Menkeu Beri Sinyal Resesi, Ini Dampaknya

BERITAPEDOMAN.com – Menteri Keuangan (Menkeu) Indonesia, Sri Mulyani Indrawati, memberi sinyal resesi yang akan melanda Indonesia dikarenakan perekonomian masih berat untuk bergerak dan keluar dari krisis Covid-19.

Seperti dilansir dari Suara.com dan beberapa sumber, Rabu (23/9/2020), disebutkan proyeksi pertumbuhan Indonesia bahkan diturunkan kembali ke rentang -1,7 persen hingga -0,6 persen sepanjang tahun ini.

Sekedar diketahui, resesi ekonomi terjadi ketika aktivitas ekonomi yang melemah secara signifikan dalam rentang waktu yang cukup lama. Kondisi ini umumnya ditandai dengan penurunan PDB dalam dua kuartal berturut-turut.

Lalu, apa dampak resesi? Berikut penjelasannya. Simak yuk!

Meningkatnya Angka Pengangguran

Resesi biasanya bersifat destruktif dan berpotensi menciptakan pengangguran. Hal ini terjadi karena beberapa perusahaan akan mencoba untuk mengurangi biaya produksi, termasuk gaji pegawai. Alhasil, gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) akan semakin meningkat.

Tak hanya itu, para lulusan baru juga kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan karena perusahaan akan mengurangi perekrutan pegawai baru.

Menurunnya Pendapatan dan Daya Beli

Ketika tingkat pengangguran tinggi, daya beli masyarakat juga akan semakin menurut. Jika daya beli masyarakat menurun, imbasnya akan mengarah pada kebangkrutan di banyak sektor usaha. Dalam kasus resesi 2020, sektor usaha yang diprediksi paling terkena dampak adalah sektor rekreasi dan pariwisata.

Menurunnya Akses Pendidikan dan Kesehatan

Menurunnya pendapatan dan daya beli juga berbanding lurus dengan menurunnya akses layanan pendidikan dan kesehatan. Dampak ini juga akan sangat terasa bagi mahasiswa yang semakin kesulitan membayar uang kuliah serta masyarakat yang tidak memiliki asuransi kesehatan.

Meningkatnya Ketimpangan Ekonomi dan Kemiskinan

Saat menghadapi resesi, ketimpangan ekonomi dan kemiskinan cenderung akan memburuk. Hal ini karena sebagian besar pegawai yang di PHK adalah mereka yang berasal dari kelas menengah ke bawah.

Jika pendapatan kelompok masyarakat kelas menengah ke bawah menurun, tentunya ketimpangan ekonomi akan semakin memburuk. Kondisi ini juga berpotensi memunculkan orang miskin baru dan meningkatkan angka kriminalitas.

Redaktur : Marwiah Syam

Comment