong pemangku kepentingan untuk menerbitkan Perda untuk mensahkan regulasi tersebut.

Sekedar diketahui, kawasan syariah atau biasa disebut halal tourism di beberapa negara, termasuk negara-negara non muslim sudah lebih jauh menerapkannya.

Tak hanya karena dibutuhkan, peran ekonomi syariah juga telah menjadi salah satu pendongkrak di beberpa negara maju, seperti Dubai, dan mulai diterapkan juga di negara-negara lainnya.

Kepala Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulsel, Bambang Kusmiarso, mengungkapkan, kawasan ekonomi syariah ini sangat penting. Mengingat, negara Indonesia mayoritas muslim.

Di luar dari itu, potensi ekonomi syariah ini tak hanya berimplikasi pada satu lini saja, namun akan lebih mendongkrak ekonomi dan pendapatan daerah.

“Nah, karena itu perlu didorong, karena ini akan berimplikasi pada peningkatan ekonomi, juga peningkatan wisatawan. Contoh kecil saja di Toraja, potensi destinasinya diakui dunia, tapi kawasan wisata syariahnya belum ada. Ini yang akan kita juga dorong agar regulasinya disahkan. Pengusaha yang mau berkecimpung pun di kawasan wisata syariah ini terbuka untuk siapa saja, karena tujuannya memang untuk meningkatkan ekonomi daerah. Bukan secara person saja. Tapi ini juga harus diwacanakan dan mendapat kesepakatan dari berbagai pihak” katanya pada Beritapedoman.com, disela-sela siaran pers BI, di kantornya, Jl Jenderal Sudirman, Kamis (4/7/2019).

Sementara, Ketua Asita Sulsel, Didi Leonardo Manaba, saat dihubungi via Whats App (WA), mengungkapkan, sangat mendukung langkah BI dalam mendorong terciptanya kawasan syariah di Sulsel.

Mengenai kawasan syariah di destinasi potensial, seperti Toraja. Itu sangat positif dan juga merupakan salah satu keinginan besar wisatawan untuk mendapatkan ketersediaan fasilitas dan restoran halal, dimana sampai saat ini belum terpenuhi.

“Hanya saja hal itu perlu juga dibicarakan dengan masyarakat Toraja, apakah bisa menerima konsep seperti itu atau tidak. Kita juga harus hormati keinginan mereka. Tapi mudah-mudahan hal ini bisa lebih didiskusikan lagi dengan pemangku kepentingan, karena peran kawasan syariah memang sangat dibutuhkan, mengingat wisatawan dari Malaysia, negara-negara Arab juga mengharapkan adanya kawasan syariah di tiap destinasi wisata yang mereka kunjungi, khususnya Toraja,” katanya.

Penulis/Editor : Marwiah Syam

Comment